Thursday, August 18, 2022

Bisnis Untung Minyak Harum

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bahan-bahan yang semula hanya sampah itu ia olah dan menghasilkan 220 kg minyak cengkih setiap hari. Omzet pria 31 tahun itu mencapai Rp297-juta per bulan.

 

Volume produksi 220 kg itu terdiri atas 2 jenis: 160 kg minyak berbahan tangkai cengkih; 60 kg berasal dari daun cengkih. Satu kg minyak disuling dari 50 kg daun atau 20 kg tangkai tanaman anggota famili Myrtaceae itu. Alumnus Universitas Islam Sultan Agung Semarang itu menjual minyak cengkih kepada eksportir di Jawa Tengah. Harganya Rp46.000 per kg minyak tangkai cengkih dan Rp44.000 per kg minyak daun cengkih.

Menurut Afandi biaya produksi minyak tangkai cengkih mencapai Rp37.500; minyak daun cengkih, Rp30.000. Biaya lain yang mesti ia keluarkan adalah ongkos kirim ke Jawa Tengah senilai Rp1.500 per kg. Laba bersih sarjana Teknik Sipil itu mencapai Rp54-juta sebulan. Nur Afandi tergerak menjadi penyuling minyak asiri ketika mendapat informasi dari teman kuliahnya bahwa daun-daun cengkih di Kolaka Utara dibiarkan mengonggok.

Ia teringat kerabatnya yang menjadi penyuling minyak cengkih di Karanganyar, Jawa Tengah, dan hidup sejahtera. Setahun lalu ia meninggalkan kampung halaman di Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, dan pergi ke Desa Lanipa-nipa, Kolaka Utara. Modal Rp200-juta yang ia pinjam dari mertuanya sekarang sudah lunas. Di kabupaten yang kini berumur 5 tahun itu, Nur Afandi adalah orang pertama yang menyuling minyak asiri.

Pasar stabil

Abduh Salam di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menyuling nilam Pogostemon cablin. Produksinya 180 kg per hari. Saat ini harga jual minyak nilam ‘cuma’ Rp600.000-Rp700.000 per kg. Bandingkan dengan setahun lalu, ketika pasokan berkurang harga minyak nilam mencapai Rp1,2-juta per kg. Untuk menghasilkan 1 kg minyak ia perlu 50 kg daun nilam kering.

Dengan biaya produksi Rp250.000, dokter hewan alumnus Institut Pertanian Bogor itu memetik laba bersih Rp63-juta sehari. Itu jika pasokan bahan baku mengalir lancar. Pada Juni-Agustus biasanya bahan baku berkurang sehingga pria 30 tahun itu hanya mampu menyuling 3 kali sepekan. Di luar bulan itu, Abduh menyuling setiap hari. Abduh memasarkan minyak nilam sulingannya ke eksportir.

Nur Afandi dan Abduh Salam hanya beberapa penyuling skala rumahan yang belakangan kian marak. Mereka berdua mempunyai kesamaan: masih muda, tak punya latar belakang pendidikan pertanian, dan menjadi jutawan berkat perniagaan minyak asiri.

Minyak asiri? Menurut Ir Sofyan Rusli minyak asiri adalah minyak yang diproses dari berbagai bagian tanaman seperti daun, bunga, biji, buah, batang, akar, atau rimpang. Periset Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aromatik itu mengatakan minyak asiri bersifat mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, beraroma wangi, rasa getir, dan larut dalam pelarut organik.

Selain cengkih dan nilam, produsen di Indonesia menyuling 12 tanaman. Padahal, sebagai negara megabiodiversitas Indonesia mempunyai setidaknya 40 komoditas potensial untuk disuling menjadi minyak asiri yang pasarnya terbentang. ‘Secara keseluruhan prospek minyak asiri sangat bagus. Karena pasar internasional minyak asiri berkembang stabil, tak terpengaruh krisis finansial,’ kata Robby Gunawan, vice president PT Indesso Aroma, produsen dan eksportir minyak asiri.

Asiri 24 jam

Peluang pasar minyak asiri amat besar lantaran ia multimanfaat. ‘Dari bangun tidur, sampai mau tidur lagi kita selalu membutuhkan minyak asiri,’ ujar Sofyan. Minyak terbang itu berguna antara lain sebagai bahan baku parfum, kosmetik, obat-obatan, dan penyedap.

Ari Widjaja, eksportir di Yogyakarta, menuturkan pasar minyak asiri dunia terbagi 2 segmen. Pertama, permintaan pasar yang tinggi dan stabil lantaran pertumbuhan penduduk relatif rendah. Contoh, pasar Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Kedua, pasar yang terus tumbuh karena perbaikan ekonomi dan standar kehidupan yang progresif. Negara-negara di Eropa Timur dan negara-negara berkembang contoh pasar yang terus tumbuh.

