Monday, November 28, 2022

Bisnis Adenium Ketika Musim Biji Bersemi

Rekomendasi

Dengan harga grosir Rp6.000 per tanaman, Sutomo mengantongi pendapatan Rp216-juta pada awal 2007. Sebulan berselang mantan TKI di Malaysia itu menyemai 200.000 biji untuk mengulang sukses.

Bisnis penyemaian adenium itu baru digeluti Sutomo 2 tahun silam. Ketika itu seorang kerabat di Yogyakarta meminta batang bawah kamboja jepang. Sutomo yang waktu itu bekerja sebagai pemborong bangunan menyemai 25.000 biji. Enam bulan kemudian ludes diserap pasar. Sukses dengan produksi perdana, biji-biji kembali disemai. Setiap setengah tahun jumlah yang disemai berlipat: dari 40.000 biji, menjadi 80.000 biji dan 200.000 biji. Mulai 2007 penyemaian menjadi setiap bulan agar bisa dipanen bertahap. Maklum pelanggan semakin banyak. Pasar yang semula hanya Yogyakarta berkembang hingga Bengkulu dan Batam.

Di kota yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatera itu Sutomo tak sendiri. Ada 3 pekebun adenium lain dengan luasan bervariasi, 3.000-10.000 m2. Sebut saja Suroso dan Sungkono. Meski berbeda luasan, kapasitasnya hampir setara. Mereka bahu- membahu membentuk jaringan produksi dan pemasaran dari mulut ke mulut. ‘Kini produksi mulai diatur. Setiap bulan masing-masing menyemai 80.000 biji.

Tiga pangsa

Produksi batang bawah adenium memang salah satu segmen terpenting dalam bisnis adenium. ‘Bila diibaratkan piramida, pekebun batang bawah ada di dasar. Pangsa pasarnya juga paling banyak,’ ujar Fransiskus Kusdianto Wiratmahusada, pengamat agribisnis tanaman hias. Segmen lain di atas produsen batang bawah berturut-turut pemain bunga, penyemai arabicum dan somalense, serta penyedia tanaman kualitas kontes. Yang disebut terakhir berada di puncak piramida karena jumlahnya sedikit, tetapi harganya selangit.

Menurut pemilik nurseri Gama Cactus itu, pekebun batang bawah memiliki 3 pangsa pasar yang tak dimiliki segmen lain. Yaitu, pemain bunga jenis baru, hobiis alias end user, dan kolektor bentuk unik. Segmen lain pasarnya terbatas. Contohnya penyedia bahan lomba. Yang menyerap hanyalah segelintir kolektor yang ‘gila’ kontes.

Terbentangnya pasar bagi pekebun batang bawah bukan berarti tanpa konsekuensi. Harga kulakan batang bawah rendah, berkisar Rp6.000- Rp15.000 per tanaman tergantung volume dan kualitas. ‘Buat calon pekebun, jangan bermimpi menjual dengan harga tinggi. Pasar terbesar tanaman hias di Indonesia ialah komoditas yang harga jual di end user kurang dari US$10 (Rp100.000, red). Strateginya pacu pasar dengan peningkatan volume,’ tutur Frans.

Peluang memacu pasar itu terbuka lebar. Pasalnya, hobiis adenium mulai menyebar ke daerah yang sebelumnya tak terdengar sebagai penyerap adenium. Sebut saja Bengkulu, Palembang, Manado, dan Kupang. ‘Permintaan dari daerah itu mulai datang. Terutama untuk yang orisinil dan bunga jenis lama,’ kata Eko Hadi Nuryono, pemilik nurseri Xsotika Flora di Pati, Jawa Tengah.

Segmen baru

Peta segmentasi bisnis adenium yang disebut Frans itu disadari para pekebun batang bawah. Sebut saja Martono Imam Santoso di Yogyakarta. Pria yang sehari-hari bertugas sebagai sekretaris kecamatan di Patuk, Gunungkidul, itu menggeluti penyemaian biji adenium sejak 2 tahun silam. ‘Biarkan harga di tingkatan normal, jangan terlalu tinggi dan terlalu rendah. Beri kesempatan pada tataniaga di atasnya (pengepul dan pedagang, red) untuk mendapat selisih. Dengan begitu pekebun tak perlu repot mencari pasar terus,’ tutur pemilik nurseri Ahimsa itu.

