Friday, December 9, 2022

BETERNAK ELANG

Rekomendasi

Tugas gubernur dan wakil gubernur baru Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, menurut hemat saya adalah mensukseskan rehabilitasi elang bondol di Kepulauan Seribu. Elang bondol Haliastur indus adalah burung kebanggaan bumi Betawi, dengan kepala warna putih dan badan cokelat pirang. Terakhir, saya melihatnya hidup bebas di sungai depan Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, sekitar 20 tahun silam.

 

Setelah itu, memang sering tampak lebih banyak elang bondol dalam pameran flora dan fauna di Lapangan Banteng.  Penangkaran elang bondol di Taman Mini Indonesia Indah dan di Kebun Binatang Ragunan memang cukup berhasil. Namun, jumlah yang hidup bebas di lingkungan, meskipun taman kota bertambah, rasanya makin berkurang. Jadi rehabilitasi elang bondol atau brahminy kite yang menjadi maskot ibukota RI itu perlu makin digiatkan.

Langka

Sejak 1992 Indonesia menyatakan perlindungan total terhadap seluruh jenis elang atau garuda yang bermukim tetap maupun sementara di negeri ini. Sekarang 20 tahun berlalu. Apa hasilnya? Elang jawa Spizaetus bartelsi tetap dinyatakan langka, populasi tidak lebih dari 600 ekor. Elang flores Spizaetus floris justru makin terancam. Diperkirakan tidak lebih dari 300 ekor tersisa hidup di alam. Kemajuan memang sudah terasa. Setelah presiden menetapkan garuda sebagai satwa nasional pada 1993, jumlah peminat semakin meningkat. Beberapa ahli raptor atau burung pemangsa  berhasil lulus sebagai sarjana, master, dan doktor dari Universitas Padjadjaran, Bandung, maupun Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kelompok-kelompok pencinta elang, Falconer, Raptor Club, dan bursa elang pun mulai bermunculan di Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Sahabat saya, Zaini Rakhman, berhasil menyebarluaskan pendidikan cinta elang ke berbagai sekolah dasar. Bukunya, Garuda dan Faktanya di Indonesia mendapat sambutan baik dari Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Kelompok-kelompok pencinta dan pelestarian elang jawa patut kita apresiasi dan kita dukung bersama,” kata Sri Sultan.

Pengembangbiakan elang jawa mengalami kesulitan akibat menyusutnya hutan primer. Untungnya, berkat dukungan Kementerian Kehutanan, Asian Raptor Research and Conservation Network (AARCN), serta lembaga swasta multinasional Chevron, kampanye untuk cinta garuda lebih dimasyarakatkan. “Hingga tahun 2012 ini, paling sedikit ada 300 pencinta elang yang serius, tersebar di seluruh Indonesia,” kata Zaini.

Meskipun begitu, ia belum melihat ada lembaga resmi yang membudidayakan burung garuda. Padahal, Mongolia negara yang terpencil di padang gurun saja sudah punya aturan jual beli dan penangkaran elang. Di Davao, Filipina, juga mempunyai peternakan Harpy Eagle atau elang hitam yang belakangan juga semakin sukses melakukan captive breeding. Budidaya elang utamanya menetaskan dan melepasliarkan elang muda ke alam bebas.

Mengapa dilepas ke alam bebas? Sebab, untuk hidup sehat, burung-burung itu perlu angkasa yang luas. Jangan lupa, kebanyakan raptor hidup melampaui batas satu kawasan atau negara. Dari Mongolia di Asia timur laut, pada musim dingin terbang ke Asia tenggara. Dari 55 jenis elang yang bermigrasi dari daratan Asia, 19 di antaranya singgah dan bermukim beberapa bulan di Kepulauan Nusantara. Negeri ini adalah kawasan penghangatan dan tempat mereka mencari makan.

Filsafat beternak

Beternak bisa menjadi urusan pribadi. Ketika Anda mempunyai sepasang buaya dalam kolam kecil di samping rumah, semua bisa ditangani sendiri. Namun, setelah buaya itu beranak – pinak, menjadi 2.000, bahkan 3.500 ekor seperti milik tetangga kita di Medan, urusannya menjadi publik. Masyarakat luas berkepentingan untuk ikut mengurusnya. Maka, ketika September 2012 ditemukan belasan anak buaya lepas dan masuk ke rumah penduduk, masalahnya menjadi meluas.

