Procula Rudlof Matitaputty, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Peternakan BRIN, memaparkan hasil penelitian mengenai kambing Lakor asal Pulau Lakor, Maluku Barat Daya. Ia menyebut kambing lokal itu memiliki keunggulan seperti produktivitas tinggi, adaptasi kuat pada lingkungan kering, pola warna beragam, dan pertumbuhan cepat.
Rudlof menegaskan bahwa hasil riset menunjukkan kambing Lakor termasuk kelompok monofiletik dengan satu garis maternal yang sama. Temuan itu menandakan kemurnian genetik yang kuat.
Meski demikian, ia juga menyoroti sejumlah tantangan lapangan seperti terbatasnya tenaga kesehatan hewan dan rendahnya kapasitas peternak dalam manajemen reproduksi. Selain itu, pemasaran hewan produktif belum terarah dan ketersediaan obat serta layanan kesehatan ternak masih terbatas.
Menurut Rudlof, teknologi molekuler seperti genome sequencing semakin penting untuk mengungkap keragaman genetik secara akurat. Teknologi itu juga mendukung konservasi plasma nutfah dan pemuliaan berbasis data.
“Kambing Lakor memiliki prospek pengembangan yang sangat baik. Tingkat keragamannya menjadi modal penting untuk program pemuliaan dan peningkatan produktivitas,” ujarnya melansir pada laman BRIN.
Ia menambahkan bahwa kearifan lokal masyarakat turut memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian populasi kambing Lakor. Rudlof menilai penelitian lanjutan masih dibutuhkan guna menggali informasi genetik yang belum terungkap.
Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Pemuliaan Ternak Universitas Hasanuddin, M. Ihsan Andi Dagong, memaparkan kajian genetik kambing lokal di Kawasan Timur Indonesia berdasarkan marka SRY dan mtDNA. Ia menjelaskan bahwa kambing didomestikasi sekitar 10.000 tahun lalu dan kini tersebar hampir di seluruh dunia.
Hasil analisis genetika maternal menunjukkan haplogroup B mendominasi populasi kambing lokal dengan frekuensi 0,950. Sementara itu, haplogroup A hanya mencapai sekitar 0,050.
Untuk marka paternal SRY, ditemukan tiga haplotype yakni Y1AA, Y2A, dan Y2B. Dari ketiganya, haplotype Y1AA menjadi yang paling dominan di populasi lokal.
“Informasi ini penting untuk menelusuri sejarah domestikasi dan hubungan antar-ras. Data itu juga menjadi dasar dalam merancang strategi pemuliaan yang lebih presisi,” jelas Ihsan.
BRIN berharap kegiatan tersebut memperkuat kolaborasi lintas lembaga, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah dalam menjaga sumber daya genetik ternak nasional. Upaya riset berkelanjutan dinilai menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan Indonesia di masa depan.
