Monday, August 15, 2022

Bisnis Aglaonema Kian Laju

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Padahal pemilik nurseri Gama Cactus di Semarang itu juga mencangkok bertingkat-begitu Frans mengistilahkan cara perbanyakan aglaonemanya-hibrida turunan Aglaonema kochinensis asal Bangkok seharga Rp40-juta.

 

Aglaonema terdiri atas 1 induk dan 11 anakan itu dicangkok menjadi 12 tanaman baru. Harga jual anakan Rp5-juta per pot. Tambahan Rp60- juta kembali masuk kantong alumnus Jurusan Lanskap Universitas Trisakti, Jakarta Barat, itu.

Cara serupa tapi tak sama ditempuh Ukay Saputra di Jakarta Barat. Pria yang gemar mengumpulkan tanaman mutasi itu memborong 30 pot golden lipstik terdiri dari 6-7 daun dari Thailand pada Februari 2005. Harga per pot Rp3-juta. Tiba di tanahair, siamese rainbow itu digenjot dengan pemupukan rutin agar rajin beranak.

Tiga bulan kemudian, dari setiap pot muncul 2 tunas. Anakan terdiri atas 3-4 daun siap dipisahkan 3-4 bulan kemudian. Setelah dirawat selama 4 bulan, anak-anak manee lompetch-nama asli sri rejeki itu di Thailand-berdaun 7-8 helai siap dijual. Setiap anakan dilepas Rp1-juta. Hingga awal Februari 2006, saat Trubus mewawancarai, Ukay sudah menjual 150-200 anakan. Dengan pendapatan Rp150-juta-Rp200-juta, modal membeli indukan Rp90-juta pun tertutup.

Kencang

Sukses dengan golden lipstik, Ukay pun mengkarantina golden red peacock, red hot chilli pepper, princess noble, butterfly, joey alias manee daeng-sekadar menyebut puluhan aglaonema asal Thailand yang tengah diperbanyak-di nurseri terpisah, berjarak selemparan batu dari showroom. Setiap tunas yang tumbuh susul-menyusul, berarti rupiah buat pria yang sudah hobi mengoleksi sri rejeki sejak awal 1990-an itu.

Di Semarang, Frans pun kian getol menggandakan anggota famili Araceae itu. Trubus melihat, hampir tak ada tanaman dewasa yang utuh. Frans rela mencacah aglaonema-aglaonema berharga total ratusan juta rupiah itu lantaran begitu anakan siap dijual, pembeli sudah antre. Bisnis aglaonema sekarang sedang kencang, tuturnya.

Itu pulalah yang dialami Indri Greg Hambali. Perempuan kelahiran Jakarta itu pusing tujuh keliling oleh dering telepon genggamnya. Itu telepon dari para kolektor dan pemilik nurseri yang meminta anakan aglaonema-aglaonema hasil silangan Greg Hambali-sang suami. Saking derasnya permintaan, Indri pun mesti menerapkan sistem pesanan.

Untuk widuri, misalnya, Ini sudah ada 60 pohon diinden. Mereka (calon pembeli, red) berani membayar Rp1,5-juta per lembar, kata perempuan yang bersama sang suami bahu-membahu menelurkan sri rejeki-sri rejeki anyar itu. Permintaan serupa datang untuk tiara, hot lady, dan adelia-yang kini paling banyak diincar. Belum lagi permintaan santi, JT-2000, petit, merah delima, dan diana. Kencangnya tarikan bisnis tanaman yang dipercaya membawa hoki itu juga dirasakan pula oleh Suhandono, Iwan Hendrayanta, dan Ansori di Jakarta Selatan, Harry Setiawan di Jakarta Timur, Gunawan Wijaya dan Tri Rahmadi di Bogor, Yopie Joko Pramono di Semarang, serta nurseri Yanti & Linda di Medan. Sekarang ini kalau ada 100 tiara pasti langsung ludes dalam sehari, ujar Suhandono menggambarkan kencangnya pasar.

Investor

Munculnya pemain-pemain baru yang berani membeli tanaman-tanaman mahal jadi pemicu gairah bisnis aglaonema. Sebut saja A Kiong di Jakarta. Penggemar anyar yang tergila-gila pada sri rejeki itu rela membenamkan duit miliaran rupiah untuk 30 pot widuri dan 200-an pot adelia. Padahal harga widuri saat ini Rp1,5-juta per daun; adelia, Rp350.000 per lembar.

