Friday, August 12, 2022

Buah Naga: Untung di Luar Musim

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Buah naga berbuah di luar musim dengan pemberian nutrisi lengkap dan tambahan penyinaran.

Panen 150 kg buah naga daging merah pada pertengahan September 2013 itu membuat Melisa Budidjojo girang bukan kepalang. Pasalnya beberapa toko buah di Surabaya, Jawa Timur telah memesan buah itu dengan harga tinggi, yakni Rp35.000—Rp50.000 per kg, tergantung grade buah. Buah yang termasuk kelas A berbobot lebih dari 400 gram, B (300—400) gram, dan C (kurang dari 300 gram).

Melisa memperoleh harga tinggi karena buah naga dari kebunnya di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, panen di luar musim panen raya. “Di sini biasanya panen raya pada Desember—Januari. Pada musim itu harga buah naga bisa anjlok hingga Rp10.000 per kg,” kata Melisa. Pengalaman buruk akibat harga terjun bebas ia alami saat panen pada Desember 2012—Januari 2013.

Tak ingin pengalaman buruk itu berulang, Melisa merangsang 1.500 tanaman berbuah di luar musim. Sebelum memulai perlakuan, saat panen terakhir pada April 2013, ia menjaga agar tanaman tidak mengeluarkan bunga. “Tujuannya agar energi tanaman pulih setelah terkuras saat musim berbuah,” ujar Melisa.

Lampu 100 watt sebagai tambahan penyinaran untuk merangsang pembuangan
Lampu 100 watt sebagai tambahan penyinaran untuk merangsang pembuangan

Penyinaran

Baru pada Juli 2013 pekebun yang mulai membudidayakan buah naga sejak 2012 itu memberikan larutan yang terbuat dari 500 ml hormon dan 100 g NPK yang mengandung kalium tinggi. Keduanya dilarutkan dalam 100 liter air. Melisa menyiramkan larutan itu di sekitar tanaman bersamaan dengan penyiraman hingga basah merata dan bagian dalam media tanam menjadi lembap. Larutan itu untuk merangsang bunga dan memperkuat batang agar bunga tidak mudah gugur. Pemberian hormon selama 7 hari berturut-turut. Sayang, Melisa tidak hapal kandungan hormon dari Malaysia itu.

Menurut pengelola kebun buah naga di Wonosalam, Jombang, Jawa Timur, Daniel Kristanto, kandungan hormon itu kemungkinan giberelin. Pekebun buah lazim menggunakan untuk merangsang bunga. “Seharusnya perlu tambahan pupuk yang mengandung monokalium fosfat sebagai nutrisi pembungaan,” ujar Daniel.

Melisa mengombinasikan pemberian hormon dan pupuk dengan tambahan penyinaran. Ia memasang beberapa lampu berdaya 100 watt di antara bedengan dengan jarak antarlampu 2 m. Lampu itu menyala selama 8 jam, yakni pukul 20.00—04.00. Menurut kepala Pusat Kajian Tanaman Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor (PKHT IPB), Sobir PhD, penambahan masa penyinaran memang dapat merangsang pembungaan.

Sobir menuturkan untuk mencukupi kebutuhan fotosintesis pada proses pembungaan perlu penyinaran lebih dari 12 jam. Pada kondisi normal lama penyinaran matahari hanya 10 jam. “Jadi, cukup tambahkan masa penyinaran 3 jam saja. Apalagi dengan kekuatan cahaya 100 watt itu sudah lebih dari cukup,” ujar Sobir.

Lakukan jeda

Dengan kombinasi perlakuan itu bunga mulai muncul pada hari ke-8 setelah pemberian hormon. Lima hari kemudian Melisa menyemprotkan larutan yang mengandung 250 ml hormon dan 150 g NPK dengan nitrogen dan kalium tinggi. Kedua nutrisi itu dilarutkan dalam 100 liter air. Melisa menyemprotkan larutan itu ke seluruh bagian tanaman untuk mempertahankan bunga. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali hingga tiga kali penyemprotan. Melisa juga memberikan pupuk tambahan berupa 500 kg pupuk campuran kotoran ayam dan kambing 500 kg, 25 kg magnesium, 25 kg NPK, 200 kg sekam padi, dan arang dari pembakaran bambu secukupnya.

Panen di luar musim mendongkrak harga jual
Panen di luar musim mendongkrak harga jual

Tiga pekan setelah berbunga muncul bakal buah. Pada saat itulah Melisa kembali memberikan larutan yang terbuat dari 10 ml mikroorganisme yang telah dilarutkan dalam seliter air dan 75 ml larutan fosfor yang dilarutkan dalam 16 liter air. Ia mencampur kedua larutan itu, lalu menyiramkan ke sekitar tanaman untuk meningkatkan kemanisan buah. Untuk menjaga kualitas dan ukuran buah, ia juga nyeleksi buah dengan mempertahankan 2 buah dalam setiap sulur.

Pada pertengahan September 2013 Melisa mulai panen buah naga. “Membuahkan buah naga di luar musim bukannya sulit, hanya saja banyak perlakuan yang diberikan agar sang naga mau menghasilkan buah yang bagus dan berkualitas,” ujar perempuan 28 tahun itu. Namun, menurut Daniel pembuahan buah naga di luar musim tidak akan sebanyak pada saat normal. “Produksi akan turun sekitar 35—45% produksi normal,” ujar Daniel.

Perangsangan buah juga mesti berhati-hati. “Jika sampai kekurangan air dan pupuk selama perlakuan dapat menyebabkan sulur menguning dan buah mengecil. Buah juga menjadi tidak manis,” ujarnya. Sobir mewanti-wanti, setelah masa panen di luar musim selesai, sebaiknya berikan jeda 2—3 bulan sebelum perlakuan berikutnya. “Berikan waktu bagi tanaman agar bisa mengganti sel-sel yang rusak selama dipacu berbuah,” ujar Sobir. (Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img