Thursday, August 11, 2022

Bintang Saat Ini: Croton

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Sabtu, 28 Juni 2008. Di ajang Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, kiriman itu sudah ditunggu pembeli. Maklum 250 pot yang dibawa lebih dulu ludes terjual pada hari pertama dan kedua pameran pada Kamis dan Jumat, 26-27 Juni 2008. Jenisnya antara lain concord brazil setinggi 15 cm seharga Rp1-juta, oscar (5 cm, Rp330.000), seribu bintang (15 cm, Rp 500.000), afrika (15 cm, Rp100.000), serta banglore (15 cm, Rp600.000 dan 30 cm, Rp4-juta).

Selama 10 hari pameran didapat omzet Rp60-juta dari penjualan 350 pot berbagai jenis puring. Pendapatan yang lumayan paling moncer dalam pameran yang dibuka oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono itu. Pantas bila Linda Irawati, si empunya nurseri yang pengusaha itu, sumringah. Maklum itu pameran perdana yang diikuti. Nurseri Camelia-nama nurserinya-pun baru mulai serius menerjuni bisnis puring sejak Februari 2008.

Yang juga menikmati manisnya perniagaan croton ialah Naam Sutikno. Setahun silam ayah 1 anak itu masih membuka bengkel bubut di halaman rumahnya di Kediri. Kini bengkel bubut itu bersalin menjadi deretan pot puring. Sejak Mei 2007, Naam memang memutuskan untuk menerjuni bisnis puring. Keputusan itu lantaran ia mendengar bila anggota famili Euphorbiaceae itu tengah jadi barang incaran di Yogyakarta.

Insting bisnisnya terusik. Mantan kontraktor tebu itu tahu persis sentra puring di wilayah timur: Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Yogyakarta bisa jadi pasar potensialnya. Benar saja. Kali pertama membawa 1 truk puring, semua langsung terjual. Setelah itu selama 5 bulan berturut-turut minimal 25 truk puring lokal asal sentra di timur dikirim ke Kota Gudeg. Setiap truk berisi 400 pot ukuran besar atau 3.000 pot ukuran kecil. Dari perniagaan itu, Naam menuai laba Rp400-juta. Kini volume penjualan rata-rata 500 pot berbagai ukuran dengan pendapatan Rp40-juta per bulan.

Baru tapi lama

Penelusuran Trubus menunjukkan banyak pemain baru yang menerjuni bisnis puring. Sebut saja Agus Choliq. Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Yogya-karta, itu sejak pertengahan 2006 menjajakan kerabat bunga delapan dewa itu. Omzetnya sekarang Rp50-juta-Rp60-juta per bulan dari penjualan 70-100 pot berbagai jenis puring.

Di Sawangan, Depok, Ferdian AS, SSi, mulai bermain croton sejak setahun silam. Pada Januari-Februari 2008 ia menjual 200 pot puring kura tinggi 30-50 cm senilai Rp150-juta, 200 apel kuning (tinggi 50-60 cm, Rp45-juta), dan ‘bibit’ (tinggi 20-25 cm, Rp9-juta). Total jenderal pendapatannya pada 2 bulan itu mencapai Rp204-juta.

Muka-muka lama pun tak ketinggalan ikut menekuni puring. Di Tangerang ada Fredy Wiyanto, Handhi, Edi Sebayang, Handry Chuhairy, dan Nur Ali. Semula Fredy lebih dikenal sebagai pemain euphorbia dan adenium. Handhi: adenium dan sansevieria, Edi: ayam serama, adenium, sansevieria, dan pachypodium. Handry: adenium, aglaonema, dan pachypodium. Sementara Nur Ali, pemain anggrek potong.

Di Sawangan, Depok, sebut saja Doddy Iskandar, Heri Syaefudin, Hari Harjanto, dan Chandra Gunawan. Di Bogor, Gunawan Wijaya, Jakarta (nurseri Tania Flora, nurseri Annajwa, Wahana Floris, nurseri Citra Ayu, nurseri Golden Star), Yogyakarta (Liling Watiasita, nurseri Lotus Garden, dan nurseri Watu Putih), Magelang (Pong Waluyo), serta Surabaya (nurseri Seger Ijo).

