Friday, August 19, 2022

Buah Manis dari Lahan Masam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Meski tumbuh di lahan masam, pH rendah rambutan tetap bercita rasa manis. (foto : dok. Trubus)

TRUBUS — Beragam buah seperti nanas, manggis, dan rambutan tetap bercita rasa manis meski tumbuh di lahan masam.

Pohon puspa Schima walilcii indikator alami tanah bereaksi masam. Dari kejauhan tampak pucuk daunnya merah. Puspa banyak tumbuh subur di daerah bertanah masam. Tanaman indikator lain adalah harendong Melastoma malabathricum, gelam Melaleuca leucadendra, dan kalakai Stenochlaena palustris. Sebagian orang menganggap tanah masam sebagai tanah marginal atau suboptimal.

Tanah disebut masam bila bereaksi masam dengan indikator bernilai pH (power of Hydrogen) kurang dari 5,5. Angka itu menunjukkan konsentrasi ion H+ dalam tanah pada saat dilarutkan dalam air dengan perbandingan setara, misal 1:1. Makin melimpah ion H+, kian masam tanah. Makin kecil nilai pH, kian masam tanah itu. Secara teori nilai pH sebuah zat berkisar 0—14, tetapi pada tanah kisaran pH hanya di antara 3—9.

Beragam buah

Idealnya tingkat kemasan tanah untuk budidaya aneka tanaman antara 6,5—7,5 atau pH netral. Meski demikian beberapa komoditas yang tumbuh di lahan masam tetap berproduksi unggul. Banyak sentra manggis Garcinia mangostana justru di tanah masam. Leuwiliang dan Jasinga, keduanya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sohor sebagai sentra manggis. Cita rasa buah manis dan mengisi pasar ekspor.

Demikian pula rambutan Nephelium lappaceum. Pada masa lalu banyak rambutan aceh yang manis dan ngelotok berasal dari Gunungsindur, Rumpin, dan Leuwiliang yang tanahnya masam. Demikian pula rambutan manis di Kalimantan Selatan banyak berasal dari daerah yang tanahnya masam. Dapat dipastikan kebanyakan rambutan yang beredar di Jakarta dan sekitarnya berasal dari tanah masam.

Buah yang juga fenomenal manisnya di lahan masam adalah nanas Ananas comosus. Sebut saja nanas prabumulih yang legendaris berasal dari lahan masam. Sayang kini banyak beralih menjadi kebun karet. Nanas di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat juga berasal dari tanah gambut yang masam. Bahkan nanas kalengan yang diekspor dari ujung Pulau Sumatera bagian selatan juga umumnya dari tanah masam.

Sebagian orang menghindari tanah masam untuk budidaya hortikultura karena kekhawatiran tanah keracunan H+. Pada tanah masam juga kerap ditemui keracunan alumunium bebas pada tanaman. Terdapat pula kemungkinan keracunan besi, bahkan keracunan sulfat. Pernyataan itu semua benar, tetapi hanya terjadi pada kebanyakan tanaman pangan. Itu karena fokus penelitian tanah di masa lalu bertujuan mendukung budidaya tanaman pangan yang dibutuhkan manusia seperti padi, jagung, atau kedelai.

Laju fotosintesis

Demikian pula tanah masam seperti apa yang menyebabkan keracunan. Pada tanah masam di lahan kering umumnya tanaman pangan hanya keracunan H+ atau Al3+ sehingga bukan keracunan besi dan sulfat. Di lahan basah yang masam dan lahan kering bekas tambang saja kemungkinan keracunan besi dan sulfat. Jadi, jarang sekali mereka meracuni secara bersamaan kecuali pada kasus ekstrem.

Buktinya manggis, rambutan, dan nanas mampu produktif di lahan masam. Tanaman-tanaman itu bagaikan mahluk ajaib yang mampu mengubah rasa masam tanahnya menjadi rasa manis pada buahnya. Bukan berarti semua manggis, rambutan, dan nanas berubah menjadi manis ketika ditanam di lahan masam. Ada faktor lain yaitu varietas. Maksudnya varietas yang ditanam memang harus berupa varietas berbuah manis.

Buah manggis berasal dari sentra bertanah masam. Daging buah manggis pun manis. (foto : dok. Trubus)

Sebetulnya bukan berarti tanaman itu mengubah rasa masam langsung menjadi manis. Prosesnya terjadi secara tidak langsung. Bila tingkat kemasaman ditentukan oleh ion H+, tingkat kemanisan pada buah ditentukan oleh kadar gula alias glukosa C6H12O6. Setiap varietas tanaman punya gen yang mengatur tingkat kemanisan pada buahnya. Produksi gula pada tanaman—termasuk pada buahnya—juga ditentukan oleh laju fotosintesis tanaman.

Proses fotosintesis yang optimal itu hanya dapat terjadi pada kondisi tanaman yang prima. Manggis, rambutan, dan nanas secara genetik memiliki daya adaptasi yang kuat untuk tumbuh di tanah masam. Mereka mampu hidup optimal seperti layaknya tumbuhan indikator—puspa, harendong, gelam, kalakai—yang banyak ditemukan di tanah masam. Di saat itulah produksi buah optimal dengan rasa yang manis.

Tingkat kemanisan buah juga meningkat ketika jumlah klorofil alias zat hijau daun meningkat. Pada konteks itu, jumlah klorofil dapat optimal ketika unsur magnesium (Mg) sebagai inti penyusun klorofil tercukupi. Magnesium di tanah alami dipasok dari pelapukan batuan yang mengandung Mg. Secara antropogenik—dengan campur tangan manusia—magnesium dapat dipasok dari kapur dolomit.

Tanah masam memang suboptimal bagi kebanyakan tanaman pangan, tetapi sesungguhnya berkah bagi yang mampu memahami tanaman komersial yang mampu tumbuh di atasnya. Persoalannya kini rambutan dari Rumpin, Bogor mulai menghilang. Demikian pula nanas dari Prabumulih mulai langka. Pekebun dan pemilik pohon mengeluh ukuran buah mengecil. Rasanya juga cenderung menjadi masam.

Bukan tanah yang salah, tetapi kita lupa membiarkan tanaman lelah berproduksi dan tanah terkuras haranya. Pohon rambutan makin tua tanpa peremajaan dan pemupukan. Nanas terus ditanam tanpa dipupuk. Butuh peremajaan total tanaman manggis dan rambutan tua dengan varietas yang manis. Tanah juga perlu dipulihkan dengan pupuk organik dan pupuk anorganik secara rutin. Kemurahan alam tak bisa terus menerus dibiarkan. (Destika Cahyana, S.P., M.Sc. peneliti di Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img