Sunday, May 19, 2024

Buah Bintang Unggulan Bojonegoro

Rekomendasi
- Advertisement -
Belimbing di sentra Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, berukuran besar, lembut, dan manis.
Belimbing di sentra Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, berukuran besar, lembut, dan manis.

Ciri khas belimbing asal Bojonegoro, besar, manis, dan lembut.

Belimbing berwarna kuning itu bertekstur renyah. Citarasanya lembut dan manis menyegarkan. Para juri mengganjar belimbing dari kebun Supangat itu menjadi yang terbaik pada kontes adu unggul buah bintang di Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, pada 20 September 2015. Menurut juri, Joko Pudjo Wiyono SP dari Dinas Pertanian, ada 4 kriteria penilaian mereka, yaitu rasa, tektur buah, ukuran atau bobot, dan warna.

Menurut Joko syarat belimbing unggul adalah besar, manis, berdaging lembut, dan berwarna kuning jingga. Buah Averrhoa carambola milik Supangat itu memiliki semua kriteria itu, kecuali warna. “Warna terbaik adalah yang mendekati jingga, warna belimbing Bojonegoro kebanyakan kuning agak gelap,” ujar Joko yang juga kepala Seksi Sumberdaya Manusia Dinas Pertanian Bojonegoro itu.

 Wakil bupati Drs H Setyo Hartono MM (kanan) ikut menikmati gunungan belimbing.
Wakil bupati Drs H Setyo Hartono MM (kanan) ikut menikmati gunungan belimbing.

Tahan banjir
Untuk memberikan penilaian terbaik, juri mengiris lalu mencicipi satu per satu belimbing peserta. “Penentuan tanpa mengetahui siapa pemilik belimbing itu. Akhirnya semua juri sepakat belimbing dengan nomor peserta 4 adalah yang terbaik,” kata juri, Dyah Enggarini Mukti SE dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Kecamatan Kalitidu, asal belimbing juara semula bukan sentra belimbing.

Penanaman buah anggota famili Oxalidaceae itu baru dimulai pada 1984 oleh Zaenuri, warga Desa Ngringinrejo. Desa seluas 20,4 ha itu menjadi langganan banjir lantaran terletak di antara liukan Bengawan Solo. Posisi Ngringinrejo dan Mojo—desa sebelahnya—terimpit di tengah liukan. Sisi barat dan sisi timur desa dilewati sungai yang bernuara ke Laut Jawa di Kabupaten Gresik itu.

Gunungan belimbing setinggi 3 m dalam acara sedekah bumi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Gunungan belimbing setinggi 3 m dalam acara sedekah bumi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Dari tahun ke tahun, banjir semakin menggerus tanah. Tanpa pencegahan, kedua desa itu tenggelam ditelan sungai. Warga menanami lahan dengan berbagai tanaman produktif, terutama tanaman pangan, dan hortikultura. Namun, “Setelah banjir, semua tanaman mati. Hanya belimbing yang bertahan, bahkan tetap berbunga dan berbuah,” ujar Nur—sapaan Zaenuri.

Ia lantas menanam belimbing secara besar-besaran di lahan miliknya. Untuk mengatasi kekurangan bibit, Zaenuri mendatangkan buah segar dari Kabupaten Tuban, yang bersebelahan dengan Bojonegoro. Ia menyemai biji asal buah segar sampai menjadi tanaman baru. Semula warga mencemooh. “Tanaman sekian banyak saja hanyut, apalagi belimbing yang hanya ditanam dengan jarak 3 m x 4 m,” tutur Nur menirukan ucapan warga.

Setelah banjir menerpa dan pohon-pohon belia itu mampu bertahan, barulah warga beramai-ramai mengikuti. Kini belimbing-belimbing itu menjadi andalan Ngringinrejo. Menurut Kepala Desa Ngringinrejo, Moch Syafii, di desanya ada 104 petani belimbing dengan 9.604 pohon. Kebun belimbing hasil penanaman Zaenuri kini menjadi agrowisata yang menarik ribuan pengunjung pada akhir pekan dan hari besar.

Warga antusias memperebutkan belimbing dari gunungan.
Warga antusias memperebutkan belimbing dari gunungan.