Masih di ibukota, Sukardi dan Santi Pieters juga keranjingan mengumpulkan ratu tanaman hias daun. Hampir setiap hari Santi menyambangi nurseri-nurseri penyedia aglaonema. Kerapkali ia membeli jenis yang sama dengan koleksi di rumah lantaran kondisi tanaman lebih bagus.

Nun di Pekanbaru, Riau, ada Hj Andriani Lubis kolektor aglaonema sejak 3 tahun silam. Wanita 37 tahun itu memiliki minimal 400 pot terdiri atas ratusan jenis. Aglaonema-aglaonema silangan Greg Hambali bersama jenis-jenis asal Thailand tertata indah di lantai atas kediamannya. Dalam 2 bulan terakhir, ia menggelontorkan dana ratusan juta rupiah untuk menambah koleksi. Masih di provinsi yang kaya minyak itu, Solimin juga mulai getol mengumpulkan sri rejeki.

Tak heran, dengan stok terbatas, harga aglaonema-terutama silangan Greg Hambali-meroket tajam. Pertama kali dilepas pada April 2004, widuri hanya berbandrol Rp750.000 per lembar. Kini harga melonjak 2 kali lipat. Setahun silam harga adelia Rp60.000 per daun, sekarang Rp350.000 per helai. Sementara hot lady naik dari Rp900.000 per lembar menjadi Rp1,5-juta per helai dalam hitungan bulan. Suhandono membeli tiara Rp750.000 per lembar pada Agustus 2004, kini Rp1-juta per daun. Toh, para kolektor tak peduli, mereka tetap menginden sang incaran.

Dengan kondisi seperti itu, pantas bila para penangkar mengantre anakan sebagai bahan indukan. Mereka tak khawatir membenamkan rupiah lantaran yakin keuntungan bakal cepat dituai. Buktinya, para pedagang dan kolektor berkali-kali mengontak Harry Setiawan untuk menjadi yang pertama memiliki anakan hot lady. Padahal, pemilik pabrik mi itu sendiri masih menginden aglaonema merah cerah itu pada sang penyilang.

Daerah

Kehadiran jenis-jenis baru yang tak habis-habisnya diduga kian menggenjot pasar. Lelang aglaonema-aglaonema anyar silangan Greg Hambali pada 2001 sebagai titik tolak. Bermunculanlah adelia, JT-2000, diana, tiara, widuri, dan lain-lain. Lalu itu diikuti oleh masuknya jenis-jenis asal Thailand. Sebut saja misalnya sweet rosy, siam aurora, dan twinkle pink-jenis asal Thailand.

Ramainya pasar pun ditunjang oleh penampilan sang ratu tanaman daun. Warna-warni aglaonema yang seperti warna bunga abadi-tidak tergantung musim. Lain halnya dengan tanaman bunga yang keindahannya hanya dinikmati saat bunga muncul, tutur Ansori. Pantas Harry hampir 2 kali dalam sebulan ulang-alik Jakarta-Bangkok. Hal serupa dilakukan Gunawan Widjaja dan Iwan Hendrayanta.

Penyebaran aglaonema ke daerah membuat permintaan pasar kian melebar. Pembeli yang datang ke tempat Harry berasal dari Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Makassar. Di Medan, nurseri Yanti & Linda mengimpor pride of sumatera, lady valentine, dan siam aurora dari Thailand untuk melayani pelanggan dari Pekanbaru, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Bali. Penyebaran itu antara lain didorong oleh publikasi media massa dan pameran. Menurut Ukay, setiap kali mengikuti ekshibisi terjaring 25-30% konsumen baru. Apalagi harga beberapa jenis sang ratu sudah lebih terjangkau kantong masyarakat umum.

Bisa diusahakan di lahan sempit dengan keuntungan menggiurkan. Itu pula yang membuat orang berbondong-bondong menerjuni bisnis aglaonema. Hanya bermodalkan pekarangan rumah di kawasan kompleks perumahan kelas menengah di Bogor, Tri Rahmadi sanggup meraup omzet Rp100- juta per minggu. Dengan penjualan itu alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya itu meraup keuntungan Rp10-juta-Rp20-juta per minggu. Padahal pria yang pernah bekerja di perusahaan platting and undercoating itu baru terjun berbisnis sri rejeki. Segmen pedagang dipilih lantaran perputaran uang lebih kencang.

