Tuesday, November 29, 2022

Blitar 1st National Flora Festival Walikota Cup Bunga Ra Chine Pandok di Tubuh Obe

Rekomendasi

Penampilan obesum berbunga RCN itu memang luar biasa. ‘Ia satu-satunya tanaman yang paling siap. Peserta lain tak ada yang mampu memunculkan bunga selebat itu. Maklum kontes kali ini digelar saat masih musim penghujan,’ tutur Andy Solviano Fajar, koordinator juri adenium pada kontes bertajuk Blitar 1st National Flora Festival Walikota Cup itu. Banjir bunga arabicum ra chine pandok (RCN) di atas batang bawah Adenium obesum itu kian menegaskan julukan RCN sebagai thousand of flower.

Ucapan Andy itu bukan omong kosong. Dari 106 peserta hanya 3 peserta yang masuk kelas total performance besar. Kelas itu tergolong paling bergengsi karena semua unsur pembentuk tanaman: bonggol, batang, cabang, ranting, daun, hingga bunga dinilai. Di kelas lain-yang juga seluruh unsur pembentuk tanaman dinilai-seperti arabicum RCN dan non-RCN tak satu pun yang semarak bunga. Hanya 4 tanaman di kelas bunga kompak yang mampu menampilkan bunga.

Bedanya, pada bunga kompak hanya keseragaman dan proporsi bunga yang dinilai. Unsur keindahan seperti alur, dimensi, dan komposisi pada umbi, batang, dan cabang dinilai sekaligus pada kesan pertama. ‘Kelas bunga kompak tak diikutkan pada perebutan gelar grand champion,’ kata Supriyanto, juri senior asal Ponorogo, Jawa Timur. Lantaran itulah koleksi Fandi menang mutlak pada perebutan gelar grand champion dengan nilai 63,1 setara 70,1%. Jawara di kelas lain-arabicum RCN dan non-RCN-tak ada yang sanggup mencapai persentase di atas 70%.

Seru

Bila sang grand champion menang mutlak atas lawan-lawannya di kelas lain, pertarungan di kelas unik berlangsung seru dan ketat. ‘Sebanyak 70% peserta unik alami dan kreasi mantan juara di tingkat lokal dan nasional,’ kata Gatut Wahyu Wibisono, juri asal Blitar. Sebut saja gajah, kepala kerbau, tebing, dan menjangan yang pernah menjadi jawara, turut meramaikan persaingan.

Di kelas unik alami, tebing, mantan kampiun Kontes Adenium Bumi Serpong Damai pada November 2006, mampu menunjukkan kualitasnya sebagai juara nasional (baca: Kontes Adenium Bumi Serpong Damai Dominasi 3 Yaman, Trubus Januari 2007). Dengan total nilai 20,6 tebing menyingkirkan 2 pesaingnya, tebing mini dan tyrexsaurus yang masing-masing memperoleh poin 20,5 dan 18,3. ‘Tingkat kealamian tebing sangat tinggi. Jejak sambungan daun cryspum pada bonggol yang nyaris seperti papan sangat samar,’ kata Andy.

Penelusuran Trubus, penampilan sang jawara di kelas unik alami itu stabil. Pada kontes di Bumi Serpong Damai koleksi Saudi asal Tulungagung itu mengumpulkan nilai 20,5. Artinya nilai saat ini naik 0,1. Pesaing terdekatnya, tebing mini, tak kalah menarik. Dengan nilai 20,5 koleksi Nursalim dari Kediri itu memikat juri karena mampu menampilkan 2 kuntum bunga mekar sempurna. Pantas 5 juri-Andy Solviano Fajar, Supriyanto, Gatut Wahyu Wibisono, Syah Angkasa, dan Destika Cahyana-menobatkannya sebagai runner up.

Beragam lomba

Kontes yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Blitar bekerja sama dengan Asosiasi Penggemar Tanaman Hias Blitar (ANMARTHA) itu tak hanya menampilkan lomba adenium. Beragam tanaman hias indoor seperti caladium, sansevieria, anthurium, aglaonema, dan tanaman unik pun digelar. Pencinta ‘saudara tua’ adenium alias bonsai pun tak mau kalah. Tercatat 50 bonsai beradu penampilan di sana. ‘Total jenderal peserta lomba 237 tanaman,’ kata Dwi Cahyono Adi dari AMARTHA.

Pada kontes sansevieria, lidah mertua S. gracilis koleksi Fita Irawati dari Blitar mampu merebut perhatian juri. Sosok lidah jin-sebutan sansevieria di Malaysia-itu meliuk seperti tanduk kerbau. Dari ujung liukan keluar bunga yang menambah cantik penampilannya ‘Butuh perlakuan khusus untuk membentuknya. Tanaman juga sehat dan utuh,’ kata A Gembong Kartiko, juri asal Batu, Malang. Ia mengalahkan sansevieria berbentuk samurai milik Daman, Mojokerto. Sang runner up ialah pendatang baru di dunia lidah mertua nusantara. Ia disebut-sebut tanaman indoor paling disukai di Korea.

Yang tak kalah seru persaingan di lomba caladium majemuk. Keladi lawas seperti wayang, batik, dan lokal membuktikan mampu tampil tegak layaknya aglaonema. Ketiganya berbagi tempat di posisi 1-3 mengalahkan 8 peserta lain. ‘Ini kontes caladium pertama kali, tapi kualitas peserta istimewa. Yang lokal (juara 3, red) tak kalah dengan wayang dan batik. Hanya penempatan di pot saja yang kurang pas,’ ujar Gembong.

Itulah penampilan tanaman-tanaman terbaik di Blitar 1st National Flora Festival Walikota Cup 2007. Seperti Fandi yang bersusah payah mendorong tanaman berbobot 2 kuintal. Mereka yang terbaik buah pengorbanan dari sang pemilik dalam merawat tanaman. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img