Monday, August 15, 2022

Bisnis Manis Gula Sorgum

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Gula merah sorgum memiliki indeks glikemik rendah, hanya 55. (Dok. PT Sedana Panen Sejahtera)

Beberapa produsen menghasilkan gula asal batang sorgum. Produksi ludes terserap pasar.

Trubus — Muhammad Bayu Hermawan (24) baru sanggup memproduksi 500—600 kg gula asal sorgum per bulan. Bahan baku gula berupa sorgum di lahan 12 ha miliknya dan petani mitra di Kabupaten Tanahlaut, Kalimantan Selatan. Direktur eksekutif (chief executive officer, CEO) PT Banua Tani Makmur Indonesia yang memproduksi gula semut bermerek Tambi Yaku. Sayang, ia belum bisa menuruti pesanan gula lantaran kehabisan persediaan. Adapun permintaan 2—3 kalinya.

Produsen gula sorgum Tambi Yaku, Muhammad Bayu Hermawan. (Dok. Pribadi)

Lazimnya gula semut berbahan nira kelapa maupun aren. Namun, Bayu justru memanfaatkan nira batang sorgum. Bersama petani mitra, ia menanam tiga varietas sorgum, yaitu bioguma 1, pahat, dan varietas silangan alami bernama borneo. Dari ketiganya, hanya bioguma 1 yang batangnya produktif menghasilkan nira. Varietas pahat lebih cocok untuk memproduksi bulir sebagai bahan tepung dan beras fungsional. Fokus memproduksi beras—mencapai 10 ton sampai 12 ton per bulan—Bayu tidak menyangka permintaan gula justru menjulang.

Kehabisan

Produsen gula sorgum di Jakarta Pusat, PT Sedana Panen Sejahtera, juga kewalahan melayani permintaan. Produsen gula merah, gula pasir, gula cair, dan beras sorgum bermerek Sorghum Foods itu baru bisa memproduksi 200—300 kg gula per 3—4 bulan. “Kadang calon pembeli menanyakan gula padahal saat itu stok hanya beras,” kata direktur PT Sedana Panen Sejahtera, Novan Satrianto.

Gula cair sorgum produksi Sejati Petani Sorgum Indonesia (Sepasi), Tasikmalaya, Jawa Barat. (Dok. Sepasi)

Meski menanam sorgum di lahan petani mitra dengan luas tanam total sekitar 20 ha di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, produksinya belum optimal. Gula cair sorgum produksi Sejati Petani Sorgum Indonesia (Sepasi) di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, pun tidak “awet” alias cepat terserap pasar. Pembeli menyapu bersih gula itu hanya beberapa bulan pascakemas. “Hari ini gula cair habis total,” kata Ketua Sepasi Lili Sutarli kepada wartawan Trubus Sinta Herian Pawestri.

Lili Sutarli (56) menyatakan, setiap bulan Sepasi memproduksi 1 kuintal gula cair. Lili memasarkan gula itu kepada rekan-rekan dan melalui lapak di lokapasar atau marketplace. Penjualan daring juga menjadi salah satu cara Tambi Yaku dan Sorghum Foods memasarkan produk. Mereka mempromosikan dan menjalin interaksi dengan calon pelanggan melalui media sosial. Begitulah cara mereka mendapat distributor di berbagai daerah.

Bulir sorgum bisa dijadikan tepung, kue, maupun beras fungsional. (Dok. Trubus)

Para distributor itu pun menggunakan media sosial dan lokapasar sebagai kanal pemasaran mereka. Bedanya kebanyakan memiliki toko fisik atau melayani penjualan pesan antar (metode cash on delivery, COD). Bayu mengemas dan mendistribusikan produk sorgum Tambi Yaku di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat. “Pelanggan dan distributor kebanyakan di Jawa sehingga biaya dan waktu kirim efisien kalau dari Depok,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin itu.

Sementara itu Novan Satrianto memasang label Sorghum Foods di gula kristal—mirip gula pasir tapi berbahan nira sorgum. Harga jual gula semut sorgum berkisar Rp32.000—Rp70.000 per kemasan 500 gram. Adapun Lili membanderol gula cair buatan Sepasi Rp65.000 per kg.

Petani untung

Bayu, Novan, maupun Lili nihil pengetahuan detail proses maupun alat produksi gula sorgum. Periset sorgum di Southeast Asian Regional Centre for Tropical Biology (Seameo Biotrop) di Kota Bogor, Jawa Barat, Dr. Supriyanto, M.Sc., DEA menyarankan produsen menanam varietas sorgum yang menghasilkan nira dengan kandungan pati dan fruktosa rendah tapi tinggi glukosa jika hendak memproduksi gula. “Prosesnya pun memerlukan pemisahan fruktosa dari glukosa,” katanya. Ia menyatakan bahwa petani yang menanam sorgum untuk memproduksi gula lebih untung ketimbang menanam tebu.

Petani sorgum lebih untung ketimbang tebu. (Dok. PT Sedana Panen Sejahtera)

Sorgum panen pertama tiga bulan pascatanam. Bahkan, Supriyanto mengatakan, petani dapat panen ratun sampai lebih dari 10 kali. Ratun penanaman sorgum menggunakan bibit pangkasan batang sisa panen. Panen ratun pun lebih cepat, hanya 70 hari pascapanen pertama. “Yang terpenting adalah pemupukan, idealnya 3 ton per ha per siklus,” katanya. Novan membayar batang sorgum dari petani Rp600 per kg, sementara Lili membeli Rp100 per batang besar atau tiga batang kecil.

Lili Sutarli menyatakan, sekilogram gula cair memerlukan 35 kg potongan batang sorgum. Sekilogram batang terdiri dari 3—7 batang tergantung ukuran. Hitung-hitungan kasar, petani yang menanam 20.000 batang di lahan 1.000 m2 memperoleh Rp667.000—Rp1,7 juta per 3—4 bulan. Jika harga jual paling murah Rp65.000, produsen mendapat margin yang cukup. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img