Yanti & Linda menanamkan modal Rp100-juta untuk membeli tanaman dari Thailand pada Mei 2004. Setahun kemudian, modal dan keuntungan sudah di tangan. Ansori mengakui 75% pendapatan nurseri Zikita diperoleh dari aglaonema. Pria asal Cirebon itu membudidayakan dan memasarkan tanaman hias daun lain.

Batu sandungan

Toh, untuk memasok pasar itu bukan tanpa kendala. Delapan dari 18 red hot chilli pepper yang Ukay boyong dari Thailand mati sia-sia. Musababnya, pemilik nurseri Annisa itu lalai mengecek kesehatan tanaman. Ternyata tanaman itu baru ditanam ulang di sana. Baru akan berakar sudah dicabut lagi, lalu dikemas untuk perjalanan Bangkok-Jakarta, tutur Ukay. Pantas setiba di tanahair, siamese rainbow seharga Rp9-juta per tanaman itu lemah, layu, dan akhirnya mati. Perkara salah kemas juga pernah dialami Harry Setiawan dan Yopie.

Iwan pernah ditipu pedagang di negeri Gajah Putih. Mantan manajer pemasaran salah satu bank swasta nasional itu membeli red peacock. Sang empunya menyebut, jenis itu belum diperbanyak. Lantaran yakin jenis itu satu-satunya, Iwan pun rela melepas uang jutaan rupiah. Namun, begitu kolektor enchephalartos itu berbelanja lagi ke Thailand, ternyata stok si merak merah ditemukan di nurseri lain. Makanya beberapa penangkar lebih suka mengincar aglaonema silangan lokal.

Kenal baik dengan para penangkar di Thailand pun belum jaminan bisa dengan mudah mendapatkan barang. Maklum, pasar sri rejeki di Thailand pun cukup kencang. Akhir Januari silam, Gunawan Widjaja terpaksa gigit jari. Mantan bankir itu semula hendak berpikir 2-3 hari dulu sebelum membeli aglaonema incaran. Eh, waktu besoknya saya datang lagi ke nurseri itu, barang sudah tidak ada. Diambil oleh kolektor kawakan di sana, kata Gunawan.

Setelah tiba di tanahair, belum tentu siamese rainbow itu cocok dengan kondisi iklim Indonesia. Perawatan berbeda membuat tanaman rentan serangan hama penyakit. Sepot chao praya seharga Rp5-juta koleksi Santi Pieters tahu-tahu layu dan mati. Santi menduga serangan cendawan-lah biang keladinya. Sementara Greg Hambali dipusingkan dengan serangan ulat dari famili Noctuidae. Ulat berwarna putih itu sangat aktif bergerak di malam hari. Ia gemar bersembunyi di dalam media, lantas menyerang batang tanaman. Begitu sang ulat menggerogoti batang, dipastikan sang ratu daun bakal tak terselamatkan.

Salah perawatan pun menjadi kendala. Dua aglaonema seharga total 40-juta milik dr Purbo Djojokusumo-kolektor di Jakarta Utara-roboh karena dipupuk berlebih. Mereka yang bermain dengan jenis-jenis mahal pun mesti siap-siap menggandakan pengamanan. Yopie menggelontorkan Rp100- juta untuk membuat pagar rapat setelah ratusan pot aglaonema senilai Rp50- juta digondol maling. (baca: Berlapis Pengamanan untukmu, sang Ratu, halaman 22-23).

Best seller

Namun, bila sandungansandungan itu teratasi, dipastikan rupiah bakal mengalir deras. Yang menikmati keuntungan bukan melulu mereka yang bermain di kelas-kelas mahal dan jenis-jenis anyar. Sri rejeki-sri rejeki lawas seperti pride of sumatera dan donna carmen dengan harga terjangkau kantong pun tetap diincar pasar. Ukay menghitung, Sebanyak 70% penjualan dari tanaman dengan harga Rp100.000-Rp300.000 per pot. Berikutnya, kelas Rp300.000-Rp500.000 (15-17%), sisanya kelas Rp500.000-Rp1.000.000 per tanaman.