Kolektornya pun bermunculan. Gara-gara mencari tanaman yang cocok untuk lansekap taman rumah, Toto Edhi Santoso di Sleman kepincut croton sejak 1,5 tahun lalu. Anggota DPRD Kabupaten Sleman itu senang mengoleksi jenis berdaun lebar di halaman depan dan belakang rumah seluas

3.000 m2. ‘Kesannya lebih kokoh,’ katanya. Jenisnya antara lain vinola, pink meridian, red dragon, lipstick, new legend, banglore, seribu bintang, sahara, golden king, red spider, red star belgrade, phinisi, gotik, dan raja.

Sementara di kediamannya di Wonosobo, Santo Subagyo memiliki banglore, sweet love, concord merah, india, sahara, red spina, vista, timun, golden rain, katana, concord hijau, dan jenis-jenis yang masih belum bernama.

Antipolusi

Bukan tanpa alasan jika puring jadi pilihan. ‘Puring penuh variasi bentuk dan warna,’ kata Handry. Dibanding aglaonema-si ratu tanaman hias daun-ragam warna croton lebih banyak. Pada aglaonema warna kuning sulit didapat. Varian croton berwarna kuning banyak. Kombinasi warna pada aglaonema paling hingga 3 warna. Puring bisa lebih.

Keindahan Codiaeum variegatum itu bisa dinikmati sebagai tanaman pot, pun untuk lansekap. ‘Di taman, puring jadi center poin,’ kata Heri Syaefudin, pekebun dan perancang taman. Di Selomanen, Kediri, terdapat 15 pekebun yang memperbanyak puring untuk kebutuhan lansekap. Puring pun terbilang tanaman bandel dan mudah diperbanyak.

Keistimewaan lain, puring terbukti sebagai antipolutan ampuh. Hasil penelitian Ir Suparwoko, MURP, PhD, dari Jurusan Arsitektur FTSP, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, croton paling baik dalam menyerap timbal dibanding beringin dan tanjung. Puring mampu menyerap 2,05 mg/l timbal, beringin (1,025 mg/l), dan tanjung (0,505 mg/l) (baca: Puring Paling Top Serap Timbal, halaman 50).

‘Ukuran partikel timbal sangat kecil, hanya 2 mikro-meter. Sedangkan lebar stomata 2-7 mikrometer,’ tutur Ir Ari Wijayani Purwanto MP. Karena ukuran timbal lebih kecil daripada stomata secara otomatis mudah diserap tanaman. Hanya saja, menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) itu ada tanaman yang bisa mengolah timbal untuk kebutuhan metabolismenya, ada juga yang tidak. Bahkan sebagian tanaman keracunan bila menyerap polutan itu. Timbal masuk ke sel dan menumpuk di jaringan palisade parenkim yang banyak mengandung sitoplasma. Sitoplasma merupakan bagian sel yang fungsinya melarutkan hara serta membentuk dan menyimpan energi.

Timbal lalu menumpuk di klorofil. Ketika kerja klorofil terganggu, laju fotosintesis terhambat. Pada akhirnya pertumbuhan tanaman terganggu dan mati. Pada puring, timbal diubah menjadi enzim tertentu sehingga menjadi tidak beracun dan digunakan dalam proses metabolisme. Pantas bila puring cocok sebagai tanaman lansekap jalan. Di Yogyakarta, deretan croton menghiasi tepi Jalan Adisucipto.

Booming croton

Sejatinya bukan kali ini saja puring ramai jadi incaran. Pada 1995 croton sempat banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan tepi jalan. ‘Waktu itu ada 50.000 tanaman dipakai sebagai border di jalan-jalan di kompleks perumahan elit di Tangerang,’ ujar Heri Syaefudin, perancang taman. Heri memilih karotong karena sebagai elemen taman puring penuh warna. Sayang, krisis moneter yang melanda dunia properti membuat puring ikut tiarap.

Berikutnya, para pemain mencatat sebelum anthurium booming pada 2006-2007 croton sudah mulai menggeliat. Lagi-lagi pasar mandek karena stok barang terbatas. Jenis-jenis yang ketika itu disukai: kura, apel, eksotika, dan oscar.

Ketika itu Yogyakarta dan Jawa Tengah jadi lokomotifnya. Puring mendominasi di arena pameran. Perkara 2 daerah itu jadi motor tren croton diduga berkaitan dengan budaya dan mitos. ‘Orang Jawa percaya puring bisa menolak bala,’ kata Agus Choliq. Di Sleman malah berdiri Kelompok Tani Puring Karakan (Ketapuk) pada 15 April 2007. Sleman memang salah satu sentra puring Kota Pelajar.

