Monday, August 8, 2022

Buah Merah di Mata Medis

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Apa yang saya katakan kepada pasien hanyalah jawaban standar yang sifatnya umum. Bahwa apa pun yang berasal dari alam, tentu sah-sah saja untuk dikonsumsi. Begitu pula dengan buah merah. Namun, apa pun yang berasal dari alam tentu tidak serta-merta aman dikonsumsi. Sebelum diketahui apa zat berkhasiatnya, bahan alam biasanya diambil saripatinya (ekstraksi). Untuk itu diperah dari sekian banyak bahan alam seutuhnya. Itu berarti bila dalam bahan alam terkandung pula zat beracun atau yang berpotensi merusak tubuh, dengan mengkonsumsi bahan kasarnya, tubuh akan terganggu juga.

Obat medis yang dipetik dari alam sudah dibuat murni sehingga hanya mengandung zat berkhasiat saja. Berbeda jika yang dikonsumsi bahan kasar (raw material) seperti jamu dan obat tradisional. Selain zat berkhasiat, zat-zat lain yang ada di dalamnya masih ikut terkonsumsi. Padahal, zat-zat lain itu bisa jadi tidak aman karena bersifat racun.

Dosis tepat zat berkhasiat yang dikandungnya masih belum diketahui. Takaran pemakaian bahan, umumnya tidak baku terstandarisasikan secara eksak, melainkan masih dalam takaran lembar, siung, butir, atau genggam. Dosis mematikan (lethal dose) pun belum diketahui, sekiranya ada.

Makanya untuk menjadi obat, setiap bahan berkhasiat dari alam perlu menempuh serangkaian pengujian ilmiah sebelum dinilai laik masuk pasar obat. Termasuk uji toksisitas. Namun, untuk ini butuh biaya besar, sementara anggaran tidak tersedia.

Ihwal buah merah berhasil menyembuhkan beberapa jenis penyakit, memanglah sebuah fakta. Namun, bahwa ada juga yang mengkonsumsinya tapi tidak sembuh, merupakan fakta lain. Artinya, masih belum jelas zat berkhasiat apa yang terkandung, untuk kasus siapa, bagaimana zat tersebut bekerja di dalam tubuh, serta aman tidaknya dikonsumsi dengan takaran secara kasar begitu.

Kalau betul buah merah kaya antioksida, tidak bisa menjadi patokan medis bahwa zat itu (saja) yang membuatnya ajaib. Apalagi kasus yang berhasil disembuhkan tidak semua tercatat sebagai diagnosis medis yang baku. Kasus artis Ussy Susilawati (Trubus No. 424) yang katanya mengidap prakanker rahim dan mengaku sembuh berkat buah merah, tampaknya perlu dicermati.

Bagi setiap orang medis tentu perlu tahu persis diagnosis prakanker rahimnya, mengingat penyakit keganasan rahim bukan cuma satu jenis. Melihat umur Ussy yang belum 30 tahun dan belum menikah, saya menduga yang diakuinya benjolan di perut mengempis itu, agaknya bukanlah kanker.

Yang berupa prakanker itu umumnya kanker leher rahim. Kanker ini tidaklah memiliki benjolan. Lagi pula kanker leher  rahim biasanya dialami wanita berusia tua, 50-an tahun, dan seringnya sudah menikah atau melakukan hubungan seks. Ussy bukan tergolong yang itu.

Dari berita infoteinmen sebelum-sebelumnya saya dengar Ussy mengidap endometriosis, yaitu selaput lendir rahim yang tumbuh di luar rahim. Dan endometriosis bukanlah kanker.

Citra buah merah menyembuhkan segala macam penyakit harus terus diluruskan agar tidak sampai bereputasi sebagai obat serba bisa. Saya berkeyakinan, seperti diakui penemunya, Drs I Made Budi, MS, tentu ada zat berkhasiat lain di dalam buah merah, lebih dari sekadar antioksidan takaran tinggi semata. Untuk itu kita perlu bergegas menganalisisnya sebelum dipatenkan orang lain.

Jamaknya di dunia medis, bukti empiris saja tidaklah cukup. Klaim bahwa antioksidan takaran tinggi di dalam buah merah itulah yang menyembuhkan penyakit akibat keracunan radikal bebas, agaknya anggapan terlalu pagi. Orang modern memang banyak tercemar aneka radikal bebas, baik yang datang dari tubuh maupun yang menerobos dari luar tubuh. Semua itu dituding pencetus kanker, penyakit menua, dan penyakit degeneratif orang modern.

Kerja antioksidan yang banyak terkandung dalam betakaroten, vitamin C, dan vitamin E hanya menawarkan racun radikal bebas. Masih perlu dikaji, apakah antioksidan juga berkhasiat menyembuhkan penyakit yang disebabkan menumpuknya radikal bebas di dalam tubuh seperti kanker, jantung koroner, dan stroke.

Lalu bagaimana dengan kasus sirosis (cirrhosis hepatis) yang sebagian besar sel hatinya rusak? Betulkah ada kasus sirosis disembuhkan buah merah? Sungguh bakal menyemai harapan medis bila betul buah merah berkhasiat menyembuhkan sirosis. Menghadapi sirosis sampai sekarang dunia medis masih angkat tangan.

Melihat potensi besar buah merah, kita tak boleh menunda untuk menggalinya lebih jauh. Ia aset nasional dalam dunia medis kita. Seharusnya pemerintah, LIPI yang tergerak mengamankan rahasia buah merah perlu melacak zat berkhasiatnya, kalau bukan pihak Depkes sendiri.

Kita juga memiliki perusahaan jamu, dan farmasi yang diharapkan ikut mengamankan rahasia si buah merah. Alangkah baiknya bila mereka bergabung untuk menjadikan buah merah bisa berperan sebagai obat. Jangan sampai ada pihak lain mengambil buahnya dari negeri kita, lalu dipasarkan dalam bentuk tablet, kapsul, atau obat suntik, dan kita cuma gigit jari.***

Handrawan Nadesul, dokter, pengasuh rubrik kesehatan di sejumlah media, penulis kolom dan buku.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img