Sunday, November 27, 2022

Berpacu dengan Kesegaran Echinacea

Rekomendasi

Setelah seluruh perlengkapan dikenakan, Trubus memasuki ruang sterilisasi. Di hadapan pintu masuk terdapat lantai berperekat. Lantai itu mesti dipijak agar kotoran pada alas kaki tak terbawa ke ruang produksi. Selanjutnya, pengunjung diwajibkan mencuci tangan dengan sabun antibakteri. Barulah setelah seluruh ‘ritual’ selesai, pengunjung diperkenankan memasuki ruang produksi.

Ketika pintu dibuka, aroma alkohol yang menyengat menguar dari dalam ruangan. Alkohol bahan baku utama untuk mengolah echinacea. Bahan kimia itu berperan melarutkan senyawa-senyawa yang terkandung dalam tanaman obat. Alkohol disimpan dalam tangki-tangki raksasa berkapasitas 10.000 liter.

Tingtur

Memasuki ruang produksi, Trubus disambut hiruk-pikuk para pekerja. Musim panas yang tengah menyambangi kota Roggwil pada medio Juni 2007 merupakan puncak aktivitas perusahaan herbal terbesar di Swiss itu. Saat itulah musim panen Echinacea purpurea-salah satu tanaman obat yang diolah A. Vogel. Hasil panen mesti segera diolah agar kandungan senyawa aktif tidak berkurang. ‘Pokoknya tidak boleh lebih dari 24 jam,’ ujar Marlene. Oleh sebab itu, seluruh karyawan berpacu dengan waktu.

Pengolahan echinacea dalam bentuk segar sengaja dilakukan demi memperoleh khasiat terbaik dari tanaman obat asal Amerika Utara itu. ‘Bila tanaman obat dikeringkan dahulu, banyak senyawa yang hilang. Akibatnya, khasiat obat berkurang,’ ujar dr Jen Tan, direktur A. Vogel cabang Inggris. Itu senada dengan pendapat Dr M Ahkam Subroto APU, peneliti Puslitbang Bioteknologi LIPI. Pengeringan dapat mengurangi kandungan senyawa aktif hingga 60%.

Namun, tuntutan itu sangat menyulitkan bila stok bahan baku melimpah. Tanaman obat yang disimpan dalam bentuk segar berisiko busuk. Oleh sebab itulah para produsen obat-obatan tradisional di tanahair lebih memilih menggunakan bahan baku kering.

Untuk mengatasi persoalan itu, A. Vogel mengatur rencana tanam. Jumlah areal tanam disesuaikan kebutuhan bahan baku selama setahun. Agar pasokan tidak terputus, A. Vogel mencadangkan bahan baku dalam bentuk tingtur alias larutan senyawa dalam alkohol. Menurut Marlene, kandungan senyawa dalam larutan itu awet hingga 2 tahun. Tingtur echinacea sebagian langsung dikemas dan sisanya diolah menjadi tablet.

Tingtur salah satu hasil ekstraksi tanaman obat yang dilarutkan dalam alkohol. Menurut dr Jen Tan, ekstraksi alkohol jauh lebih efektif ketimbang ekstraksi air. ‘Alkohol dapat melarutkan senyawa-senyawa tanaman obat hampir 100%,’ ujarnya. Dengan begitu, khasiatnya semakin berlipat ganda. A. Vogel satu-satunya perusahaan herbal yang menjual produk dalam bentuk tingtur. Lazimnya obat-obatan herbal dijual dalam bentuk tablet, kapsul, atau simplisia. Berikut proses pengolahan echinacea di pabrik A. Vogel seperti disaksikan reporter Trubus Imam Wiguna.***

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img