Friday, December 2, 2022

Buah Merah Atasi Efek Buruk Rokok?

Rekomendasi

Sederet penyakit maut siap mengintai para perokok. Sebut saja kardiovaskuler, kanker paru-paru dan emfisema kronis-melebarnya gelembung paru-paru. Kematian perokok akibat penyakit-penyakit itu kian meningkat. Di Amerika Serikat itu, setiap tahun lebih dari 150.000 perokok meninggal akibat penyakit kardiovaskuler. Perokok pria usia 46-65 tahun yang meninggal akibat bronkitis dan emfisema jumlahnya 5 kali lebih tinggi dibanding bukan perokok. Bahkan 70% kematian karena penyakit paru-paru kronis di Indonesia disinyalir akibat penggunaan tembakau.

Fakta menunjukkan kebanyakan program berhenti merokok telah gagal. Program kampanye anti-rokok juga tidak banyak hasilnya. Malah jumlah perokok baru semakin bertambah. Survei menyatakan 14% remaja di dunia, perokok. Di Indonesia, 37,3% pelajar dilaporkan biasa merokok. Prevalensi perokok dewasa meningkat dari 26,9% pada 1995 menjadi 35% pada 2004.

Radikal bebas

Tidak merokok tidak berarti terbebas penyakit-penyakit maut di atas. Itu karena asap rokok juga mengancam jiwa perokok pasif. Disinyalir sebanyak 43-juta anak Indonesia saat ini hidup serumah dengan perokok dan turut menghirup asapnya. Akibatnya tak main-main, mereka terancam penyakit mematikan: pertumbuhan paru-paru lambat, mudah terkena bronkitis, infeksi saluran pernapasan, telinga, dan asma.

Mengapa begitu mudah penyakit maut membayangi perokok? Biangnya kondisi yang disebut stres oksidatif karena ketimpangan prooksidan dan antioksidan dalam tubuh. Keadaan itu dapat disebabkan kurangnya antioksidan atau kelebihan produksi radikal bebas-molekul reaktif yang mengandung satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan.

Dalam asap rokok terdapat sekitar 5.000 senyawa kimia. Konsentrasi tinggi radikal bebas dan beberapa spesies oksigen reaktif termasuk di dalamnya. Oksidan-oksidan itu terkandung dalam fase tar dan gas asap rokok. Termasuk di antaranya epoksida, peroksida, nitrat oksida (NO), nitrogen dioksida, peroksinitrit

(ONOO-), dan perinitrat. Spesies oksigen reaktif dalam fase tar-radikal hidroksil, hidrogen peroksida, dan semikuinon-dapat bereaksi dengan oksigen menghasilkan radikal superoksida.

Multi-oksidan

Defisiensi antioksida terjadi manakala cadangan antioksidan digunakan untuk detoksifikasi radikal bebas yang tak henti-hentinya. Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan buruk perokok yang umumnya memiliki pola makan tidak seimbang: tinggi asupan lemak dan rendah konsumsi buah dan sayuran.

Penelitian Zhuo dkk. di Universitas Zhejiang, Cina, menunjukkan kenaikan signifikan kadar radikal bebas lipoperoksida (LPO) dan nitrat oksida (NO) dalam plasma perokok. Kadar LPO dalam eritrosit pun ikut meningkat. Sementara itu, kadar antioksidan vitamin C, vitamin E dan beta-karoten dalam plasma serta aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD), katalase dan glutathione peroksidase (GSH-Px) di eritrosit mengalami penurunan.

Pemberian suplemen oral dalam bentuk enzim antioksidan tidak efektif. Enzim-enzim itu mudah terurai oleh enzim pencernaan sebelum sempat digunakan. Yang baik adalah alfa-tokoferol (vitamin E), vitamin C, beta-karoten (pro-vitamin A), dan flavonoid. Konsumsi suplemen multi-antioksi dan lebih efektif daripada suplemen individu.

Cara yang praktis dan murah untuk mendapatkan asupan harian multi-antioksidan adalah melalui konsumsi harian buah, sayuran, dan herbal. Buah dan sayuran terutama baik sebagai sumber vitamin C yang larut air. Contoh: jeruk, tomat, nanas, anggur, kubis, bayam, dan asparagus. Selain itu juga banyak yang kaya vitamin larut minyak seperti beta-karoten (provitamin A) dan vitamin E. Sayang, penyerapannya dalam tubuh relatif rendah, hanya sekitar 30-40%.

Karena itu, herbal lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian vitamin A dan vitamin E. Minyak buah merah salah satunya. Di dalamnya terkandung 350-500 ppm tokoferol. Lebih tinggi 12-25 kali alpukat dan bayam yang memiliki kandungan alfa-tokoferol tertinggi dalam kelompok buah dan sayuran.

Sahih

Sudah jamak yang tahu, buah merah sangat kaya antioksidan. Terutama dalam bentuk karotenoid, flavonoid, vitamin C, dan tokoferol. Keberadaan berbagai antioksidan dalam buah merah sangat menguntungkan. Antara antioksidan satu dan lainnya berkaitan erat dan bekerja sinergis. Misalnya, vitamin C diperlukan untuk regenerasi bentuk aktif alfa-tokoferol dengan jalan mereduksi bentuk bebasnya. Sedangkan untuk konversi beta-karoten menjadi vitamin A diperlukan bantuan vitamin E. Di lain pihak, keberadaan vitamin C dan beta-karoten juga dapat mengurangi laju penyerapan vitamin E. Artinya, konsumsi buah merah lebih efektif dibanding mengkonsumsi antioksidan tunggal dalam bentuk suplemen dalam membantu mengurangi risiko kanker.

Fenomena kerja multi-antioksidan dalam buah merah bukan sekadar teori atau isapan jempol belaka. Ada bukti sahihnya. Penelitian efek proteksi ekstrak buah merah terhadap stres oksidatif di eritrosit tikus yang terpapar asap rokok kretek dilakukan Syamsulina Revianti di Universitas Airlangga, Surabaya. Kesimpulannya, pemberian ekstrak buah merah mampu mengurangi terjadinya stres oksidatif di eritrosit tikus wistar yang terpapar asap rokok kretek.

Itu ditandai dengan menurunnya kadar malondialdehid (MDA) dan meningkatnya aktivitas antioksidan superoksida dismutase (SOD) dan glutathione (GSH)-anseluler utama yang sangat penting untuk fungsi normal paru-paru-di eritrosit hewan perlakuan dibanding kontrol. Pemberian ekstrak buah merah itu tidak mempengaruhi kadar Hb eritrosit serta meningkatkan bobot tubuh tikus.

Kebutuhan harian orang dewasa sehat akan alfa-tokoferol berkisar 2,6-15,4 mg. Sedangkan beta-karoten sebanyak 4,5 mg/hari dan vitamin C dosis 500-2.000 mg/hari umumnya dianggap cukup memadai. Kebutuhan tersebut dapat terpenuhi melalui konsumsi harian buah dan sayuran, serta konsumsi buah merah sebanyak 1-2 sendok makan per hari. Namun demikian, berhenti merokok adalah cara terbaik mencegah penyakit akibat radikal bebas itu. (Dr Ir M. Ahkam Subroto, M.App.Sc., peneliti utama LIPI Cibinong Science Center)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img