Setiap bulan Suhandono mendapat pesanan 300 pot pride of sumatera. Jumlah yang sama juga terjual di kebun milik Yopie di Semarang. Lantaran permintaan pasar tidak sebanding dengan stok barang, harga aglaonema pertama berwarna merah itu pun melonjak. Pada 2004, selembar pride of sumetera hanya Rp12.500-Rp15.000. Dua-tiga bulan ke belakang harganya naik Rp20.000 per lembar daun.

Pantas Yopi pun mulai memperbanyak pride of sumatera dengan teknik cangkok. Masih juga kurang pasokan, para importir pun mendatangkan aglaonema kelahiran Bogor itu dari Thailand. Sekali datang 2.000 pot langsung habis dalam seminggu, datang lagi 2.000 pot habis lagi. Sampai-sampai orang Thailand sendiri kebingungan, papar Suhandono.

Saat ini aglaonema pertama berwarna merah itu memang menduduki peringkat teratas yang paling banyak diperdagangkan bersama lady valentine. Ukay menghitung, setidaknya 8.000 lady valentine yang diimpor sejak Desember 2004-Februari 2006 ludes terjual. Itu tanaman terdiri atas 6-7 daun setinggi 10-15 cm dengan harga Rp125.000 per pot. Kini permintaan 500 pot lady valentine terus mengalir. Dalam kurun waktu sama, Tri Rahmadi sanggup mendistribusikan 10.000 lady valentine kepada konsumen di Bandung, Yogyakarta, Medan, Makassar, dan Pontianak. Jenis lain yang juga best seller adalah heng-heng, butterfl y, lipstik, snow white, dan legacy.

Kencangnya pasar pun membuat seorang penangkar berani membuka gerai khusus aglaonema di kawasan sentra tanaman hias di Jakarta Selatan. Di lahan seluas 4 m x 20 m sekitar 700-750 pot aglaonema beragam jenis dan ukuran distok. Sejak dibuka pada Desember 2005, omzet sekarang sudah mencapai 2 kali lipat, tutur sang empunya sambil menyebut angka Rp50-juta untuk omzet per bulan.

Ekspor ke Belanda

Para pemain tak khawatir pasar bakalan jenuh. Sekarang ini kalau ada 5 pemain besar lagi pun kebutuhan pasar belum tercukupi, kata Ukay yang menginvestasikan dana hingga 9 digit untuk mengumpulkan induk-induk aglaonema asal Thailand dan silangan lokal itu. Menurut hitungan Iwan Hendrayanta yang ketua Perhimpunan Florikultur Indonesia itu, perbandingan antara permintaan dan pasokan saat ini 10: 1.

Apalagi aglaonema bukan barang pabrikan yang dapat dicetak massal dalam waktu singkat. Kini memang ada yang mencoba memproduksi sri rejeki dengan cara kultur jaringan. Tapi tidak akan semudah itu, ujar Greg Hambali. Anggota famili Araceae itu terbilang rewel bila diperbanyak dengan kultur jaringan. Setiap jenis menuntut perlakuan berbeda, misal formula media. Padahal untuk menghasilkan media tepat dibutuhkan riset bertahun-tahun. Kecepatan pertumbuhan pun lambat. Pantas bila Greg menilai secara ekonomis perbanyakan itu tidak menguntungkan. Lantaran sulit diperbanyak pula, harga sang ratu tanaman daun itu bakal terus bertahan.

Peluang ekspor pun sebetulnya terbentang bila pemain lokal bisa memanfaatkan. Thailand mendapat pesanan 40.000 pride of sumatera dari Belanda. Ini kan kecolongan, padahal pride of sumatera asli Indonesia, kata Greg. Master dari University of Birmingham itu yakin Indonesia bakal sanggup bersaing dengan negeri Siam. Apalagi jika semakin banyak penangkar dan penyilang bermunculan. Terbukti penangkar dari Thailand ikut mengincar aglaonema-aglaonema karya Greg. Saat angin bisnis aglaonema berembus kencang, siap-siaplah untuk ikut ambil bagian. (Evy Syariefa/Peliput: Hanni Sofia, Lastioro Anmi, Rahmansyah Darmawan, Rosy Nur Apriyanti, Sardi Duryatmo, Syah Angkasa, dan Syalita Fawnia)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img