Monday, August 8, 2022

Bobol Mitos Cetak Anthurium Variegata

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Itulah cara Edhi Sandra, pemilik nurseri Esha Flora, membuat variegata. Keajaiban yang dibuat dosen Fisiologi Tanaman Institut Pertanian Bogor itu tak terhenti sampai di situ. Perlakuan diulang pada hookeri tanduk berbonggol 5 cm. Ketika bonggol dicacah 4, daun yang muncul seluruhnya variegata

Spektakuler! Itulah kata tepat untuk teknik temuan Edhi Sandra. Pasalnya, selama ini variegata buatan dianggap seperti mitos. ‘Banyak yang mengaku bisa, tapi tak ada bukti. Kebanyakan kembali normal,’ kata A Gembong Kartiko, pemain tanaman hias di Jawa Timur. Secara sederhana, variegata diartikan munculnya warna atau bercak putih pada bagian tanaman-batang, daun, dan buah-karena kelainan genetik yang permanen.

Karena mutasi bersifat genetik, banyak kalangan meragukan variegata dapat diciptakan. Sebut saja Lanny Lingga, pakar tanaman hias di Cisarua, Bogor. Menurutnya tidak ada faktor luar apa pun yang mampu membuat tanaman menjadi variegata. ‘Perubahan lingkungan maupun kultur teknis tak dapat memicu timbulnya variegata,’ katanya. Itu karena mutasi genetik dikendalikan oleh kromosom pembentuk tanaman. Kemunculannya terjadi secara spontan, tapi melalui tahap-tahap tertentu.

Toh, Edhi tak surut melawan ketaklaziman. Bermula pada awal 2007 ketika seorang sahabat menanyakan sejenis hormon yang mampu membuat variegata. Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di telinganya sehingga memacu untuk membuatnya. ‘Semua riset besar selalu diawali dengan ketidakmungkinan. Saya akan mencoba,’ katanya. Berbekal pengetahuan di bidang fisiologi tanaman lebih dari 10 tahun, staf pengajar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mulai bereksperimen.

Dua variegata

Menurut Edhi secara fisiologis variegata muncul akibat genetik maupun buatan. Yang dimaksud buatan, membuat kondisi fisiologis tanaman tak mampu menghasilkan klorofil. Cara termudah dengan menurunkan pH. Pada kondisi asam, logam berat terlepas dari tanah dan membuat tanaman keracunan logam. Misalnya, penurunan pH dilakukan dengan mencampurkan abu gosok ke dalam media. Sayang, sifat variegata buatan tidak dapat diturunkan. Bagi Lanny Lingga, teknik sederhana itu bukanlah membuat variegata, tetapi mengkondisikan tanaman agar terjadi proses defoliation alias menurunkan pigmen hijau daun.

Variegata yang muncul secara genentik dapat diturunkan. Untuk menciptakannya tanaman dibuat mutasi. ‘Mutasi terjadi saat replikasi DNA. Pembelahan sel berlipat ganda dan terganggu. Biasanya terjadi di pucuk atau meristem (titik tumbuh, red),’ kata Edhi. Lantaran itu perlakuan diberikan pada bonggol yang terdapat pucuk sebagai tempat tumbuh.

Untuk membuat mutasi diperlukan senyawa pemicu. Dari pengalaman diketahui pemakaian giberelin membuat tanaman pucat dan berwarna keputihan. Musababnya, giberelin melipatgandakan sel sehingga kalus tak sempat membuat klorofil. Selain giberelin, dibutuhkan pula sitokinin yang menghambat akar dan auksin yang menghambat pucuk. Maka sitokinin dan auksin seimbang dicampur dengan giberelin yang lebih tinggi. ‘Tujuannya pembentukan akar dan pucuk terhambat, tapi pembelahan sel cepat,’ tutur Edhi.

Langkah berikutnya tambahkan ramuan dengan magnesium sebagai penyusun warna minor daun. Ramuan lalu diperkaya dengan boron dan mangan. Kedua unsur itu membantu pembentukan tunas. ‘Semua zat pengatur tumbuh dan unsur kimia dicampur jadi satu. Lalu semprotkan pada mata tunas yang terletak di bonggol,’ katanya. Agar perubahan terjadi sampai ke tingkat gen, maka dibutuhkan sentakkan yang menghambat proses pembelahan secara mendadak. Caranya dengan menyemprot cholchicine, zat penghambat. Cholchicine bersifat poliploid sehingga bila mengenai tangan manusia membuat sel dalam tubuh membelah berlipat ganda. Dampaknya tubuh rentan kanker.

Dua minggu

Ramuan pembuat variegata itu cukup disemprotkan ke seluruh bagian tanaman dan media sampai basah kuyup. Penyemprotan dilakukan setiap hari selama 1-2 minggu sebanyak 10-20 cc. Selama perlakuan tanaman tidak perlu dipupuk. ‘Bila mau dipupuk, lakukan setengah dari dosis anjuran. Pakai juga pupuk rendah N,’ saran Edhi. Penyiraman dilakukan 2 hari sekali agar hormon yang disemprotkan tidak tercuci. Setelah 2 minggu, perlakuan dihentikan.

Bila perlakuan tak dihentikan, tanaman mati. Selama penyemprotan biasanya tanaman merana. Akar dan bonggol busuk, atau pucuk mati. Untuk itu, pascaperlakuan diberikan myoinositol sebagai energi tambahan. Atau berikan larutan gula, pupuk organik, dan KNO3 untuk memulihkan tanaman. Lantaran risiko itulah, Edhi hanya menyarankan perlakuan diberikan pada tanaman sehat dengan diameter bonggol di atas 2 cm. ‘Bila disemprotkan pada tanaman muda, besar kemungkinan mati,’ katanya.

Menurut Edhi, ramuan itu telah sukses membuat 5 anthurium koleksinya variegata permanen. Sebut saja Anthurium jenmanii jeruk dan sawi, anthurium keris, hookeri tanduk, dan black garuda. Sayang, mutasi yang terjadi tak hanya membuat variegata, tapi juga membuat bentuk dan ukuran berubah. Sebut saja black garuda, ukurannya menjadi kecil. ‘Eksperimen belum selesai, dibutuhkan penyempurnaan,’ tuturnya. (Destika Cahyana/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img