Tuesday, November 29, 2022

Berebut Corydoras untuk Ekspor

Rekomendasi

Selama ini Budiarti rutin memasok 8.000-12.000/bulan corydoras ke eksportir di Pamulang, Tangerang. Setoran itu didapat antara lain dari 100 indukan. ‘Jumlah itu masih kurang untuk mendapat ribuan ikan,’ ujar Yatie. Karena itu, ia menghimpun beberapa plasma. ‘Sudah ada plasma saja, seringkali permintaan belum dapat terpenuhi,’ ungkapnya. Maklum saat pasar ramai, permintaan bisa mencapai 2 kali lipat.

Pantas jika Yatie telaten merawat ikan famili Callichthyidae itu. Proses perkawinan dan penetasan telur dilakukan di akuarium berukuran 1 m x 0,5 m x 0,3 m. Setiap 3 jantan disandingkan dengan 1 betina. ‘Ada sekitar 50 akuarium yang dipakai,’ ujar mantan karyawan perusahaan film itu.

Indukan akan mengeluarkan telur 2 bulan kemudian. Jumlahnya berkisar 200-500 butir, yang menetas 3 hari berikutnya. Burayak-burayak itu lalu dipindahkan ke kolam pembesaran. ‘Panen diatur setiap minggu sekitar 2.000-3.000 ekor, agar kontinuitas ?terjaga,’ tambahnya. Sebab itu, produksi anakan tidak dilakukan serentak.

Hal serupa dilakukan Mista di Ciampea, Bogor. Permintaan 15.000 ekor/bulan Corydoras albino dari eksportir di Bekasi membuatnya kelabakan. Walaupun sudah mengandalkan 4 kolam tanah ber-ukuran 6 m x 7 m x 0,5 m, berkapasitas produksi 30.000 ekor/bulan, tapi tidak mudah mengatur produksi.

Kolamnya yang terletak di tempat terbuka menyebabkan kondisi air, ter-utama pH, cepat berubah. ‘Kondisi itu membuat induk sedikit bertelur,’ tambah ayah 2 putri dan 1 putra itu. Akibatnya ia hanya mampu menyetor 10.000 ekor/bulan. Bahkan bila cuaca sedang tidak mendukung seperti hujan, Mista cuma memasok 1.000 ekor/bulan.

Jenis langka

Menurut Rudi W di Bandung, eksportir menyukai corydoras dari jenis langka. ‘Selain mahal, warnanya juga cantik,’ ujar pemilik Atlantik Aquarium itu. Contohnya Corydoras adolfoi. Ikan asli Brazil yang memiliki tubuh berwarna perak dengan bercak-bercak kehitaman itu banyak diincar eksportir. Permintaan mencapai 10.000-15.000 ekor/bulan. ‘Tapi karena barangnya tidak ada, saya hanya memasok 1.000 ekor saja,’ tambah Rudi.

Langkanya adolfoi disebabkan proses penangkaran yang relatif sulit. Jenis itu menginginkan air mirip habitat aslinya. Tingkat keasaman harus 7,2, hardness 10, dan suhu 26?C. Bila salah satu syarat tidak terpenuhi, tingkat kematian burayak tinggi. Selain itu, telur pun bisa gagal dibuahi sehingga paling banter dalam satu kali pemijahan hanya diperoleh burayak 1/3 dari jumlah telur. Peternak yang berhasil memijahkan jenis ini pun bisa dihitung dengan jari. Karena jumlahnya terbatas, harga melambung tinggi. Ikan ukuran 1,5 cm dihargai Rp20.000/ekor.

Pamor naik

Tidak dipungkiri pamor corydoras kini mulai menanjak kembali. Beberapa jenis dari 80 spesies yang teridentifikasi seperti corydoras albino, sterbai, panda, dan rabauti sudah berhasil ditangkarkan di tanahair. ‘Permintaan dari beberapa negara di Eropa dan Asia sangat banyak,’ ujar Bima Saksono, operation director PT Lovina Laras, Cibubur, Jakarta Timur.

Negara-negara itu umumnya meminta pasokan sampai 10.000 ekor/bulan. ‘Kebanyakan meminta jenis-jenis mahal seperti adolfoi dan barbatus,’ tambah alumnus Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Ia hanya dapat mengirim sekitar 5.000 ekor/bulan Corydoras aeneus, sterbai, dan adolfoi.

Nasib sama dialami Mohammad Saldi, pe-milik Javana Aquatic di Cimanggu, Bogor. Pesanan dari negara-negara Saudi, Eropa, dan Australia mengalir kencang. Masing-masing minta dipasok 10.000-20.000 ekor/bulan. Jenisnya pun beragam: panda, sterbai, dan adolfoi. ‘Belum sanggup memenuhi semua karena barangnya sedikit,’ ujar alumnus Fakultas Teknik Elektro Sekolah Tinggi Telekomunikasi (STT) Telkom, Bandung, itu.

‘Corydoras banyak disukai karena bentuknya menarik,’ ujar Peni Syanti, dari Koperasi Perikanan Kota Bogor (KPKB). Ikan ini banyak disukai konsumen mancanegara karena bisa mengisi aquascaping lantaran tidak kanibal. Jadi, bisa digabungkan dengan ikan hias jenis lain seperti tetra.

Perawatannya pun relatif mudah dan tidak memerlukan tempat besar. ‘Akuarium kecil berukuran 1 m x 0,5 m sudah cukup,’ kata Peni. Akuarium tidak perlu dilengkapi hitter. Keunggulan lain, ‘Ia tahan white spot,’ ujar alumnus Akademi Wiraswasta Dewantara di Jakarta itu. Dengan semua keunggulannya itu, wajar jika lahan seluas 500 m2 di Ciseeng milik Budiarti tidak pernah sanggup memenuhi permintaan pasar. (Lani Marliani)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img