Saturday, August 13, 2022

Benih Lokal Kelas Dunia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Mulyono Herlambang menciptakan berbagai benih sayuran hibrida
Mulyono Herlambang menciptakan berbagai benih sayuran hibrida

Ekspor benih lokal ke Cina, Jepang, dan Korea Selatan, omzet Mulyono Herlambang Rp3-miliar setahun.

Duduk membaca seharian, menimang cucu, dan berjalan-jalan di sekeliling kompleks pada sore hari. Lazimnya itu kegiatan pensiunan sehari-hari. Pendapatan tiap bulan pun bergantung dana pensiun dari pemerintah. Namun, tidak demikian dengan Mulyono Herlambang. Purnatugas dari Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, penghasilan Mulyono justru melejit menjadi Rp250-juta per bulan atau Rp3-miliar per tahun.

Mulyono memproduksi berbagai benih lokal, sebut saja peria, melon, terung, dan mentimun. Setiap tahun, ia mengekspor sedikitnya 400-600 kg benih peria, 200-300 kg benih melon, 100-150 kg benih terung dan mentimun ke berbagai negara Asia timur seperti Jepang, Cina, dan Korea Selatan. Di sana, sekilogram benih peria dan terung dihargai Rp1,2-juta-Rp1,25-juta, sedangkan benih melon Rp4-juta-Rp5-juta per kg. Dari ekspor sebesar itu, Mulyono meraih omzet Rp3-miliar per tahun.

Tujuh kali seleksi

Mulyono Herlambang memasuki pasar industri benih pada 1998 sebelum pensiun. Bukan hal mudah bagi Mulyono untuk mengawali bisnisnya. Hambatan pertama adalah sumber dana. Harap mafhum, dana PNS golongan 3 jelas tak seberapa jika dibandingkan dengan kebutuhan untuk mengembangkan bisnis. Itulah sebabnya istrinya keberatan ketika Mulyono membangun CV Multi Global Agrindo yang memproduksi beragam benih hortikultura.

Pada 2006, Mulyono menghabiskan hampir seluruh dana pensiun sebagai modal memasuki pasar benih. Sumber daya manusia juga masih terbatas ketika ia memulai bisnis itu. Namun, bagi Mulyono selalu ada jalan keluar di balik kesulitan. Ketika merakit varietas baru semangka, misalnya, ia memanen buah itu dan membagikannya secara gratis kepada tetangga. Syaratnya mereka harus mengumpulkan biji buah itu sebagai calon benih unggul.

Mulyono mulai menerapkan ilmunya untuk membuat varietas melon hibrida sejak 1993. Ia mengumpulkan bahan yang dibutuhkan, yaitu berbagai jenis benih melon tanahair. Dari koleksi benih simpanannya, Mulyono menyeleksi berdasarkan penampilan, rasa, dan ketahanan terhadap hama penyakit. Setelah 7-10 kali menyeleksi, ia memperoleh galur murni. Galur-galur murni itulah yang menjadi modal melakukan persilangan. Pada 2003, lahir empat melon berkualitas, yaitu ladika 108 (Lahir di Karanganyar), sumo 28 (Suka Usaha Melon Oke), MAI 116, dan MAI 119 (Melon Asli Indonesia). Bobot MAI bisa mencapai 2,5 kg per buah dan kadar gula 17O briks. Padahal, produktivitas melon lain hanya 1,5 kg per buah dengan kadar gula 80 briks. Karena kualitasnya, pasar swalayan bersedia menampung MAI.

Berbagai penghargaan yang diraih Mulyono
Berbagai penghargaan yang diraih Mulyono

Selanjutnya cara sama ia terapkan untuk memperoleh jenis-jenis tanaman hortikultura lain: peria, mentimun, semangka, dan terung. Ia mengirimkan benih-benih itu sebagai sampel gratis ke petani di berbagai negara, mulai dari Cina, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, dan Uzbekistan. Setelah itu, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Slamet Riyadi, Surakarta, Jawa Tengah itu menunggu pesanan. “Petani biasanya menunggu musim tanam yang tepat untuk menanam benih, menunggu tanamannya tumbuh, dan berproduksi. Kalau hasilnya bagus, baru mereka memesan,” tutur Mulyono.

