Cendawan Alternaria brassicae menyerang kubis sejak penyemaian hingga menjelang panen.
Trubus — Dwi Mustofa panen 28 ton kubis dari lahan sehektare. Ia menanamnya pada Juli 2019 dengan total populasi 25.000 tanaman. “Biasanya kalau musim hujan lebih rawan terkena bercak daun daripada musim kemarau. Saya sengaja tanam kubis bulan Juli,” kata petani di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dwi beruntung bisa panen dan selamat dari serangan penyakit bercak daun.
Bercak daun memang momok bagi petani kubis seperti Ardy Seno. Petani di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, itu pernah mengalami serangan bercak daun. Ardy mengatakan, “Rata-rata panen kubis yang bagus bobotnya 1,7—2,5 kg per krop. Jika terkena bercak daun dan serangannya cukup parah, bobot berkurang 200—250 g tiap krop.” Harga kubis Rp3.000—Rp5.000 per kg.
Sejak penyemaian

Petani kubis memanen krop—daun yang tumbuh berlapis dari pangkal batang dan berbentuk bulat—pada umur 90 hari setelah tanam. Sebelum pindah tanam, petani menyemai sekitar 18—20 hari dari benih yang sudah berkecambah. Ardy mengamati bercak daun dapat menyerang tanaman anggota famili Brassicaceae itu sejak penyemaian hingga menjelang panen.
Gejala di persemaian yakni damping off seperti rebah semai. Pascapindah tanam, daun tua yang letaknya dekat tanah biasanya terserang bercak daun terlebih dahulu. Menurut pengamatan alumnus Wageningen Academy, Belanda, itu bercak daun tidak menyebabkan susut bobot asalkan krop sudah terbentuk yakni sekitar 35 hari setelah tanam. “Jika bercak daun menyerang daun yang posisinya agak dalam dan krop belum terbentuk, bobot panen biasanya susut,” kata Ardy.
Periset di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Ineu Sulastrini, S.P., menuturkan, bercak daun menyerang daun tua. Namun Ineu membenarkan Brassica oleracea var. capitata rentan terserang bercak daun sejak di persemaian. “Di persemaian, terjadi damping off bila benihnya kurang baik karena cendawan Alternaria brassicae terbawa benih atau tular benih,” kata peneliti bidang hama dan penyakit tanaman itu.
Jika batang mulai mengecil, itulah gejala damping off atau tatalieun dalam bahasa Sunda. Teguh Pratama Puji Pamungkas dari program studi Fitopatologi, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) mengamati bercak kecokelatan melingkar sebagai gejala penyakit bercak daun. Lama-kelamaan lingkaran bercak membesar dan menyebabkan lubang.

Penyebabnya cendawan Alternaria brassicae. Keparahannya mencapai rerata 18,7%. Cendawan lain A. brassicicola menimbulkan bercak dengan warna lebih hitam. Ineu menyarankan petani merendam benih dengan air hangat 50ºC selama 30 menit. Perlakuan benih itu mencegah infeksi A. brassicae saat penyemaian. Selain itu, pertahankan bibit yang sehat saja.
Penanganan
Jika bercak daun terdeteksi setelah pindah tanam, segera buang dan sulam dengan bibit yang sehat. Rekomendasi Ardy, aplikasikan fungisida ketika bercak daun menyerang tanaman berumur lebih dari 14 hari setelah tanam. “Tanaman berumur kurang dari 14 hari setelah tanam, cabut saja dan sulam dengan bibit baru lantaran hitungan biaya lebih sesuai,” kata CEO Mastagiri Agro Sinergi itu.
Penyemprotan fungisida 3—4 hari sekali saat musim kemarau. Ardy mencegah dengan menyemprotkan fungisida sekali sepekan. Hal serupa dilakukan Dwi. Ia menyemprotkan fungisida 3 hari sekali saat musim kemarau.

Soha Sabry dan tim dari Plant Pathology Department of Zagazig University, Zagazig, Mesir menguji keefektifan tiga jenis fungisida terhadap serangan A. brassicicola. Adapun jenis fungisida yang diuji yakni score 250 EC, diathane M-45, dan copper 50%. Riset Soha dan tim membuktikan fungisida diathane M-45 paling efektif untuk mencegah insidensi serangan A. brassicicola hingga 100%. Fungisida lain, score dan copper hanya mampu mencegah insidensi sebesar 33,19% dan 14,48%.
Ketika kubis terinfeksi cendawan, diathane M-45 mampu mengurangi sporulasi cendawan brassicicola sehingga menekan keparahan bercak hitam yang muncul. Kubis dengan diathane keparahannya 42,39% sedangkan score hanya 25,99% dan copper cukup besar 47,40%. Soha menyimpulkan diathane M-45 efektif untuk pencegahan dan pengendalian serangan A. brassicicola.
Pilihan lain untuk infeksi A. brassicae pada kubis yakni Antracol 70 WP dan Previcur-N 722 SL. Antracol terbuat dari bahan aktif propineb 70%. Fungisida itu hanya bekerja pada bagian yang tersemprot alias fungisida kontak. Konsentrasi penyemprotan tinggi yakni 1,5—3 g per liter. Bahan aktif Previcur adalah propamokarb hidroklorida dengan konsentrasi 722 g per liter. Previcur tergolong fungisida sistemik berbentuk larutan dalam air. Dosisnya 1,5—3 ml per liter.
Kedua fungisida produksi PT Bayer Indonesia itu juga mengatasi penyakit rebah bibit karena Pythium sp. Sebetulnya bercak daun tidak terlalu memusingkan petani menurut pengamatan Ineu. Namun, berdasarkan pengalaman Dwi Mustofa, petani dapat mengalami gagal panen bila A. brassicae menyerang bersamaan dengan busuk batang saat curah hujan tinggi. (Sinta Herian Pawestri)