‘Potensi konsumsi jangka panjang di pasar yang sedang tumbuh secara keseluruhan akan melebihi tingkat konsumsi negara-negara industri. Menurut Setio Hartono yang termasuk 6 besar minyak asiri yang diekspor Indonesia adalah minyak cengkih, minyak nilam, minyak akarwangi, minyak serehwangi, minyak pala, dan minyak kenanga.

Lokasi

Meski minyak asiri menjanjikan laba tinggi, tak gampang mewujudkan impian meraih untung. Sederet hambatan menghadang dari hulu ke hilir, dari kebun hingga pemasaran. Menurut Joko Wiyanto, produsen di Kendal, Jawa Tengah, memilih lokasi penyulingan-terutama minyak cengkih-tak dapat sembarangan. Lokasi terpilih harus tersedia sumber air yang memadai untuk mendinginkan pipa destilasi.

Ketersediaan bahan baku juga masalah lain bagi penyuling. Lihat saja Muharto yang menyuling bunga melati di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pria 55 tahun itu sulit memperoleh bahan baku lantaran sebagian besar melati terserap pabrik-pabrik teh. Jika pun dapat, harganya membumbung hingga Rp20.000 per kg. Padahal, untuk menghasilkan 1 kg minyak perlu 500 kg bahan baku.

Maklum, Muharto memperoleh rendemen minyak melati hanya 0,1-0,2%. Bahkan, rendemen penyuling lain cuma 0,01% sehingga menghabiskan 1 ton bahan baku untuk menghasilkan 1 kg minyak melati. ‘Jika untuk ekspor perlu kuantitas besar dan berkelanjutan, kira-kira 500 kg. Itu berarti perlu 500 ton bahan baku. Itu tak mungkin terpenuhi karena terbatasnya bahan baku,’ ujar Hesti Rumaisah, penyuling di Yogyakarta.

Masalah bahan baku memang pelik dan jamak dialami oleh penyuling. Dari 8 penyuling akarwangi di Desa Randukurung, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, saat ini hanya seorang yang bertahan. Selebihnya berhenti sementara lantaran sulit mendapat akarwangi. Musababnya, banyak pekebun berhenti menanam akarwangi Andropogon zizanioides lantaran harga jual anjlok dari Rp2.000 menjadi Rp1.400 per kg kering.

Celakanya, para penyuling umumnya tak mengebunkan akarwangi sehingga mengandalkan pasokan dari pekebun. Setahun lalu mereka-para penyuling-menurunkan harga beli lantaran rendemen rendah. Dari 1.000 kg bahan baku, penyuling memperoleh 4 kg minyak; biasanya, 5-6 kg. Belum jelas penyebab turunnya rendemen mereka.

Dengan asumsi harga bahan baku Rp2.000 per kg dan rendemen turun, penyuling harus menghabiskan Rp500.000 untuk menghasilkan 1 kg minyak. Saat ini harga per kilo minyak akarwangi di tingkat penyuling mencapai Rp500.000. Jika biaya bahan baku saja, Rp500.000 per kg, penyuling pasti tekor. Bandingkan bila rendemen tinggi, 1.000 kg akarwangi menghasilkan 5-6 kg minyak sehingga penyuling meraup laba hingga Rp1-juta.

Ede Kadarusman mampu bertahan sebagai penyuling akarwangi lantaran mengelola 10 ha lahan sehingga pasokan bahan baku terjamin. Kelangkaan bahan baku seperti akarwangi juga dihadapi oleh penyuling minyak asiri lain seperti nilam dan kenanga.

Minyak gosong

Jika problem kelangkaan bahan baku teratasi, bukan berarti penyuling melenggang. Hambatan lain bakal terus menghadang. Sejak kenaikan harga minyak, banyak penyuling akarwangi berupaya mempercepat waktu penyulingan dengan meningkatkan tekanan penyulingan hingga 5 bar; lazimnya, 2 bar. Penyuling beranggapan, dengan meningkatkan tekanan berarti hemat konsumsi bahan bakar. Meski terjadi penghematan, tetapi sangat tidak signifikan. Alih-alih berhemat, mereka malah memproduksi minyak bermutu rendah. ‘Aroma minyak seperti gosong dan minyak akarwangi malah tak terambil,’ kata Robby Gunawan yang menerima pasokan beragam minyak asiri dari penyuling skala rumahan.

Bagi eksportir atau pengepul, mengetahui mutu minyak sebuah keharusan. Bambang Tantho, pengepul di Yogyakarta, pernah tertipu gara-gara tak tahu minyak nilam berkualitas. Ia menerima pasokan 2 kuintal minyak nilam yang ternyata dicampur minyak goreng yang menyebabkan kerugian hingga belasan juta rupiah. Selain itu bagi eksportir, modal harus memadai lantaran beberapa importir baru membayar minyak asiri yang dibelinya 90 hari kemudian.