“Pembeli luar negeri memilih benih produksi saya lantaran menghasillkan produksinya bagus, daya tumbuh tinggi, dan lebih murah ketimbang produksi mereka sendiri,” kata Mulyono. Korea Selatan dan Taiwan sejatinya menguasai teknologi pembenihan, terbukti perusahaan benih asal kedua negara itu eksis di tanahair sejak belasan tahun lalu. Mulyono membuktikan ia mampu memproduksi benih yang tidak kalah kualitas dengan harga lebih murah.

Kualitas menjadi standar produksi Mulyono. Benih yang ia rakit mempunyai tingkat keseragaman 100%, daya berkecambah di atas 95%, dan adaptif di negara tujuan. “Negara Asia timur memiliki 4 musim, sedangkan Indonesia hanya 2 musim. Jadi perlu diperhatikan daya tumbuh dan ketahanan benih saat ditanam di sana,” ujar Mulyono. Produktivitas varietas-varietas itu juga relatif tinggi. Terung teho 555, misalnya, menghasilkan 90 ton per ha dengan populasi 18.000 tanaman. Produktivitas terung nasional hanya 50 ton per ha.

Adu mutu

Keberhasilan itu tidak datang dalam semalam. Ia belajar sejak 1981, dengan mengikuti pelatihan budi daya melon di The Organization for Industrial Spiritual & Cultural Advancement (OISCA) Nishi Nippon Training Center, Fukuoka, Jepang. Dalam pelatihan selama setahun itu, Mulyono mempelajari cara menyilangkan tanaman. Berikutnya, pada 1982, ia mempelajari teori dan praktek rekayasa genetika di YAE NO GEI Breeding Station, Nagasaki, Jepang. Kesempatan berikutnya datang pada 1986, ketika Mulyono dikirim mengikuti pelatihan pembenihan di Taiwan, berkat kerjasama dengan Misi Teknik Taiwan. Pelatihan-pelatihan itu tak sekadar memberi ilmu. Dari sana ia juga menjalin jejaring untuk mengetahui kondisi perbenihan suatu negara, seperti benih yang disukai petani dan berapa kebutuhannya. Informasi itu yang menjadi pedoman Mulyono untuk merakit varietas.

Terung hitam salah satu komoditas yang benihnya diekspor ke Jepang
Terung hitam salah satu komoditas yang benihnya diekspor ke Jepang

Sejatinya Mulyono juga menggarap pasar domestik. Semula petani enggan menanam lantaran tak percaya Mulyono berhasil merakit varietas hibrida. Menurutnya petani lebih percaya pada benih buatan perusahaan modal asing (PMA) di Indonesia. Namun, ayah satu anak itu tak jeri beradu mutu. “Saya buat demplot bersebelahan dengan demplot mereka agar petani bisa lihat sendiri mana benih yang lebih bagus,” ujar Mulyono.

Karakter pantang menyerah mengalir dalam darah pria kelahiran 14 November 1951 itu. Untuk meningkatkan penjualan, ia menimba ilmu pemasaran di Magister Manajemen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, selepas pensiun. Saat itu usianya 56 tahun. “Saya jadi mahasiswa tertua di angkatan,” katanya. Pada 2009 ia berhasil lulus dengan predikat cumlaude, sehingga menambah kepercayaan dirinya menjalankan bisnis.

Mulyono tak hanya membangun kerajaan benih. Ia juga menyemaikan harapan agar petani bangga menanam benih Indonesia. Itu ia buktikan dengan memakai akronim bahasa Indonesia untuk menamakan produknya. Selain MAI (melon asli Indonesia), ada juga teho (terung enak hasil ok), tina (mentimun ini hasil anda), dan tia (tomat Indonesia asli). “Sengaja tidak pakai kata bahasa Inggris meski terdengar keren,” kata Mulyono.

Kini, pria berusia 63 tahun itu sudah melepas sedikitnya 35 varietas, di antaranya 8 varietas melon, 4 cabai, 4 tomat, 3 peria, 3 mentimun, dan 2 oyong. Ia merakit komoditas-komoditas itu di lahan percobaan 12,5 ha yang tersebar di 4 kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Menurut peraih Tanda Kehormatan Satyalencana Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2011 itu, jenis-jenis sayuran itulah yang paling banyak ditanam petani.

Apa yang Mulyono lakukan mematahkan anggapan bahwa sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak memiliki kapasitas dan modal untuk mengembangkan industri pembenihan. Saat kalangan industri benih meragukan kemampuan pembenih nasional, Mulyono sudah menguasai teknologi menghasilkan varietas benih unggul yang menembus pasar mancanegara. (Kartika Restu Susilo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img