Tuesday, November 29, 2022

Beny Ariawan Riangsa, Metamorfosis Seorang Penganggrek

Rekomendasi

Baru 5 menit kerabat vanili itu dipajang, sepasukan tibum (Polisi Pamong Praja, red) berwajah garang datang menyita. Linangan air mata di wajah Beny menjadi saksi pengambilan paksa atas dendrobium.

Lenyap sudah harapan Beny mendulang untung sebelum kursus dimulai. ‘Saya ngga jadi kursus. Malu, sedih, dan kecewa bercampur jadi satu. Saya langsung pulang,’ tutur kelahiran Karangasem 34 tahun silam itu. Dari pengalaman pada Maret 2000 itulah Beny kapok menjual anggrek ala kaki lima di sembarang tempat. Sebuah tekad terpatri di dada pria berkacamata itu. Suatu hari ia ingin memiliki nurseri sendiri.

Untuk mewujudkan impian itu Beny mulai dengan menjadi pemasok, bukan pengecer. Ia mengambil anggrek yang mengeluarkan kenop (muncul calon bunga, red) dari Jawa Timur dan Denpasar. Tanaman itu dirawat sebulan sampai bunga mekar. Kebun perawatan itu hanya memanfaatkan halaman rumah seluas 150 m2. Saat wartawan Trubus Syah Angkasa berkunjung ke sana 3 tahun silam, kebun itu sangat sederhana. Beny menjual tanaman anggreknya kepada para pedagang tanaman hias di Bedugul. Setiap bulan ia memasok 500 pot beragam jenis anggrek. Itu pada 2000-an.

Kini setiap bulan dari kebun di Karangasem itu dikirim 15.000 pot anggrek berbagai ukuran ke seluruh penjuru nusantara. Sebanyak 75% jenis dendrobium. Sisanya vanda dan phalaenopsis.

Tepi pantai

Metamorfosis Ketemu Lagi Orchid-begitu Beny menamakan nurserinya-dari kaki lima menjadi kebun besar membawa Trubus kembali ke sana. Kesempatan itu datang pada pertengahan Juni 2006. Trubus bersama Handy Halim dan Chawin Hongsunirundon, penyilang anggrek terkemuka di Thailand, meluncur mengendarai Honda CR-V dari Denpasar ke arah timur sejauh 75 km.

Di sebuah jalan aspal selebar 5 m, mobil berbelok ke kanan menuju sebuah gedung bercat putih dengan gundukan karung di depannya. Suara mesin penggilingan padi meraung-raung menyambut kedatangan. Tak ada yang menduga, di balik pabrik penggilingan padi, sebuah rumah bayang seluas ? ha berdiri kokoh.

Rumah bayang ialah bangunan seperti greenhouse, tapi dinding dan atap hanya ditutup shading net. Letaknya di tengah pesawahan dan hanya sepelemparan batu dari tepi pantai. Embusan angin pantai masih terasa hingga ke dalam rumah bayang.

Menurut Chawin, letak kebun di dataran rendah dekat pantai dan dikelilingi sawah itu optimal untuk anggrek. ‘Buat pembesaran dendrobium, ini lokasi yang sangat cocok,’ katanya. Maklum, dendrobium-kecuali jenis D. nobile dan D. cuthberstonii– menyukai daerah panas. Intensitas cahaya pun optimal. Apalagi di daerah pesawahan, ketersediaan air terjamin. Embusan angin juga turut berperan merangsang dendrobium berbunga.

Ganti strategi

Sejak 2 tahun terakhir pasar Ketemu Lagi Orchid terus berkembang. Itu tak lepas dari keberanian Beny untuk mengambil pangsa sebagai pemasok besar. ‘Saya melihat belum ada kebun anggrek di Bali yang bisa memasok secara massal,’ begitu Beny berhitung. Untuk memperluas pasar, alumnus Sekolah Tinggi Teknik, Surabaya, itu bergerilya dari satu pameran ke pameran lain untuk mempromosikan diri. Hampir setiap pulau besar di Indonesia telah dikunjungi sekadar untuk menjajaki pasar.

Di setiap ekshibisi itu, ia berjalan dari satu stan ke stan lain untuk menawarkan diri memasok anggrek. Ia pun aktif berpromosi di media massa tertentu. Dengan cara itu pelanggan berdatangan dari berbagai penjuru nusantara. Itu membuat bisnis Beny tak terpengaruh oleh ledakan bom yang merontokkan dunia pariwisata di Pulau Dewata. ‘Beruntung pasar saya telah terbuka ke luar Bali. Bila tidak, mungkin seperti bisnis grosir barang kelontongan milik keluarga saya. Turun hingga 50%,’ ujarnya. Pasar yang terus membentang membuat Beny kewalahan. Pucuk dicinta ulam tiba, I Wayan Gredeg, Bupati Karangasem dan I Nengah Rimpi, Kepala Dinas Pertanian Karangasem, menggandengnya untuk mengembangkan sentra dendrobium di Karangasem. Sejak 2005 telah terjalin 140 plasma memasok anggrek ke seantero Pulau Bali. ‘Kini konsentrasi saya ke luar Bali. Biar mitra kerja saya yang memenuhi Pulau Dewata,’ ujar Beny.

I Wayan Gredeg dan I Nengah Rimpi juga membantu Beny membangun laboratorium penaburan biji dan kultur jaringan anggrek. Di laboratorium di tengah persawahan itu Beny memproduksi anggrek spesies agar tidak punah. Ia pun memperbanyak anggrek silangan karya pemulia terkenal di Indonesia. Hasilnya lantas dipasarkan ke penjuru nusantara. Beberapa jenis terbaik dibawa ke Thailand untuk dikembangkan di sana.

Saat Trubus berkunjung ke sana, ayah 3 anak itu tengah memperluas nurseri karena populasi tanaman kian memadat. Sebuah metamorfosa yang mengagumkan. Beny boleh menangis di tangan polisi pamong praja. Namun, ia kokoh menghadapi ledakan bom bali. (Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img