Menurut Robby Gunawan ‘hambatan’ lain adalah kebijakan pemerintah, institusi riset, dan pendidikan kerap kurang sejalan sehingga kurang mendorong berkembangnya minyak asiri. Ia mencontohkan India pada 20 tahun lalu yang cuma peringkat ke-4 produsen minyak mint Mentha arvensis dan Mentha piperita. Institusi riset dan perguruan tinggi di negara itu meneliti teknologi budidaya hingga proses produksi yang efi sien. Sedangkan pemerintah memberikan insentif pajak bagi pengusaha. Hasilnya, kini India produsen minyak mint nomor wahid di planet Bumi.

Industri minyak asiri memang makin berpusat di Asia. Eksportir terbesar minyak nilam adalah Indonesia; minyak mint, India. China merajai ekspor minyak mawar yang dulu dikuasai Bulgaria dan Turki. Pergeseran itu lantaran, ‘Ongkos tenaga kerja di Asia relatif murah. Bagaimana pun industri minyak asiri tetap padat karya,’ ujar Robby, master Teknik Kimia alumnus Cornell University.

Margin besar

Jika beragam hambatan teratasi, penyuling bakal menangguk laba besar. Budi Dharmawan, contohnya, yang menyuling daun-daun cengkih berserakan. Volume produksinya mencapai 40-50 ton per tahun. Pria kelahiran Pati 26 November 1936 itu hanya menyuling pada Maret-Desember lantaran rendemen relatif tinggi, 2%. Pada musim hujan rendemen hanya 0,5-1%.

Dengan harga jual Rp44.000 per kg, Budi meraup omzet Rp1,7-miliar-Rp2,2-miliar. Biaya produksi untuk menghasilkan sekilo minyak daun cengkih Rp30.000 sehingga laba bersihnya Rp500-juta-Rp1,5-miliar. Ia menyuling tak sengaja ketika pemasaran cengkih diatur oleh Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih pada 1991-2000. Saat itu harga bunga Syzygium aromaticum Cuma Rp2.500; sekarang, Rp50.000 per kg.

Dampaknya banyak pekebun membiarkan pohon kerabat jambu air itu merana. Saat itu pada 1995 Budi tergerak menyuling daun cengkih yang bertahan hingga kini. ‘Usaha penyulingan cengkih menguntungkan karena margin mencapai 50%,’ kata purnawirawan Angkatan Laut itu. Ia mengelola 47.000 pohon berumur 30-an tahun di Kendal. Tentu saja untuk menjadi penyuling, tak selamanya harus mempunyai kebun seperti Budi Dharmawan.

Sutrisno dan Hadi Karno, hanya beberapa contoh penyuling tanpa kebun. Mereka tinggal di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah. Sutrisno mencari bahan baku di kebun-kebun masyarakat di sana dan menyulingnya sehingga memetik 50-68 kg minyak. Omzet pria kelahiran 6 Juli 1969 itu minimal Rp2,2-juta per hari. Saat ini harga minyak cengkih di tingkat penyuling Rp44.000 per kg.

Harga minyak itu cenderung meningkat saban tahun. Pada 1989 harga 1 kg minyak cengkih baru Rp2.000, kemudian melonjak menjadi Rp3.500 pada 1997 dan Rp9.000 (1998), dan kini membumbung Rp44.000-Rp47.000.

Pasar internasional menghendaki minyak cengkih berkadar eugenol 80%, bobot jenis pada suhu 25oC berkisar 1,032-1,042, dan indeks refraktif pada suhu 20oC antara 1.530-1.535. Penyuling skala rumahan mampu memenuhi standar mutu ekspor itu. Oleh karena itu minyak cengkih produksi penyuling tetap diterima beberapa eksportir seperti PT Indesso Aroma dan CV Indaroma.

Merajai

Berbicara minyak asiri, tak terlepas dari minyak nilam yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia. Minyak Pogostemon cablin itu sohor sebagai fi ksatif alias pengikat aroma wangi dan mencegah penguapan zat wangi pada parfum. Menurut Setio Hartono kebutuhan minyak nilam

dunia 2.000 ton per tahun. Yang terpasok 1.500 ton sehingga terdapat ceruk 500 ton. Kebutuhan minyak nilam bakal terus meningkat lantaran pertumbuhan masyarakat menengah-atas.