Namun, para pemain sepakat sejak akhir Februari 2008 pamor puring paling mengkilap. Hampir semua pekebun dan pedagang mengalami lonjakan permintaan. Harga pun melesat pesat. Handry mencatat, pada Januari 2008 harga concord brazil setinggi 30 cm hanya Rp50.000. Pada pertengahan Juni 2008 menjadi Rp1,5-juta untuk ukuran sama.

Di ajang pameran puring pun mendominasi. Pada Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, minimal 10 stan memajang croton secara dominan. Pemandangan serupa diamati Nesia Artdiyasa, wartawan Trubus, waktu menelusuri pameran tanaman hias di Blitar.

Koleksi Jack

Indikasi lain, banyak importir yang membawa masuk puring. Tiga kali mendatangkan croton dari mancanegara, Fredy Wiyanto menangguk omzet Rp75-juta. Sumber impor dari Thailand, India, Sri Lanka, dan Filipina. Maklum negara-negara itu termasuk produsen puring dunia. Thailand punya ciri khas daun berpilin dan bulat, misal kura-cocok untuk potplant. Sementara puring Sri Lanka cenderung berdaun tipis, lebih pas untuk lansekap.

Penyilang tanahair pun bermunculan. Sebut saja Gandung Paryono (Yogyakarta), Pong Waluyo (Magelang), dan Lili Fayani (Malang). Potensi menyilang besar, apalagi puring sejatinya asli Indonesia. Hasil silangan Pong yang banyak dicari: sangkelat, nogososro, dan pulanggeni.

Bila semula pergerakan karotong dominan di Yogyakarta dan Jawa Tengah, kini menyebar ke Bogor, Depok, Jakarta, Tangerang-di barat, serta Blitar, Kediri, dan Surabaya-di timur. Di Depok, nurseri ‘Nggon-ku, milik Heri Syaefudin, salah satu gudang puring. Di Tangerang ke arah Cilegon, ada sebuah desa yang khusus mengembangkan puring.

Hanya saja arus tren Yogyakarta dan Jawa Tengah memang lebih kencang. Di sana tren puring sudah melaju pada tahap mengoleksi jenis-jenis eksklusif. Yang sekarang tengah jadi buruan, puring-puring koleksi Jack E Craig. Ciri khasnya ukuran daun besar. Jack-pria asal Amerika Serikat-dikenal sebagai kolektor tanaman hias dan buah. Dari perjalanannya ke berbagai negara didapat aneka jenis tanaman hias dan buah eksotis yang dirawat di kebun di salah satu sudut Wonosobo. Di antaranya croton.

Di Jakarta, sebagian pemain mulai membidik jenis-jenis eksklusif seperti di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebut saja red paradise, new legend, monalisa, dan kipas dewa. Harga tanaman mencapai jutaan rupiah. Sementara puring buruan di Kediri dan Surabaya masih jenis-jenis ‘lama’ seperti kura, polkadot, apel, jengkol, dan batik.

Puring koleksi Jack seperti vinola, banglore, dan seribu bintang disebut sebagai collector item. Harganya tinggi. Vinola misalnya, asal cangkok setinggi 20 cm harganya Rp5-juta (lihat tabel). Sementara jenis-jenis yang banyak dicari, jumlah masih terbatas, dan harga relatif tinggi disebut komersial. Contohnya oscar, kura, raja, dan concord. Sementara jenis yang jumlahnya sudah relatif banyak dan murah disebut lokal. Misal jet, kirana, pancawarna, timun, zebra mas, dan lancur.

Banyak risiko

Peluang bisnis croton memang menggiurkan. Namun, kendalanya pun banyak. Edi Sebayang boleh dibilang kapok mengimpor puring. Dari 1.000 tanaman yang didatangkan pada Agustus 2007 setengahnya mati. Daun rontok karena tanaman stres setiba di tanahair. Padahal di antaranya ada croton-croton juara kontes di negeri Gajah Putih yang dibeli dengan merogoh kocek Rp15-juta-Rp20-juta. ‘Sudah harganya mahal, penanganannya pun susah,’ keluh pemilik beberapa perusahaan itu. Dari jumlah yang selamat, baru 100 tanaman yang berhasil dijual. Kejadian serupa dialami Handhi, Gunawan Wijaja, dan Chandra Gunawan.

