Monday, November 28, 2022

Buah Merah vs Kanker Payudara

Rekomendasi

Segalanya berawal pada 2003. Kala itu Hariyanti mendapati benjolan sebesar telur puyuh di payudara kiri. Tanpa curiga ia tetap menjalani keseharian dengan tenang. Langganan di toko kelontongnya bisa protes kalau sehari saja tutup. Namun, aktivitasnya kerap diganggu rasa sakit dan panas yang berpusat di seputar benjolan itu.

Tak tahan dengan gangguan itu ia memeriksakan diri ke dokter. Istri Tjandra Wiwit Budiman itu menangis saat dokter menjatuhkan vonis kanker payudara. Rasanya tak percaya mengingat tak ada satu pun keluarganya memiliki riwayat kanker. Ketakutannya pada pisau bedah makin menciutkan nyalinya berhadapan dengan dokter. Perempuan kelahiran 54 tahun lalu itu dengan tegas menolak operasi medis. Jalur pengobatan alternatif menjadi pilihan terakhirnya.

Pilih herbal

Berbagai ramuan dan racikan jamu dari pelosok Yogyakarta dicicipi anak keempat dari 9 bersaudara itu. Meski demikian kesembuhan tak kunjung hadir. Rasa sakit terus-menerus menderanya. Puncaknya pada awal 2004, benjolan di payudara kirinya itu pecah. Luka yang timbul menyisakan kulit di sekitarnya menghitam. Nanah sering keluar sehingga kulit terusmenerus basah. Makin hari luka kian meluas. Obat tradisional yang diberikan seakan tak memberikan pengaruh apa pun. Sementara keluhan rasa sakit dan nyeri terus-menerus mengganggu.

Ketika seorang teman menyarankan ekstrak buah merah, tanpa kompromi Tjandra, memburu herbal itu. Sari buah khas Papua itu dikonsumsi 3 kali sehari masing-masing 1 sendok makan. Lima hari berselang sakit mulai berkurang. Sayang kebahagiaan itu disapu kecemasan yang luar biasa. Sebab pada hari ke-14 terjadi pendarahan. Bagian kulit yang menghitam terkelupas dan memancarkan darah. Ia dilarikan ke rumah sakit karena tak lagi sanggup mengatasi pendarahan. Meski demikian rasa sakitnya telah jauh berkurang.

Di Rumah Sakit Umum Boro, di pinggiran Yogyakarta dokter hanya memberi vitamin. Obat dikonsumsi saat kadar Hb turun di bawah 3,7 mmHg. Selebihnya ia meminum ekstrak buah merah.

Saran untuk operasi tetap ditolak. Menurut suami, yang mengutip keterangan dari dokter, kondisi Haryanti terus membaik. “Yang jelas ketika perbannya dibuka pada 16 Januari, sudah kelihatan kulit normalnya,” ujar Tjandra.

Makin parah

Luminterengse di Ketapang, Kalimantan Barat, juga mengidap kanker payudara sejak beberapa tahun lalu. Selain mengganggu aktivitasnya, perempuan itu juga mengaku penyakit jahat ini menurunkan staminanya secara drastis.

Semula memang tak terasa sakit sehingga ia tetap menggeluti kesehariannya. Namun lama-kelamaan timbul benjolan aneh. Benda asing inilah yang menjadi sumber rasa nyeri dan panas. Perempuan berparas cantik itu tak pernah berpikir, dalam tubuhnya bersemi sel-sel kanker yang ganas.

Keputusan itu akhirnya diterimanya secara lapang. Itu hari di pertengahan September 2004, dokter memvonisnya sebagai penderita kanker payudara stadium 4. Meski sedih, ia mencoba tegar dan bertekad untuk sembuh. Motivasi yang kuat dari pihak keluarga menjadi alasan utama untuk tak menyerah.

P e n g o b a t a n m e d i s y a n g mengharuskannya mampir ke ruang bedah membuatnya merinding. Sama halnya Hariyanti di Yogyakarta, Luminterengse juga mengaku takut dioperasi. Tak heran bila ibu 3 putra itu memilih pengobatan tradisional berupa jamu-jamuan.

Kabar mengenai buah merah sampai Ketapang. Dibantu seorang rekan, Luminterengse berburu buah merah yang terkenal itu sampai ke Jakarta. Upayanya membuahkan hasil, beberapa botol ekstrak buah merah singgah dalam genggamannya. Setiap hari ia mengkonsumsi 3 sendok makan. Sehari, dua hari berlalu perubahan tak kunjung datang.

Pada hari ke-10, Luminterengse merasakan payudaranya kian mengeras. Rasa nyeri dan panas menyiksanya terus-menerus. Ia memutuskan untuk menghentikan konsumsi buah merah ketika puting terlihat mau pecah. Luminterengse khawatir kondisi kian parah.

Tergantung fisik

Senyawa penumpas kanker dalam buah merah memang masih misteri. Selain itu terdapat faktor internal dan eksternal yang saling berpengaruh pada kasus kanker. Menurut dr Paulus Wahyudi Halim, herbalis asal Serpong, Tangerang, penyebab kanker payudara sangat kompleks. Sel asal kanker berasal dari sel sarkoma dan karsinoma, bagian dari ratusan sel yang ada dalam tubuh manusia. Oleh karena itu tidak dapat dipukul rata minyak buah merah bisa mengobati semua kanker payudara. “Semuanya tergantung dari kondisi tubuh yang bersangkutan,” ujarnya.

Menurut dr Sidi Aritjahja, pengobat komplementer di Yogyakarta, sel kanker bila berbentuk gabungan seperti kanker payudara memerlukan proses penyembuhan yang kompleks. Kanker payudara sering disebut afi broadinokarsinoma karena dari jaringan ikat dan kelenjar adenosit.

Kandungan betakaroten dan tokoferol dalam buah merah belum cukup ampuh untuk menembus sel kanker. Meski pengaruhnya sebagai antioksidan dalam tubuh efektif melawan sel-sel kanker dan radikal bebas. Namun, kemampuannya untuk menyembuhkan kanker payudara masih mengundang polemik. Paulus mengatakan hingga kini satu-satunya cara untuk melenyapkan sel-sel kanker payudara yang diakui secara medik hanya metode kemoterapi radiasi.

Kesaktian buah merah masih terbatas pada peningkatan stamina. Karena dengan kekebalan tubuh yang tinggi manusia mampu melawan serbuan penyakit yang paling berbahaya sekalipun.

Kondisi fi sik seseorang juga menjadi faktor utama yang patut diperhitungkan. “Manusia memiliki pola bioritme yang naik turun,” ujar Drs Didik Gunawan, Apt., S.U., peneliti Biologi Farmasi UGM. Orang rentan terhadap kanker payudara bila bioritme tubuhnya tengah turun. Bahkan pada sesama penderita kanker payudara kondisi fi siknya juga berlainan. Oleh karena itu takaran obat juga belum tentu sama untuk setiap orang. (Hanni Sofi a/Peliput: Laksita Wijayanti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img