Saya jadi paham, untuk makanan sepasang raptor, kita perlu memelihara tikus dua kandang. Kalau tidak, burung-burung lain di sekitarnya akan terancam. Di sinilah inti filsafat beternak-kita diajar untuk berjiwa besar, murah hati, pemaaf dan sanggup menyediakan makanan berlimpah, untuk hari ini maupun masa depan. Seekor elang tiram Pandion haliaetus dalam buku Zaini Rakhman, dipotret sedang mencengkeram tiga ekor ikan yang baru disambarnya di laut. Mungkin itu baru untuk sarapan anak-anaknya yang menunggu dalam sarang. Belum untuk makanan dia dan pasangannya. Jangan lupa kebanyakan elang adalah pendukung dan pembela monogami. Mereka setia pada pasangannya sampai mati.

Negeri rajawali

Selain mendidik kita agar murah hati dan setia, burung elang mengajar kita hidup kuat dengan toleransi. Seekor elang terbang puluhan, bahkan ratusan kilometer dalam sehari. Seekor garuda yang bersarang di sebatang pohon rasamala, dalam sehari bisa menjelajahi ribuan hektar kebun teh dan kebun kopi. Jadi, selain harus merelakan garuda terbang ke mana saja, kita perlu tetap senang dihampiri berbagai jenis raptor dari negeri-negeri yang jauh.

Kalau kita mau membuat kandang untuk seekor elang, perhatikan juga luasannya. Di lereng Gunung Tangkubanparahu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, ada kandang habituasi untuk garuda. Sebuah kandang milik Panaruban Raptor Center, berukuran panjang 18 m, lebar 6 m, dan tingginya 12 m. Dalam kandang inilah elang kembali diajar hidup merdeka, mencari makanan dan rezekinya sendiri. Jangan kaget, sudah lebih dari dua ratus, tepatnya 224 ekor elang berhasil disita, sebelum nyaris diselundupkan ke luar negeri.

Burung-burung itu memerlukan pemulihan kesehatan dan rehabilitasi. Indonesia memang kaya akan jenis elang. Dari sekitar 311 jenis elang yang hidup di dunia, 78 di antaranya berada di Indonesia. Berbagai program pemasyarakatan cinta elang secara kontinu dilaksanakan. Ada program All About Garuda dan Willing to Eagle dimasyarakatkan mal Cihampelas Walk, Bandung. Ada juga edukasi dan konservasi falconry yang diadakan Raptor Club Indonesia (RCI) di Yogyakarta.

Kepala Konservasi Alam RCI, bernama Lim Wen Sin, kelahiran Yogyakarta, 18 Maret 1977. Lulusan Fakultas Teknobiologi, Universitas  Atmajaya, 2002 itu menggagas dibentuknya Bank DNA untuk menampung semua jenis raptor di Indonesia. “Kegiatan rutin kami melakukan pelatihan burung pemangsa dengan menggunakan metode Falconry,” katanya. RCI bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah empat kali melepasliarkan elang.

Awalnya seekor elang jawa yang diberi nama Sylvi pada 25 April 2009. Kemudian seekor alap nipon Accipiter gularis dan dua ekor alap jambul Accipiter trivirgatus. Selain itu, mereka melakukan implantasi mikrocip pada burung pemangsa sejak 2010, dan berpartisipasi pada International Festival of Falconry, 2011 di Abu Dhabi. Uni Emirat Arab menjadi tuan rumah festival alap-alap itu. Sebelumnya lebih banyak diadakan di Inggris.

Sejak 1950, Bung Karno membanggakan garuda sebagai pembawa bendera bangsa dengan pesawatnya, Garuda Indonesia. Bahkan pada 1958 ia mengesahkan Garuda Pancasila sebagai lambang resmi negara. Presiden Soeharto meresmikan garuda sebagai burung nasional dengan Keppres Nomor 4/1993. Sementara itu, berbagai jenis rajawali, termasuk rajawali totol Aquila clanga, ternyata makin terancam. Rajawali irian Harpyopsis novaeguineae bahkan sudah rentan untuk punah. Padahal negeri ini terkenal sebagai kampung halaman rajawali.

Burung rajawali atau elang brontok dulu tersebar luas di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, hingga Papua. Tantangan yang harus dipecahkan adalah, elang bondol itu makan apa saja. Bukan hanya tikus, tapi juga ikan, kepiting , dan satwa kecil lainnya. Jadi, untuk menjaga kelestariannya, Jakarta harus berlimpah makanan, baik untuk manusia maupun semua satwa yang menghuninya.***

Keterangan Foto :

  1. Dari 300-an jenis elang di dunia, 78 di antaranya ada di Indonesia
  2. Eka Budianta*
  3. *Budayawan – pengurus Tirto Utomo Foundation, konsultan Jababeka Botanic Gardens, kolumnis Trubus, mantan Direktur Dana Mitra Lingkungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img