Thursday, December 8, 2022

Berutang Budi Udang Galah pada Bandeng

Rekomendasi

 

Kejadian 8 tahun silam itu menggoreskan luka dalam bagi Purwanto. Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Atmajaya di Yogyakarta itu berharap memanen Macrobrachium rosenbergii berbobot 6 g/ekor. Apa lacur, untung gagal diraih. ‘Udang-udang itu memang tidak mati, tapi bobotnya hanya 3 g/ekor,’ ujarnya. Walhasil dari prediksi panen 112 kg/700 m², hanya diperoleh 56 kg.

Purwanto menduga lumut Sphagnum sp sebagai biang kerok. Secuil informasi yang didapatnya dari literatur budidaya ikan menyebut lumut yang ngendon di cangkang menghambat proses moulting alias ganti kulit. ‘Lumut itu sifatnya mengikat sehingga cangkang sulit lepas saat udang berganti kulit,’ katanya. Kalaupun dipaksa moulting, sang udang perlu tenaga ekstra. ‘Yang terjadi sesudah itu udang mengambang seperti mati,’ ujar alumnus program pascasarjana Jurusan Planologi Institut Teknologi Bandung itu.

Biokatalisator

Adalah pemilik hatchery di Jepara, Jawa Tengah, yang menyarankan Purwanto memakai bandeng Chanos chanos untuk mengatasi masalah itu. Belakangan setelah dicoba memang terbukti: jumlah udang galah yang dihinggapi lumut jauh berkurang. ‘Itu karena lumut dimakan oleh bandeng,’ kata Purwanto.

Haryo Sutomo APi, peneliti crustaceae dari Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sukabumi, menjelaskan bandeng memang cocok dipakai untuk mengatasi lumut. Perkembangbiakkan lumut sangat cepat pada pH di bawah 6 dan intensitas cahaya matahari tinggi. ‘Peran bandeng sebagai biokatalisator,’ ujar alumnus Sekolah Tinggi Perikanan Pasarminggu, Jakarta Selatan. Biokatalisator merupakan makhluk hidup penyeimbang dalam suatu ekosistem.

Penelitian Dra Murtiati dan tim, juga dari BBAT Sukabumi, pada Maret- Desember 2006 menunjukkan udang galah yang ditebar bersama bandeng di kolam 200 m² menaikkan sintasan-SR-udang sebesar 68,23-80,16%; bandeng 31,25-48,75%. ‘Kehadiran bandeng terbukti memperbaiki parameter kualitas air seperti pH, alkalinitas, dan amonia,’ kata alumnus Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada itu.

Sekadar contoh kehadiran bandeng di kolam bisa mendongkrak kadar oksigen terlarut (DO) sampai 8,24 mg/l. Kondisi itu tidak dijumpai pada budidaya monokultur yang DO-nya berkisar 4,84 mg/l. Pun derajat keasaman (pH) yang relatif stabil pada angka 6-8; monokultur pH 5-9. ‘Yang menarik, suhu air pada polikultur itu lebih rendah 1-2oC dibandingkan monokultur yang berkisar 26-28oC,’ ujar Haryo. Dengan kondisi itu udang galah lebih nyaman hidup.

Kelimpahan plankton

Keunggulan lain, bandeng berperan menjaga kelimpahan plankton. ‘Bandeng bersifat herbivora, memakan tumbuhan,’ ujar Murtiati. Pada kasus Purwanto, Murtiati menduga kolam mengalami booming lumut sampai menempel pada cangkang udang. Terbukti setelah bandeng hadir, populasi lumut berangsur-angsur turun. ‘Lumut yang menempel di cangkang juga dapat hilang dimakan bandeng,’ tambahnya.

Namun, kehadiran plankton bak pisau bermata dua. Di satu sisi plankton menjadi sumber pakan dan di sisi lain memanfaatkan DO untuk proses respirasi. ‘Ini yang tidak boleh terjadi karena udang akan berusaha naik ke atas mencari tambahan oksigen,’ ujar Haryo. Itu pula yang terjadi di kolam Purwanto. ‘Mereka (udang, red) naik dan terlihat mabuk, lalu mati,’ katanya.

Menurut Ikhsan Khasani MSi, peneliti Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budi-daya Air Tawar-dulu Balitkanwar-di Subang, peternak udang galah juga mesti mencermati timbunan bahan organik dari sisa pakan. Ia dapat memicu ledakan plank-ton. ‘Pakan sebaiknya jangan diberikan berlebih,’ katanya. Kalaupun berlebih, harus diimbangi dengan populasi bandeng. Idealnya untuk kepadatan tebar 10 ekor/m² udang galah perlu 1-2 ekor/m² bandeng.

Sejatinya peran bandeng sebagai bio-katalisator pada budidya udang galah dapat digantikan ikan konsumsi jenis lain seperti grasscarp-sebangsa ikan mas-dan nila. Sayangnya menurut Haryo, ikan-ikan itu justru menjadi lawan saat dewasa. ‘Mereka menjadi predator,’ katanya. Bandeng me-mang pilihan paling pas, karena selain tak mengganggu, ‘Ia punya nilai jual lebih bagus ketimbang nila,’ tutur Purwanto. (Tri Susanti)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img