Tuesday, November 29, 2022

Buaya di Kota Marmer, Dicokot-Nyokot di Sanur

Rekomendasi

Usai menancapkan pita, untaian kalimat pujian pun mengalir dari Heru Tjahjono. ?Ini cantik sekali,? ujarnya. Maklum, sosok adenium obesum setinggi sekitar 70 cm itu memang menyita perhatian. Bunga merah cerah menyelimuti hampir sebagian besar tanaman. Itulah sebabnya 5 juri nasional asal Jakarta, Bali, dan Jawa Timur sepakat memberi nilai tertinggi 16,7.

Meski demikian, saingan terberat koleksi Totok tak kalah menawan. Balutan bunga putih di sekujur tanaman membuat para juri sepakat memberi nilai mendekati sang jawara yakni 15,5. Sayang, ia harus puas di posisi ke-2 lantaran, ?Proporsi bunganya lebih sedikit,? ujar I Gede Suyono, juri asal Bali.

Selanjutnya Heru melangkah menuju pot nomor 12. Kali ini pita jawara disematkan pada adenium koleksi Sari, kontestan tuan rumah, Tulungagung. Adenium dengan caudex berdiameter 12 cm itu resmi didaulat sebagai jawara kelas prospek besar. Menurut I Gede Suyono, sosok adenium milik Sari itu sejak awal diprediksi juara. Penampilan akar, batang utama, dan anak cabang proporsional. ?Tetapi ada kelemahan. Penampilan anak dan cucu cabang kurang serasi,? ujar Gede. Meski demikian, adenium setinggi 70 cm itu tetap mendapat poin tertinggi. ?Pesaingnya memiliki kelemahan lebih fatal. Ukuran akar kurang sepadan dengan ukuran batang,? tambahnya. Pita jawara ketiga disematkan pada pot nomor 71. Koleksi Ida yang juga asal Tulungagung itu menjuarai kelas total performance besar.

Buaya

Pada acara pembukaan itu memang baru 3 kelas yang dinilai. Meski demikian, Heru Tjahjono terus menyambangi satu per satu kontestan lain. Tiba-tiba Heru terhenti di hadapan pot nomor 42. Dengan seksama ia mengamati sosok tanaman yang ditopang bangku setinggi 70 cm itu. ?Benar-benar mirip buaya,? ujarnya. Koleksi Sulisdianto asal Tulungagung itu unjuk gigi di kelas unik kreasi.

Rupanya kekaguman Bupati Tulungagung itu sejalan dengan para juri. Adenium bersosok buaya itu memperoleh nilai tertinggi 15,7. ?Ini gelar juara perdana saya,? ujar Sulisdianto. Nilai itu terpaut 1,7 poin dari saingan terdekatnya, koleksi Sugeng asal Kediri yang berbentuk ular. ?Dari segi ekspresi adenium nomor 42 benar-benar mirip buaya. Selain itu, tingkat kesulitan pembuatannya lebih tinggi daripada yang lain,? ujar Gede. (Baca: Bermula dari sebuah imajjinasi, halaman 32?33)

Kontes adenium yang digelar pada 7?9 Agustus 2007 itu menjadi awal bergairahnya kembali tanaman hias di Tulungagung. Ajang pameran serupa diselenggarakan 2 tahun silam. Meski demikian, kontes adenium di kota produsen marmer terbesar di tanahair itu ramai peserta. Tercatat 95 peserta terjun beradu molek. Dari jumlah itu, 28 peserta di antaranya atau sekitar 29,4% peserta andil di kelas unik. Hal itu kian mengukuhkan Jawa Timur sebagai gudangnya adenium unik.

Nun di Pulau Bali, kontes serupa digelar di area Hotel Bali Beach, Sanur, pada 12?14 Agustus 2007. Kontes bertajuk Sanur Village Festival 2007 itu diikuti 153 peserta. Dari jumlah itu, 29 peserta di antaranya terjun di kelas unik alami, 13 unik kreasi. Adenium unik bertema dicokot-nyokot koleksi Nyoman Porwata menjuarai kelas unik kreasi. Juara unik alami fosil manusia purba milik Dedy. Ajang yang dibuka AA. Puspayoga, walikota Denpasar itu melahirkan jawara-jawara di 14 kelas yang dilombakan. (Imam Wiguna/Peliput: Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img