Sunday, August 14, 2022

Bertahan Hidup Dalam Formasi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

anteng lainnya di padang penggembalaan Sadengan Taman Nasional Alaspurwo (TNAP), Jawa Timur itu, tidak terpengaruh. Beberapa ekor mencari rumput, lainnya santai berbaring menikmati mentari pagi. Tak berapa lama semuanya berdiri lalu berjalan mengikuti arah pemimpin kelompok ke dalam hutan.

Kelompok banteng berjumlah 5 ekor itu bergerak bukan tanpa alasan. Naluri mempertahankan diri timbul setelah Trubus bersama seorang petugas TNAP mengendap-endap mendekati hingga jarak 100 m. ‘Mereka sudah mencium kehadiran kita sejak awal,’ kata Banda Nurhaya, koordinator PEH TNAP itu. Penciuman banteng tidak terlalu tajam dibandingkan anjing. Namun, angin saat itu mengarah pada kelompok banteng sehingga mereka mudah mengendus kehadiran manusia.

Saat kelompok itu bergerak menuju hutan, seekor jantan dewasa lain menjadi penutup barisan. Di tengah-tengah barisan tampak betina dan 2 anak berjalan beriringan. ‘Pola itu selalu dipakai saat banteng-banteng itu merasa terancam,’ ujar Banda. Meski nantinya sumber ancaman tidak jadi mendekat, mereka tetap memilih pergi menjauh.

Pola lain terlihat pada kelompok Bos javanicus di Resort Bandealit Taman Nasional Merubetiri (TNMB), Jawa Timur. Saat merasa terancam, pemimpin kelompok seolah tak berkedip menatap sumber bahaya. Banteng lainnya dalam status siaga, dengan memasang kuda-kuda siap berlari. ‘Mereka berlari memencar lalu bergabung lagi di satu tempat,’ ujar Ir R. Garsetiasih MP, peneliti banteng dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan di Gunungbatu, Bogor.

Bagi banteng ada beberapa bahaya laten paling ditakuti seperti anjing hutan Cuon alpinus, macan tutul Panthera tigris, dan manusia. Komaruddin, polisi hutan di TNAP mengungkapkan beberapa tahun lalu saat berpatroli ia sering mendapati bangkai dan tulang-belulang banteng. Itulah ulah anjing hutan yang populasinya pernah meledak di TNAP sehingga menyusutkan populasi banteng.

Banteng bisa dengan mudah menghalau bahaya jika jumlah predator tidak terlalu banyak. Para jantan akan melindungi kelompok dari segala arah. Pimpinan pengancam menjadi jatah sang pemimpin kelompok banteng. ‘Tanduk banteng itu dapat menjadi senjata mematikan,’ kata Banda.

Namun, pola bertahan itu berantakan saat jumlah predator lebih banyak. Anggota kelompok kocar-kacir menyelamatkan diri. Yang mengenaskan anak banteng yang belum mampu melindungi diri menjadi korban. ‘Sekitar 1990-an hampir setiap hari ada 4 anak banteng ditemukan mati,’ tutur Komarrudin.

Anak banteng dan betina sering dipersilakan menempati barisan terdepan saat berada di dalam hutan. Formasi itu berlaku saat tidak ada gangguan. Namun, banteng tak bisa mendeteksi perangkap-berupa jerat tali diikat di pohon-yang dipasang para pemburu. Yang banyak menjadi korban kali ini banteng dewasa. ‘Jerat itu bekerja setelah ada tekanan berasal dari bobot banteng dewasa,’ kata Komarudin, yang bisa mendapat 10-60 jerat setiap kali berpatroli.

Para jantan akan sedikit menjauh saat betina dan anak-anak asyik bercengkerama dan bermain-main. Meski demikian itu bukan berarti pejantan lepas tangan dengan kondisi sekeliling. Justru saat-saat seperti itu pejantan dituntut kewaspadaan tinggi. Salah menafsirkan arah ancaman, berarti seluruh kelompok dapat bubar dan berujung nasib tragis. (Dian Adijaya S)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img