Tuesday, November 29, 2022

Berburu Bantal Emas di Tepian Banyumas

Rekomendasi

Praktis warga Alasmalang susah beranjak dari kampungnya. Kini, berkat durian unggul, harta warisan terpendam di sana, jalanan mulus dibangun. Semulus niat mania durian untuk berburu bantal emas di Alasmalang.

Begitulah Alasmalang saat ini. Desa yang dilingkupi 3 desa lain: Karangjati, Kecila, dan Karangsalam, itu semula daerah terisolir. Namun, sejak potensi durian di desa itu terkuak, jalan akses ke Alasmalang dibuka lebar-lebar oleh pemerintah daerah setempat. Aroma kelezatan durian-durian lokal unggul menguar hingga Jakarta, Malang, Kendari, Sumatera, dan Kalimantan Barat. Cita rasa manis dan legit yang tak ada bandingnya membuat durian Alasmalang dicari pasar.

Pantas sejak setahun silam potensi durian golden pillow alias bantal emas mulai tergarap apik. Kebun-kebun durian liar ditata rapi demi mendukung wisata durian saat musim petik tiba. Hutan durian berbatu terjal menjadi lembar kenangan bagi Alasmalang. Kini aspal hot mix membelah desa sentra durian unggul di Banyumas itu.

Ramai terus

Berkendara mobil, Trubus melaju menuju kampung kadu – sebutan durian dalam bahasa Sunda – Alasmalang. Saat itu senja baru saja jatuh. Setelah melewati jalan aspal berliku yang naik turun sepanjang 5 km, Trubus tiba di desa berketinggian 600 m dpl itu. Di sisi kiri-kanan jalan, pohon durian kerap dijumpai di depan rumah-rumah penduduk yang terlewati. Harap maklum, ‘Menanam durian budaya sejak dulu, jadi dipastikan hampir setiap rumah ada,’ tutur Ery Prahasto, kepala Seksi Hortikultura, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Banyumas.

Saat matahari hampir terbenam di ufuk barat Trubus menyinggahi kebun durian Sarno Ahmad Darsono di ujung desa. Bukannya sepi, kedai durian di tengah kebun itu justru kian riuh disambangi pembeli di senja hari.

Setidaknya ada 5 rombongan yang berkunjung ke kedai durian ‘Sarakapita’ miliknya. Tiap setengah jam satu dua rombongan hadir meramaikan. Kebun seluas 2 kali lapangan voli yang dihiasi kolam gurami itu pun tampak sesak dijejali pemburu durian dari berbagai daerah.

Di kebunnya tampak 30 pohon durian setinggi 2,5 – 3 m. Meski diameter batang cuma 25 – 30 cm, sang pohon digelayuti belasan buah di rantingnya. Itu karena pria kelahiran Banyumas itu menerapkan sistem susuan pada bibit duriannya. Bibit diperbanyak dengan sistem kaki empat. Pohon induk ditanam di tengah, di sekelilingnya 4 biji ditumbuhkan. Bila tanaman dari biji telah berumur sekitar 3 bulan, penyambungan tanaman induk segera dilakukan. Hasilnya tanaman terkesan berkaki empat. Selang 2 tahun, tanaman belajar berbuah.

Dari kebun ‘mini’ itulah Sarno rutin menuai ratusan buah dari 30 pohon yang sudah berproduksi. Dari Alasmalang pula pesanan buah lezat anggota famili Bombaceae seakan mengalir setiap musim untuk memenuhi pesanan. Sebut saja Tasam, Yono, Sunarto, Tori, Adam, dan Junaidi, merupakan sederet pekebun durian lain di Alasmalang yang kebunnya tak pernah sepi dari pembeli.

‘Pesanan sudah ada sejak buah masih seukuran kepalan tangan di pohon,’ tutur Sarno. Pantas jika kerap dijumpai durian yang dilekati nama-nama pemesan di permukaan kulit.

Meski begitu Sarno tak merasa kesulitan pasokan. Sebab seluruh pekebun durian di Alasmalang tergabung dalam Paguyuban Petani Durian Unggul Kemranjen (PPDUK) yang saling menopang kebutuhan durian di tiap kebun.

