Wednesday, August 10, 2022

Bimo Bintang di Pulomas

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Nukilan fi lm Armagedon itu seolah dialami warga di Pulomas, Sabtu petang medio Juli 2005. Adrenalin mereka terpompa saat 2 titik hitam meluncur cepat dari atas langit. Namun, begitu mendekati bumi, sukacita malah menghiasi wajah mereka.

Itulah kemeriahan lomba merpati tinggi di lapangan Don Bosco, Pulomas, Jakarta Timur, saat Barakuda dan Bimo adu cepat mencapai fi nis. Dari ketinggian lebih dari 100 m itu mereka mencari landasan berukuran 7 m x 7 m. Di sana menunggu pasangan masing-masing yang sedang di klepekkan (dikibas, red) oleh para joki.

Begitu kaki Bimo menyentuh pasir di lapak biru, suara kentongan terdengar membahana. Merpati koleksi Awi telah lebih dahulu menyentuh landasan. Sebentar kemudian suara kentongan kembali terdengar dari sudut kandang putih tanda Barakuda juga menjejak.

Riuh rendah terdengar di kandang biru. Betapa tidak, kedua andalannya menang dalam lomba kali ini. Sebelum Bimo, Bagas unggul mengalahkan Pasir dari kandang merah. Karena kemenangan itulah, secara otomatis juara ke-1 dan ke-2 diboyong kandang biru.

Karena kandidat 2 juara dari kandang yang sama, pertandingan tidak dapat dilanjutkan. “Risikonya sangat besar,” ujar Boso, penanggung jawab kandang biru. Mereka berlomba untuk sampai ke landasan yang sama, akibatnya kedua merpati bisa bertabrakan, sayap bisa patah, atau burung mati.

Nasib Bagas dan Bimo akhirnya ditentukan oleh hasil musyawarah antara pemilik kandang biru. Bimo dinobatkan sebagai juara ke-1 dan Bagas juara ke-2.

Pun yang terjadi pada posisi ke-3 dan ke-4. Seharusnya antara Pasir yang mewakili kandang merah bertarung dengan Barakuda dari kandang putih. Sayang, pasangan Pasir sakit, sehingga kandang merah batal menurunkan andalannya. Yang dilombakan memang harus merpati yang sedang giring (birahi, red) sehingga kondisi pasangan sangat menentukan,” ujar Teddy Windyata, Ketua POMTI (Persatuan Olahraga dan Wisata Merpati Tinggi Indonesia) penyelenggara lomba.

Ketat

Perjalanan Bimo meniti tangga juara tidak mulus. Sebelum lolos ke semifi nal, Bimo harus bertarung mengalahkan 16 pesaing yang tak lain bintang kandang merah, jingga, merah muda, putih, hijau, kuning, dan biru.

Dalam babak penyisihan, Bimo harus bertarung dengan Batavia dari kandang merah muda. Menang dari babak itu, ia masih harus berjuang melawan Mega mewakili kandang hijau di seri 8 besar.

Langkah menjadi juara semakin terbuka saat ia bertemu dengan Barakuda di semifi nal. Ketika itu Bimo menang mengungguli 71—sebutan lain Barakuda. Ia memang masih terlalu tangguh untuk dikalahkan. Sampai akhirnya musyawarah yang menentukan Bimo menjadi juara. Tak sia-sia perjuangan Awi melatih dan merawat Bimo. Kemenangan itu menjadi bukti keuletannya melatih merpati berumur 2 tahun. Setidaknya 8 bulan diperlukan untuk persiapan lomba kali ini. “Dari 50 burung, Bimo dan Bagaslah yang paling prima,” tutur Boso.

7 km

Latihan secara teratur kunci sukses kemenangan Bimo. Bak atlet profesional Bimo, digembleng setiap hari. Pukul 08.00 ia sudah harus belajar terbang, baru berakhir ketika matahari mulai menyengat. Sore Bimo kembali latihan hingga matahari ternggelam.

Rute yang harus dilalui burung bermula dari Cakung dan berakhir di Pulomas setara 7 km. Butuh waktu panjang untuk menyelesaikan lintasan itu.

Awi pasti ingat ketika Bimo kecil baru mulai belajar terbang. Umurnya kala itu masih 4 bulan. Dalam 1 bulan latihan, jarak pertama yang dilalui Bimo tak kurang 200 meter. Terbangnya masih rendah. “Ia seperti baru mengenal jalan,” ujar Awi.

Bulan kedua jarak tempuh mulai meningkat, 1 km. Bulan berikutnya tantangan Bimo semakin berat. Selain jarak semakin jauh, Bimo harus dibiasakan terbang tinggi. Saat latihan tak sedikit aral menghadang. Ia harus selalu waspada terhadap alap-alap—sejenis elang kecil—yang senantiasa mengintainya. Belum lagi tangan jahil yang mencoba menangkapnya tatkala terbang rendah. Delapan bulan diperlukan Bimo untuk menguasai lintasan Cakung—Pulomas. Perlu kesabaran untuk melatihnya. Maklum, famili Colombidae itu tergolong unik. Ia hanya mau latihan pada saat sedang giring. Dalam sebulan, giring pada burung dara 10—14 hari.

Lomba adu cepat sudah yang ketiga kalinya diselenggarakan POMTI . Tahun lalu dilakukan lomba serupa. Bedanya, waktu itu burung yang dilombakan mewakili nama kandang seperti, merah, biru, kuning, hijau, jingga, merah muda, dan putih.

Lomba kali ini burung mewakili dirinya sendiri. Setiap kandang hanya boleh diikuti 3—4, sehingga hanya merpati terbaik di setiap kandang yang ditandingkan. “Tak berlebihan jika lomba ini disebut perang bintang,” ujar Teddy. Bimo, pemenang lomba kali ini pun memperoleh gelar Burung Terbaik 2005 versi POMTI. (Dewi Nurlovi)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img