Agrowisata
Menurut Syafii selama liburan Tahun Baru 2015, omzet harian di sentra belimbing Ngringinrejo mencapai Rp17-juta per hari. Meski menjual dengan harga berbeda-beda, berkisar Rp7.500—Rp10.000 per kg, semua petani kebagian rezeki. Petani seperti Supangat, yang keunggulan buah belimbingnya diakui banyak orang, membanderol belimbing Rp10.000 per kg.

Tetangga Ngringinrejo, Desa Mojo, menghadapi masalah sama, yaitu banjir tahunan. Mereka pun enggan tenggelam sehingga pada 1989, warga Mojo ikut menanam belimbing. Menurut pelopor penanaman belimbing di Mojo, Hari Sulistyadi, banjir memang mengurangi produksi pada periode bunga saat itu. Namun, pada periode berikutnya, produksi bunga dan buah kembali normal.

Supangat pemilik belimbing juara ke-1 festival belimbing di Bojonegoro, Jawa Timur.
Supangat pemilik belimbing juara ke-1 festival belimbing di Bojonegoro, Jawa Timur.

“Produktivitas tanaman berkisar 50—200 kg per tahun, rata-rata 80 kg per tanaman per tahun,” kata Hari. Kini Mojo menjadi pendukung Ngringinrejo dalam memproduksi belimbing. Saat permintaan melonjak—biasanya pada musim liburan—belimbing Mojo menjadi pengisi kekurangan produksi Ngringinrejo.

Kesuksesan menanam belimbing menjadi berkah bagi warga Ngringinrejo dan Mojo. Itu sebabnya mereka menjadikan buah itu sebagai bagian utama 2 buah gunungan dalam acara tahunan sedekah bumi, yang diadakan bersamaan dengan festival belimbing itu. Acara yang dihadiri wakil bupati Drs H Setyo Hartono MM itu
menarik ribuan pengunjung. Setelah doa penutup, masyarakat dan pengunjung berebutan mengambil belimbing dari gunungan setinggi 3 m di tengah lapangan.

Semua Buah belimbing dibungkus agar bebas serangan lalat buah.
Semua Buah belimbing dibungkus agar bebas serangan lalat buah.

Meski menjadi sentra belimbing yang diakui di Bojonegoro dan wilayah sekitarnya, petani belimbing Ngringinsari dan Mojo terus memperbaiki kualitas. Salah satunya dengan peremajaan tanaman secara grafting dan sambung samping. Hari menggunakan entres alias batang atas dari salah satu pohonnya sendiri yang mempunyai buah paling besar dan manis. Ia melakukannya sejak 1995 dengan memangkas tanaman yang buahnya kurang bagus.

Begitu tanaman yang dipangkas itu mengeluarkan tunas baru, ia segera menyambungkan entres dari pohon unggul. Penyambungan pucuk dan samping itu tetap ia lakukan sampai sekarang. Hasilnya kualitas belimbing desa Mojo tidak kalah dengan pendahulunya. Sekilogram belimbing Mojo hanya berisi 3—4 buah. Rasa sama manis dan lembut, sementara harganya bersaing.

Hari Sulistyadi pelopor penanaman belimbing di mojo.
Hari Sulistyadi pelopor penanaman belimbing di mojo.

Menurut koordinator Program Agropolitan Bappeda Bojonegoro, Enggar, sejatinya potensi belimbing di kedua desa itu masih sangat terbuka untuk pengembangan. “Petani masih terfokus kepada penjualan buah segar, padahal mereka mempunyai pengetahuan dan kemampuan membuat olahan,” kata Enggar. Olahan itu menjadi produk alternatif yang tahan simpan ketika buah berlimpah pada saat panen raya.

Menurut Joko Pudjo Wiyono, sejatinya Bojonegoro tidak mempunyai belimbing asli yang khas. “Itu berarti ada peluang muncul belimbing unggulan dari seleksi pohon-pohon yang tumbuh di sana, yang lebih baik daripada yang ada sekarang,” kata Joko. Hal itu sudah dibuktikan oleh Hari, Supangat, dan petani-petani belimbing lain di Desa Ngringinrejo dan Mojo. Yang jelas, belimbing mengubah musibah banjir menjadi berkah bagi warga kedua desa itu. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Pilihan Mengolah Biji Ketumbar Praktis  

Trubus.id–Ketumbar berpotensi sebagai penurun gula darah. Hal itu sesuai peneliti di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img