Sekadar mengimpor pun bisa jadi bumerang. Kaji Yunus, pemilik Lotus Garden, di Kaliurang, Yogyakarta, urung mengimpor dari Thailand. Musababnya, ‘Jenis-jenis yang permintaannya di sini banyak justru puring-puring koleksi Jack,’ tuturnya. Banjir kura dan apel asal Thailand membuat stok berlimpah sehingga pasar cenderung mandek.

Salah perawatan bisa membuat penampilan puring dalam pot jelek. Batang nglancir dan daun menguncup. Padahal sebagai potplant, lebih disukai puring pendek dengan daun rebah sehingga kecantikan pola warnanya terlihat. Handry Chuhairy mengamati sekarang banyak ditemukan puring kura dengan daun cenderung tegak dan berbentuk cekung. Sejatinya kura berdaun cembung dan merebah. Keterbatasan batang bawah jadi kendala saat pekebun berpacu melipatgandakan produksi.

Nama dagang yang belum baku pun membuat pemain baru pusing tujuh keliling. Handry Chuhairy membeli 2 puring dengan nama berbeda. Saat tanaman tiba di nurseri ternyata ujudnya sama. Padahal, niat awal penamaan puring untuk mempermudah perniagaan. Batu sandungan lain, citra sebagai tanaman di pemakaman. Agus Choliq ingat, waktu pertama kali mulai menyetok puring untuk tanaman induk banyak yang menertawakan. ‘Kuburannya pindah ke sini ya,’ olok mereka yang menyepelekan. Harga kerabat kastuba itu pun murah. Pemain dan penggemarnya bisa dihitung dengan sebelah jari.

Sama seperti tanaman hias lain, pemain croton pun berisiko kemalingan. Dua bulan silam Doddy Iskandar menemukan pot-pot kosong yang semula berisi 5 banglore ukuran kecil, 4 banglore ukuran besar, 1 kura, dan 1 angora ukuran 1 m. Total kerugian mencapai Rp20-juta. Pantas kemudian ada selorohan, ‘Dulu puring tanaman pagar, sekarang harus dipagari.’ Sementara Naam pernah gigit jari lantaran penjualan senilai Rp30-juta tidak dibayar.

Panjang

Toh mereka yang sempat gagal tidak patah arang. Gunawan Wijaya memasukkan croton yang baru datang dari mancanegara ke dalam ruang kabut. Suhu, kelembapan, dan cahaya yang masuk diatur sehingga pas untuk puring pendatang itu. Hasilnya tingkat keberhasilan hidup mencapai 99,9% (baca: Croton Impor, Masuk ICU Dulu, halaman 42)

Para pemain yakin tren croton belum sampai di puncak. Asumsinya, saat ini mayoritas jual-beli masih di tingkat pedagang. Masih sedikit croton yang sampai ke tangan konsumen akhir. Kondisinya sama seperti ketika awal tren anthurium. ‘Ketika tanaman sudah sampai ke tangan konsumen akhir, permintaan akan besar,’ ucap salah seorang pemain. Harga pasti turun, tapi diimbangi dengan penambahan volume jual. ‘Saya optimis puring tetap laku. Yang penting harga rasional,’ ujar Nur Ali.

Dibanding anthurium, croton unggul karena bisa dipakai sebagai tanaman lansekap. Lagi pula untuk memperbanyaknya butuh waktu, sehingga tidak gampang banjir. Sebagai contoh, untuk hasil cangkokan baru siap dijual setelah umur 3-4 bulan.

Citra sebagai tanaman di pemakaman bakal hilang dengan menampilkan croton-croton bercorak indah. Buktinya seorang kolektor rela memboyong sepot oscar dan raja setinggi 2 m dengan harga masing-masing Rp20-juta dan Rp10-juta dari nurseri Camelia. Sifat multimanfaat: sebagai potplant dan lansekap, penghias sekaligus antipolutan, pun terus munculnya jenis baru bakal membuat napas croton makin panjang. (Evy Syariefa/Peliput: Andretha Helmina, Destika Cahyana, Imam Wiguna, Rosy Nur Apriyanti, dan Vina Vitriani)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img