Di Kota Gudeg itu ada juga Achmad Darmawan, pemilik Lotus Garden yang menyemai biji adenium sejak 1,5 tahun silam. Bedanya dengan pekebun di Lampung, Imam dan Darmawan mengkombinasikan penyemaian Adenium obesum dengan Adenium arabicum. Untuk penyemaian Adenium arabicum pasarnya adalah hobiis, nurseri penyedia bonggol indah, dan seniman pemrogram kaki. Yang disebut terakhir ialah segmen baru di Yogyakarta yang muncul sejak setahun silam.

Pemrogram kaki memesan arabicum berumur 4-7 bulan, lalu diprogram kaki selama 6-12 bulan. Arabicum yang bakal diprogram merupakan seleksi dari ribuan tanaman hasil semaian. Karena itu harganya berlipat. Arabicum berumur 5-6 bulan yang lazimnya Rp30-ribu-Rp35-ribu menjadi Rp40-ribu-Rp50-ribu. Setelah diprogram selama 6-12 bulan harga terdongkrak hingga Rp150-ribu-Rp1-juta. ‘Bila bahan tersedia, 1.000 batang per bulan pun saya sanggup. Sayang ketersediaan paling hanya ?-nya,’ ujar Freddy Setiawan, pemrogram kaki di Yogyakarta.

Pemrogram kaki menjual karyanya pada hobiis dan nurseri penyedia bonggol indah. Beberapa pencetak kaki indah lain Trubus temukan di Pati, Jawa Tengah, dan di Ponorogo, Jawa Timur. Sebut saja Eko Hadi Nuryono dan Tjandra Ronywidjaja. Tjandra malah menjual dengan sistem inden alias pesanan. Tanaman bahan dilelang dan dibayar dengan uang muka. Setelah diprogram dan berhasil, baru dilunasi. ‘Itu dilakukan karena bahan hasil semaian berkualitas terbatas,’ katanya.

Somalense

Sejatinya, selain bisnis penyemaian obesum dan arabicum, masih terbuka adenium jenis lain yang bakal menguak pasar. Sebut saja Adenium somalense var somalense dan Adenium somalense var cryspum. ‘Dari 7 tahun tren adenium di Indonesia, saya melihat ada pergeseran jenis yang tegas. Awalnya obesum, lalu diikuti arabicum. Ke depan jenis somalense varietas somalense dan cryspum bakal mengikuti,’ ujar Tjandra.

Prediksi Tjandra itu bukan tanpa alasan. Indikasi itu terlihat dari somalense yang menjadi welcome tree di arena kontes kerap menjadi perhatian pengunjung. Beberapa hobiis pun kerap mengusulkan somalense dijadikan kelas tersendiri di arena lomba. ‘Itu mirip dengan arabicum 2 tahun silam,’ ujar pria yang kerap menjadi juri adenium itu. Pantas, pada kunjungan terakhirnya ke Thailand, Februari silam, Tjandra mulai membawa 450 biji somalense pesanan seorang kolega di Jakarta.

Meski pasar mulai terkuak, mencari biji somalense masih sulit karena langka. ‘Belum ada pekebun yang memproduksi biji somalense,’ kata Frans. Menurutnya bila telah diproduksi, ketersediaan biji obesum, somalense, dan arabicum perbandingannya 10:5:1. Saat ini biji somalense kerap tercampur dan terjual dengan biji obesum. Selain somalense, jenis lain seperti mini size compacta dan plastik pun mulai dinanti hobiis. Sama seperti penantian Sutomo, 30 hari menunggu semaian adenium yang dikirim ke berbagai kota di Indonesia. (Destika Cahyana/Peliput: Argohartono Arie Raharjo, Hermansyah, Kiki Rizkika, dan Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img