Sunday, November 27, 2022

Berkah dari Cermin

Rekomendasi

Jarak antarcakram padat 3 m. Selain cakram padat, pekebun di Desa Koto Panjang Lampasi, Kecamatan Payakumbuh Utara, Kotamadya Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat, itu juga meletakkan cermin di bawah kanopi tanaman. Pada siang hari sinar matahari yang terik itu memantul ke kaca dan cakram padat. Yondri berkeyakinan pantulan panas itu mencegah serangan hama dan penyakit. Tambahan panas membuat temperatur lebih tinggi dan kelembapan lebih rendah sehingga hama dan penyakit enggan berkembangbiak.

Terbukti serangan hama dan penyakit sangat minim. Karena tanaman sehat, cabai pun berbuah lebat. Yang menggembirakan lagi, dari 500 tanaman varietas lokal yang ia budidayakan pada 2005 itu, 2 di antaranya berbuah lebih lebat dan panjang: rata-rata 33 – 35 cm. Panjang cabai biasa rata-rata 15 – 20 cm. Pria kelahiran 30 Juli 1965 itu lantas menyemaikan cabai berukuran panjang itu. Bibit cabai itu ia tanam lagi, tanpa cermin dan cakram padat. Keduanya ia ganti dengan mulsa plastik hitam perak. Hasilnya luar biasa, ukuran buah seragam: besar dan panjang 33 – 40 cm. Sebuah varietas unggul lokal pun akhirnya ditemukan Yondri.

Menurut Drs Sudjino MS, ahli fisiologi tumbuhan dari Universitas Gadjah Mada, panjangnya ukuran buah cabai mungkin karena mutasi atau ploidisasi yang mengakibatkan jumlah kromosom meningkat. Ketika Yondri merilis varietas temuan itu pada Februari 2008, Josrizal Zain, walikota Payakumbuh, memberi nama kopay. Sebutan kopay – akronim dari Kota Payakumbuh dan Yondri.

Mahal

Karena berukuran panjang, harganya jadi lebih mahal. Di Koto Panjang Lampasi, Kecamatan Payakumbuh Utara, harga sekilo kopay Rp20.000 – Rp22.000, lebih mahal Rp5.000 dari harga cabai biasa. Artinya laba pekebun kopay bakal berlipat-lipat karena produksi dan harga jual sama-sama tinggi. Syahrul Yondri dan Masrial, misalnya, mengebunkan kopay di lahan 20 hektar. Populasi per ha 12.000 tanaman berjarak tanam 40 cm x 50 cm. Pada umur 90 hari cabai panen perdana. Hingga panen terakhir pada umur sekitar 200 hari, Yondri menuai 1,4 kg per tanaman atau total 16,8 ton/ha.

Dengan harga jual antara Rp22.000 per kg, maka omzet mereka Rp369.600.000. Menurut Masrial biaya produksi per tanaman hanya Rp3.500. Dengan demikian laba bersih mereka mencapai Rp327.600.000 per ha. Hingga kini Yondri sudah berkali-kali menanam kopay. Malahan varietas itu menyebar hingga ke Pekanbaru, Riau, dan Medan, Sumatera Utara. Produktivitas kopay ternyata stabil, 1,4 kg per tanaman.

Kopay bukan satu-satunya cabai dengan produksi menjulang. H Fendi, pekebun di Jampang, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, misalnya, memilih new emperor. Ia menanamnya di lahan 1 ha. Sosok varietas baru keluaran PT Tunas Agro Persada itu menjulang: tinggi hingga 200 cm. Tak heran kalau saat panen harus menjinjitkan kaki untuk memetik Capsicum annum itu. Total produksinya pun mencapai 1,3 kg per tanaman. Bandingkan dengan tinggi rata-rata cabai, 80 – 100 cm dan roduksi 0,7 kg per tanaman.

Fendi mengebunkan cabai jangkung di atas guludan 1,2 m x 15 m. Di atas guludan itu ia menanam bibit berjarak tanam 60 cm x 60 cm. Populasi 14.500 tanaman per ha. Bandingkan dengan populasi cabai pendek yang rata-rata 16.000 – 18.000 per ha. Meski populasi cabai jangkung lebih rendah, tetapi produktivitas tetap tinggi. Mari tengok Fendi yang menuai cabai pada akhir 2007. Hingga panen terakhir, Fendi menuai 1,37 kg per tanaman. Artinya total jenderal produksi mencapai 20 ton.

Saat itu harga jual Rp14.000 per kg sehingga omzet Fendi Rp280-juta. Menurut dia biaya produksi Rp3.000 per tanaman. Dengan populasi 14.500 tanaman, modal yang dikeluarkannya hanya Rp43.500.000. Pekebun yang juga membudidayakan cabai jangkung adalah Darussalam. Pekebun di Desa Bantarwaru, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, itu mengebunkan 3.500 tanaman di lahan 4.000 m2. Darussalam baru pertama kali menanam cabai jangkung itu. Menurut mantan pegawai bank itu produktivitas cabai mencapai 1,5 kg per tanaman.

Rompes

Menurut Ir Nurjaya, dari PT Tunas Agro Persada, new emperor secara genetis memang mampu tumbuh tinggi mencapai 2 m. Namun, agar tanaman tumbuh menjulang pekebun harus merompes alias membuang tunas air yang tumbuh di sekitar batang utama. Tunas air adalah tunas yang tumbuh di batang pokok, cabang primer, maupun cabang sekunder yang mengarah secara vertikal. Bila tunas ini dipertahankan melainkan melebar.

Itu terbukti pada new emperor yang ditanam Darussalam di Cibeber, Cilegon. Tanpa dirompes, tinggi tanaman hanya 100 cm. ‘Bila tunas air dibuang, pertumbuhan jadi terkonsentrasi pada bagian batang sehingga tanaman tumbuh tinggi,’ kata Nurjaya.

Varietas lain yang berproduksi tinggi adalah tanamo. Meski sosok relatif pendek, tinggi 90 – 100 cm, tetapi potensi produksi varietas baru itu 1 – 1,5 kg per tanaman. Satimin, pekebun di Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menanam tanamo di lahan 1 ha. Hasilnya, produksi rata-rata 1,3 kg per tanaman. Dengan produksi menjulang, sementara biaya produksi relatif tetap, laba Satimin kian besar.

Selain itu varietas keluaran PT East West Seed Indonesia itu juga resisten Phytophthora capsici, penyebab busuk pangkal batang. Menurut Wakrimin, manajer produksi PT EWSI, tanamo panen perdana pada umur 90 hari setelah tanam. Itu 25 hari lebih cepat ketimbang umur panen cabai pada umumnya, 115 hari. Ukuran buah juga lebih besar dan lurus, diameter 0,8 cm. Itulah beberapa cabai berproduksi tinggi. Pekebun punya banyak pilihan jika hendak meraup laba bertanam cabai. (Ari Chaidir)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img