‘Setiap produk yang wangi seperti pewangi pakaian dan tisu pasti pakai minyak nilam sebagai pengikat,’ kata Setio. Indonesia menjadi eksportir terbesar minyak nilam. Badan Pusat Statistik mencatat ekspor minyak nilam Indonesia pada 2006 mencapai 1,3 ton senilai US$18,865,165. Kira-kira 80% kebutuhan minyak nilam dunia dipasok oleh Indonesia. China dan India mencoba mengembangkan tanaman anggota famili Labiatae itu, tetapi gagal lantaran pengaruh agroklimat.

Ekspor minyak nilam itu antara lain pasokan dari penyuling skala kecil seperti Susana Hartanti. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu memproduksi 100-200 kg minyak nilam per bulan untuk memasok eksportir di Surabaya dan Jakarta. Permintaan sebetulnya lebih besar daripada itu. Sebagai gambaran importir di Jepang, Amerika Serikat, India, dan Singapura total meminta pasokan rutin 1 ton per bulan. Namun, ia tak sanggup melayani.

Demikian juga PT Takasago Indonesia yang baru sanggup menampung 6 ton per tahun hasil sulingan rakyat. Enam ton selebihnya ia produksi sendiri. Padahal, perusahaan itu membuka kemitraan di berbagai daerah seperti Malang, Kediri, Subang, Kuningan, dan Banjarnegara. Lucky Permana, manajer pemasaran Takasago, mengatakan ia tak membatasi volume pasokan sepanjang memenuhi standar mutu: kadar patchouli alcohol 30%.

Di antara 5 besar minyak asiri Indonesia, nilam-lah yang harganya paling fluktuatif. Pada 2007 harganya mencapai Rp1,2-juta. Keruan saja laba penyuling juga membumbung lantaran biaya produksi ‘cuma’ Rp350.000 per kg. Harga menjulang itu lantaran Aceh, sentra nilam terbesar, dilanda tsunami pada 25 Desember 2005. Di Bumi Serambi Mekah itu terdapat 710 ha lahan nilam. Saat ini harga sekilo minyak nilam di tingkat penyuling Rp600.000- Rp800.000.

Skala kecil

Selain minyak cengkih dan nilam, permintaan minyak asiri lain seperti minyak kenanga, minyak pala, akarwangi, serehwangi, dan minyak melati juga tinggi. Kurniawan di Ciawi, Kabupaten Bogor, cuma sanggup memproduksi 300 kg minyak pala per pekan. Padahal, permintaan rutin dari Perancis saja mencapai 1.000 kg per pekan. Belum lagi permintaan dari India dan Denmark. Pasar minyak asiri yang menganga itu menjanjikan laba besar setelah beragam kendala terlewati.

Lagi pula memasarkan minyak terbang itu relatif gampang. Bagi pemula, dapat menyetorkan minyak ke para eksportir yang tak membatasi jumlah pasokan asal standar mutu terpenuhi. ‘Asal sesuai dengan standar nasional, kami siap menerima minyak dari penyuling mana pun,’ kata Suwandi dari PT Djasula Wangi. Penyuling tinggal menyetor minyak asiri sesuai standar. PT Djasula Wangi, eksportir beragam minyak asiri di Kemayoran, Jakarta Pusat, mengandalkan semua pasokan dari para penyuling. Setiap tahun perusahaan itu antara lain mengekspor 300 ton minyak nilam dan 400 ton minyak cengkih. PT Indaroma, misalnya, tetap menampung pasokan penyuling rakyat meski cuma 2 jerigen. Memang penyuling juga mesti memperhitungkan biaya transpor atau pengiriman. Namun, jika jarak relatif dekat pasokan kecil bukan masalah bagi penyuling.

Toh, berbisnis minyak terbang, tak selamanya mesti berskala besar. Anas Ahmad, Prayitno, dan Muharto hanya beberapa contoh penyuling skala kecil, terlepas dari langkanya bahan baku. Anas, umpamanya, hanya menghasilkan masing-masing 100 cc minyak melati dan minyak mawar per bulan. Sebanyak 100 cc minyak ia proses dari 100 kg bunga. Penyuling di Malang, Jawa Timur, itu memasarkan hasil sulingannya ke spa-spa dan produsen sabun di Surabaya dan Jakarta.

Harganya? Alumnus Teknik Elektro Universitas Brawijaya itu memperoleh harga Rp3,5-juta per 100 cc. Artinya omzet Anas Rp7-juta dari penjualan masing-masing 100 cc minyak melati dan minyak mawar sebulan. Saat ini harga bunga melati di Malang Rp10.000 per kg sehingga ia menghabiskan Rp1-juta untuk pengadaan bahan baku. Laba besar yang mereka raup memang menggiurkan bagi siapa pun. Minyak asiri tak cuma harum, tetapi juga menguntungkan. (Sardi Duryatmo/Peliput: Ari Chaidir, Destika Cahyana, Faiz Yajri, Lastioro Anmi Tambunan, & Tri Susanti)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img