Friday, December 2, 2022

Berkah dari Gadis Berbau

Rekomendasi

 

Kepala Administrasi Pekerjaan Umum Wilayah Sungai NTB I itu baru 4 tahun menggeluti bonsai. Makanya ia merasa pengetahuan tentang seni merawat tanaman dalam pot ala Jepang dan China itu masih minim. Pembentukan tanaman tidak melihat gerak dasar, kematangan, keseimbangan, keserasian, dan tata letak penanaman. Pantaslah bila sejauh ini bonsai koleksinya hanya mendapat pita hijau di kontes. Artinya, termasuk kategori baik di kelas madya.

Total jenderal wakil ketua PPBI cabang Lombok itu memiliki 80 bonsai, 60 di antaranya berkualitas kontes. Sebut saja santigi setinggi 90 cm yang terletak di pojok kiri depan kebun. Sosoknya seperti naga. Saat ini tanaman masih dalam tahap training.

Pasca ASPAC

Sugeng benar-benar serius menekuni hobi barunya. Demi mendapat bakalan berkualitas pengusaha rumah walet itu rela keluar-masuk hutan. Sekali berburu butuh 3-4 minggu. Perburuan dilakukan di Serewe dan Sekotong, Lombok, serta Sulawesi Selatan. Bakalan yang dicari adalah santigi dan wahong. Kedua jenis tanaman itu digemari karena batangnya bertekstur kasar sehingga penampilannya mirip pohon tua.

Karena bonsai pula Ari Koto jadi sibuk sekali. Lima tahun lalu kebun bakalan bonsainya jarang dikunjungi pembeli. Paling 1-2 minggu sekali ada konsumen datang. Namun, sejak 9th Asia Pacific (ASPAC) Bonsai and Suiseki Convention and Exhibition 2007 di Bali, kebun seluas 300 m2 itu selalu penuh pengunjung.

Jenis bonsai yang dikoleksi Ari beragam. Sebut saja beringin, santigi, cemara udang, hingga wahong. Yang disebut terakhir sejak 2 tahun belakangan jadi idaman pebonsai di Lombok. ‘Wahong sebenarnya sudah dipakai sebagai bahan bonsai sejak 1990-an, tapi belum populer seperti sekarang,’ kata Ari.

Wahong primadona

Pengamatan Trubus, tanaman dalam pot ala Jepang itu memang tengah tren di Lombok. Buktinya sejak 2006, kontes regional rutin digelar setiap tahun. Yang terakhir diselenggarakan pada 12-22 Desember 2008 di Lapangan Udara TNI Angkatan Udara Rembiga yang diikuti 186 peserta.

Sejak September 2007, pemain baru pun bermunculan. PPBI cabang Lombok mencatat pada 2008 jumlah anggota mencapai 120 orang. Total jenderal anggota PPBI di NTB lebih dari 300 orang. ‘Itu belum termasuk hobiis di luar PPBI,’ kata Ari. Pemain baru tak hanya berasal dari kalangan hobiis, tapi juga pebisnis. Kondisi di Lombok itu sejalan dengan euforia di tanahair. Tren kali ini ditandai dengan naiknya pamor wahong.

Premna serratifolia tak hanya memikat pebonsai di tanahair, tapi juga mancanegara. Akibatnya permintaan si gadis berbau pun meningkat. Contohnya Didik Pico di Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah. Didik mengumpulkan wahong sejak 2003. Toh baru pascaASPAC permintaan skala besar menghampiri. Ia mendapat pesanan dari Puertorico, Taiwan, dan Thailand. Rata-rata setiap negara meminta 1 kontainer setara 200-300 bakalan.

Jumlah itu belum termasuk permintaan pasar lokal. ‘Jumlah permintaan 2 kali lipat daripada tahun lalu (2007, red),’ ujarnya. Maklum, harga yang ditawarkan cukup terjangkau, Rp500.000-Rp1,5-juta per bakalan.

‘Wahong banyak diminati pebonsai karena banyak kelebihan,’ kata Didik. The stinky lady itu mudah hidup, cepat tumbuh, tekstur bagus, dan bentuk pohon dinamis. Wahong cocok bagi pebonsai pemula.

Bakalan langka

Menurut Robert Steven, pebonsai di Jakarta Pusat, wahong berpeluang diekspor dalam jumlah massal. Anggota famili Verbenaceae itu bisa dikirim tanpa media sama sekali. Selain itu, ia bisa hidup di daerah mana pun, termasuk negara 4 musim.

Probo Indira di Pati, Jawa Tengah, menjual minimal 10-15 bakalan wahong berukuran medium-tinggi 40-70 cm-dan large-di atas 70 cm. Padahal pada 1997-2007 penjualan nyaris nol. Dari perniagaan itu Indira mengantongi Rp2-juta-Rp5-juta per bulan.

Wahong laksana lokomotif penggerak bisnis bonsai. Buktinya, tak hanya permintaan wahong yang tinggi, tapi juga jenis lain. Itu dirasakan Akun di Bangka. Pria 27 tahun itu menjual 60 bakalan sapu-sapu. Harganya Rp100.000-Rp150.000 per bakalan. Artinya didapat omzet Rp6-juta-Rp9-juta. Di Pulau Timah itu para pemain juga mengincar nasi-nasi, jeruk kingkit, dan sekuncung yang asli setempat.

Pemain di Banten lain lagi. Mereka banyak mencari santigi, wahong, jeruk kingkit, dan gulogumantung. Sementara hobiis dan pebisnis di Palembang mendatangkan bakalan cemara udang dari Madura.

Dari biji

Lantaran ketersediaan di alam kian terbatas, sementara permintaan tinggi kini para pemain serius memperbanyak bakalan. Kelik Indarto di Yogyakarta membudidayakan kawista dari biji. Dari biji hingga siap jual dalam bentuk bakalan mamey butuh waktu 4 tahun. Harganya Rp1-juta-Rp3-juta per bakalan dengan minimal order 150 tanaman. Namun, ‘Agar penampilan sempurna dibutuhkan setidaknya 10 tahun baru siap jual,’ kata Kelik. Harganya Rp20-juta-Rp30-juta per bonsai.

Di Banten, Eko Priyanto membudidayakan santigi dari biji. Sementara di Sumenep, Madura, dibudidayakan cemara udang, sancang, dan santigi asal setek dan cangkok. Perbanyakan dengan setek juga dipakai Pico untuk memperbanyak wahong. Kini ada 1.000 bakalan kecil di kebunnya.

Selain pemburu dan pedagang, berkah dari tren bonsai juga datang pada para trainer. Rusmadi di Yogyakarta sudah 5 tahun terakhir absen merawat bonsai. Ia lebih banyak menggeluti adenium dan sansevieria. Namun, 3 bulan terakhir permintaan untuk menjadi trainer kembali mengalir. ‘Saya baru menyelesaikan 2 pesanan dari hobiis baru,’ katanya. Moch Umar HS pun setahun terakhir bolak-balik Surabaya-Lombok untuk mentraining bonsai milik Sugeng. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Dian Adijaya S dan Tri Susanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img