Legitnya selangit

Sejak dulu Alasmalang kesohor sebagai gudang durian lokal unggul. ‘Dulu orang rela bersusah payah menempuh perjalanan demi nikmatnya durian di sana,’ tutur Ery Prahasto.

Sekarang bila datang Desember, pesanan durian matang pohon banyak mampir di kebun-kebun petani durian yang tinggal nun 15 km dari kota Purwokerto itu. Pesanan tak akan terputus hingga Maret menjelang, saat panen king of the fruits sebentar lagi usai.

Selama musim durian, sepanjang jalur Kemranjen – Tangeran penjaja Durio zibethinus berderet menunggu pembeli. Tumpukan raja buah tampak meraja di kios-kios sederhana di tepian jalan. Itu semua ibarat gerbang menuju sentra durian yang sebenarnya; Alasmalang, yang terletak di tengah jalur Kemranjen – Tangeran. Semerbak aroma durian mulai tercium sejak Karangsalam, desa tetangga.

Salah satu jenis unggul yang banyak dicari adalah bawor yang memenangi lomba buah di Kabupaten Banyumas pada 2005 dan mendapat penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional 2004. Durian yang dijadikan maskot Banyumas itu berukuran bongsor 6 – 7 kg per butir, kulit buah kuning, duri tajam, dan mudah dibuka. Ketika dibelah bawor menebarkan aroma wangi. Paduan itu jelas menggugah selera. Trubus pun mencicipi, rasanya benar-benar manis dan legit.

Menurut Sarno induk durian bawor berumur lebih dari 100 tahun di salah satu kebun milik petani. Diameter pohonnya lebih dari 3 m. Namun hingga kini masih sanggup berproduksi mencapai 100 buah per musim.

Bantal emas

Selain durian bawor, Alasmalang gudang beraneka jenis bantal emas. ‘Ada lebih dari 15 macam durian lokal unggul di sini,’ ujar Ery Prahasto dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Banyumas. Sebut saja sibakul, bagong, mitro, krengseng, simimang, ketanda, jingga, oneng, kumbakarna, sikirik, sitokong, dan beberapa jenis lain tanpa nama, tumbuh subur di sana. Sayangnya semua durian itu tak berbuah sehingga Trubus tak bisa turut mencicipi.

Kabarnya kelezatan durian-durian itu berbeda masing-masing jenis. Sibakul istimewa lantaran warna buah kuning cerah dan menarik dengan ukuran mini. Bagong diminati karena ukurannya jumbo mencapai 6 – 8 kg per buah. Bila tergolong mania durian bercita rasa pahit, mitro layak jadi pilihan, kandungan alkohol tinggi menjadikannya kurang manis.

Si manis krengseng makin memikat karena daging buah tebal hingga 2 cm. Ketanda lain lagi, ukurannya kecil, kulit buah tipis, mudah dibuka, dan daging buah empuk. Si jingga menyajikan warna oranye seronok dan kelegitan yang tak tertandingi. Kecantikan durian oneng makin menawan lantaran ketebalan daging dan ukuran biji kecil alias kisut. Para anggota famili Bombaceae itu bisa didapat di kebun-kebun durian Alasmalang, jika pohon tak merontokkan bunganya.

Durian yang banyak dituai musim ini di antaranya jenis monthong, kani, sunan, dan petruk. Jenis-jenis itu berbuah lebat di tiap tempat di Alasmalang. Kelezatannya tak kalah dibandingkan durian-durian introduksi Thailand. Dengan harga Rp10.000 – Rp15.000 per kg, durian Alasmalang terbilang murah dibandingkan durian impor. Pantas jika tamu-tamu yang hadir berwisata tak sedikit pun kecewa meski tak dihidangi durian khas Alasmalang.

Begitu banyak durian unggul di Alasmalang yang selama ini belum dikenal para mania si raja buah. Jika selama ini Anda berburu ke Pandeglang, Jepara, Subang, atau Jonggol, musim durian tahun ini Alasmalang layak masuk agenda tujuan untuk disambangi. Musim buah di sana jatuh pada Desember – Maret. Namun, beberapa jenis masih dapat dinikmati hingga April. (Hanni Sofia)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img