Monday, August 15, 2022

Berguru pada Kerajaan Tanah Rendah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Meja itu bergerak terus sampai di hadapan para pekerja yang siap menyortir tanaman. Sementara pot-pot hitam meluncur menuju lantai 2. Di dekat situ ada juga tumpukan pot-pot putih kosong berbaris di atas sebuah ban berjalan. Mereka bergerak perlahan menuju semacam panel berbentuk prisma tanpa alas yang didirikan. Lalu, plup! Baris pertama ditarik masuk ke dalam panel itu.

Kemudian sebuah tangan mungil-hanya terdiri dari 1 ‘jari’ berwarna biru dengan ‘kuku’ merah-mendorong pot paling bawah ke dalam lubang di dalam mesin berbentuk lingkaran. Lingkaran itu segera berputar ketika lubang terisi pot. Begitu seterusnya ketika pot lain turun. Seorang pekerja dengan cekatan mendorong media peatmoss di atas lingkaran dan bibit masuk ke pot. Pot berisi tanaman kemudian pindah ke meja besi yang bergerak masuk ke dalam nurseri. Itulah cara kerja di nurseri milik Martin Toledo di Westland, Rotterdam, Belanda.

Di dalam nurseri pun tak sepi dari aktivitas. Sederet sprinkler memuntahkan kabut air lembut secara berbarengan. Itu proses penyiraman sekaligus pemupukan. Pada hari yang sangat panas tirai semacam sunscreen bergerak menutup langit-langit greenhouse. Tujuannya supaya tanaman bebas sengatan matahari. Berbarengan dengan itu, jendela di atap perlahan membuka. Udara panas yang terperangkap di dalam pun menghambur keluar.

Sebaliknya jika suhu drop-misal pada musim dingin jendela menutup. Bila suhu belum kembali ke posisi ideal, pipa-pipa besi di bawah meja tanam mengeluarkan panas tambahan. Saat musim salju lampu-lampu ultraviolet yang menggantung di langit-langit greenhouse menyala selama minimal 4 jam. Biasanya mulai pukul 04.00-08.00 pagi. Dengan penerangan tambahan tanaman mendapat periode cahaya seperti pada musim panas. Supaya cahaya tidak lari keluar, berlembar-lembar tirai-beda dengan tirai penahan panas-menutup langit-langit greenhouse.

Program pintar

Semua aktivitas itu berjalan sendiri di bawah kontrol 2 komputer di dekat gudang sortir. Ya, nurseri dendrobium seluas 3 ha itu menerapkan teknologi robotik dalam mengelola kebun. Dengan program tertentu satu komputer mengawasi pergerakan tanaman di nurseri. Sementara komputer lain mengatur penyiraman, pemupukan, pengeluaran panas dari pipa-pipa besi, pun kegiatan membuka tutup jendela dan tirai. Cukup seorang operator mengeklik perintah tertentu di komputer.

Teknologi serupa Trubus saksikan di nurseri lain. Sebut saja Moby Flower yang memproduksi krisan dan Anthura-gudangnya anthurium bunga. Di Anthura, rangkaian anthurium bunga meluncur masuk ke sebuah mesin. Begitu keluar buket itu sudah terbungkus plastik vakum. Bukan tanpa alasan para empunya nurseri mengoperasikan sistem robotik. ‘Teknologi ini menghemat biaya, menghemat tenaga kerja, dan membuat proses kerja jadi lebih mudah,’ papar Gertjan van Staalduinen dari Logiqsagro, penyedia teknologi robotik. Sebelum mengaplikasikan teknologi itu, Martin butuh 40 pekerja untuk mengelola 3 ha nurseri. Sekarang 12 orang.

Embrio teknologi robotik itu sejati berumur 20-30 tahun silam. Tatang Hadinata ingat pertama kali berkunjung ke Belanda pada 1980-an nurserinurseri besar sudah mengadopsi teknologi berbasis komputer. ‘Antara lain mengontrol suhu dengan membuka dan menutup jendela di atap greenhouse secara otomatis,’ ujar pemilik nurseri Saung Mirwan di Bogor itu. Pun meja yang bisa digeser di dalam nurseri. Keuntungan sistem itu, lahan bisa optimal dimanfaatkan untuk produksi.

Sepuluh tahun terakhir teknologi otomatisasi itu terus berkembang. Kini hampir semua aktivitas produksi dikontrol dengan program komputer-fully automatic system mengutip sebutan Gertjan. Menurut Gertjan, saat ini 85% konsumen teknologi robotik Logiqsagro adalah nurseri di Belanda. Sisanya negara lain di Eropa dan Amerika. Di Koninkrijk der Nederlanden-nama resmi Belanda, artinya Kerajaan Tanah-tanah Rendah-ada 2 perusahaan besar lain penyedia teknologi robotik.

Tatang mengamati, Belanda memang terus menelurkan teknologi-teknologi baru. Misalnya, greenhouse. Pada era 1980-an tingginya rata-rata 4 m. Lalu naik lagi menjadi 5 m. Sekarang rata-rata setinggi 7-7,5 m. ‘Penambahan tinggi itu disesuaikan kondisi iklim sekarang yang lebih panas,’ ujar Henk van Staalduinen, pekebun senior di sana. Dengan greenhouse yang tinggi suhu di dalam relatif stabil dan seragam sehingga pertumbuhan dan kualitas tanaman lebih baik.

Jangan tiru persis

Pantas jika negeri Kincir Angin itu jadi kiblat kemajuan di bidang hortikultura. Sebut saja teknologi irigasi tetes yang sekarang lazim dipakai di tanahair. Riset yang kuat pun membuat Belanda menguasai pasar benih. Toh, ‘Meski Belanda barometer teknologi, tapi tidak bisa 100% ditiru. Harus ada penyesuaian dengan kondisi di sini,’ tuturnya.

Beberapa tahun silam ada sebuah nurseri di Depok, Jawa Barat, membangun greenhouse ala Belanda. Kontruksi berbahan kaca, atap berjendela, plus teknologi serbaotomatis mentah-mentah ditiru. Hasilnya, jendela tidak pernah menutup karena suhu di Depok selalu panas. Akhirnya greenhouse itu terbengkalai. Padahal investasi teknologi robotik mahal. Pantas di negeri Ratu Beatrix pun penggunanya adalah perusahaan-perusahaan besar. Toh Martin Toledo berani berhitung investasi yang dikeluarkan di nurserinya segera kembali.

‘Ketika produksi sudah optimal-targetnya 1-juta bibit/minggu, red-dalam 10 tahun investasi kembali,’ tegasnya. Dari Kerajaan Tanah-tanah Rendah kita perlu belajar. (Evy Syariefa/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img