Saturday, August 13, 2022

Benteng Perlindungan Lobster Pesakitan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Penampilan fi sik kolam-kolam berukuran 5 m x 5 m itu biasa saja. Tak ada yang istimewa. Bak terbuat dari semen. Air mengalir ke kolam melalui pipa-pipa PVC. Di permukaan air tampak gelembung-gelembung air tanda aerator berfungsi sempurna. Kulit-kulit putih yang ditanggalkan penghuninya terlihat terapung-apung. Jika air kolam dikeringkan, barulah tampak pemandangan yang tidak lazim. Di dasar kolam berserakan ban-ban bekas yang disusun tak beraturan. Di sela-sela ban itu terlihat puluhan bata yang diletakkan tidur dan bertumpuk.

Aksesori-aksesori itu dimasukkan ke dalam kolam sesaat sebelum lobster air tawar Cherax quadricarinatus 5 cm ditebar. Selang 5—6 bulan kemudian, dari 500 lobster yang dipelihara, ia memanen lobster jumbo ukuran 17,5 cm. Biasanya tanpa ban bekas, ukuran lobster produksinya 10—12,5 cm. Teknik yang dipakai para penangkar Australia itu diakui keunggulannya oleh Bejo, peternak lobster asal Jakarta Barat. “Lobster yang berada di dalam ban tumbuh lebih besar dua kali lipat dibanding yang berada di luar ban,” ujar pria pecinta anjing itu.

Mereka sukses membesarkan diri karena ban bekas dipakai sebagai tempat berlindung. Ketika sakit atau moulting alias ganti kulit, para lobster air tawar mengeluarkan bau amis dari tubuhnya. Aroma ini merangsang selera makan Cherax quadricarinatus lain untuk memangsanya. Nah, cekungan yang ada di bagian dalam ban menjadi tempat aman bagi para pesakitan itu.

Tidak hanya itu, suasana gelap yang tercipta karena kehadiran ban membuat lobster lebih rakus. Tak heran jika pertumbuhannya bongsor. “Kalau dalam terang, kadang makannya sulit. Maklum, ia termasuk jenis lobster penakut,” kata pria yang senang melakukan uji coba untuk lobsternya itu.

Dari internet

Ide pemakaian ban bekas muncul setelah ia berselancar di dunia maya. Salah satu situs lobster dari Australia menayangkan teknik pemakaian ban bekas untuk pembesaran lobster. Situs itu menampilkan foto sebuah kolam berbentuk landai. Di lereng-lereng kolam diletakkan ban dalam posisi bertumpuk. Setengah lingkaran ditumpuk oleh setengah lingkaran ban lain, penumpukkan dimulai dari dekat dasar kolam. Dengan demikian, ban yang terdekat dengan dasar kolam cekung itulah yang menjadi landasan untuk tumpukan berikutnya.

Bentuk kolam sengaja dibuat cekung dan keempat sisinya b e r l a p i s s e m e n melandai . B again ini menjadi tempat pelarian lobster tatkala ada pembusukan kotoran di dasar kolam. Pembusukan meningkatkan kadar amoniak, musuh besar udang air tawar. Ketika lobster merasa air tempat hidupnya di dekat dasar kolam mulai tidak nyaman, mereka berenang mendaki tepi kolam yang landai itu, menjauhi dasar kolam.

Kolam lobster di Australia itu berukuran raksasa, 46 m x 12 m atau 50 m x 20 m. Yang kecil ukurannya 13 m x 11 m atau 8 m x 12 m dengan kedalaman 1,5—2 m. Setiap kolam dilengkapi aerator untuk menambah kadar oksigen terlarut. Bejo hanya memiliki kolam berukuran 5 m x 5 m. Itulah sebabnya ia melakukan sedikit modifi kasi. Sejumlah 50 ban tidak ditumpuk setengah lingkaran, tapi dibiarkan berserakkan di dasar kolam. Ruang kosong di sela-sela ban diisi batu bata.

Setiap bagian dalam ban dihuni 1—3 lobster. Daerah batu bata dihuni 1—2 ekor saja. Kerapatan populasi di kolam seluas 25 m2 itu sangat sedikit. Itulah sebabnya Bejo merasa penggunaan ban bekas sangat memakan tempat. Dari 375 lobster yang dipanen, ia hanya memperoleh 100 ekor ukuran 15—17,5 cm. Lobster jumbo itu ditangkap dari dalam ban. Para penghuni wilayah batu bata saat dipanen ukurannya Cuma 10 cm – 12,5 cm.

Untuk menyiasati sempitnya tempat karena kehadiran ban, Bejo memutuskan untuk memodifi kasi ban dengan dibuat lubang dan sekat-sekat yang b e r fung s i s e b a g ai k amar crustaceae tersebut. Namun baru dicoba 5 ban saja, Bejo menyerah karena tingkat kepadatannya dirasa kurang memuaskan.

Jika saja Bejo memiliki lahan yang luas, ia ingin meneruskan penggunaan ban bekas tersebut. Ia yakin cara itu dapat mendongkrak produksi lobsternya, seperti yang terjadi di Australia. Dengan ban bekas, negara Kangguru itu menambah panenan lobsternya dari rata-rata 421 ton pada 1996—1999 menjadi 1.589 ton pada 2004/2005 dengan total pemasukan $20.718 juta. Sebuah obsesi yang sudah terbukti sukses nun jauh di benua lain. (Corry Caromawati)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img