Trubus.id-Pekebun di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Ketut Suwarjana, berhasil mencetak krisan premium. Berkat kualitas bunga yang unggul Ketut kebanjiran pesanan. Ia rutin menjual belasan ribu tangkai krisan setiap pekan.
Ketut bekerja sama untuk memasok 8.000 krisan potong di salah satu perusahaan florikultura di Jakarta saban pekan. Selain kebutuhan toko florikultura Ketut juga menjamah pasar untuk kebutuhan di rumah duka. Ia rutin memasok krisan di salah satu rumah duka yang ada di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Jumlahnya juga tidak kalah banyak dengan kebutuhan toko florikultura. Ia rutin memasok 8.000 krisan untuk kebutuhan rumah duka itu. Bungakrisan produksi Ketut memang berkualitas istimewa. Harap mafhum apabila banyak konsumen yang memburu. Saat mekar sempurna, diameter mahkota bunga mencapai 15 cm.
Ketahanan bunga juga baik. Bunga mampu bertahan hingga 20 hari setelah panen dengan metode penyimpanan yang tepat. Untuk mencetak krisan berkualitas premium itu Ketut menerapkan proses budi daya tanaman yang ketat. Ia menerapkan sistem budi daya yang intensif.
Pertama ketut mengatur jarak tanam terlebih dahulu. Ia mengatur jarak tanam sebesar 10 m x 10 m. Ketut membudi dayakkan krisan di dalam greenhouse. Total jenderal terdapat 6 greenhouse yang dikelola oleh Ketut. Sebelum melakukan penanaman, Ketut menyiapkan pupuk terlebih dahulu.
Ia menggunakan pupuk berupa campuran 2,5 ton kotoran ayam dan 2,5 ton kotoran kambing basah. Selanjutnya ia melarutkan 2 liter NH4 ke dalam 100 liter air. Ia lantas menuang larutan itu di atas pupuk. Ketut menutup pupuk alami itu selama sebulan supaya terjadi fermentasi.
Ketut menaburkan pupuk saat pengolahan lahan. Selanjutnya ia membuat bedengan sebagai area penanaman. Pada bagian tepi bedeng sejajar dengan setiap titik tanam. Dalam satu lubang tanam itu ia isi 2 bibit krisan. Hal itu dilakukan untuk mengganti tanaman apabila ada yang mati.
Kelas premium
Ketut menanam beragam jenis krisan seperti salju putih, salju kuning, residen, katifa, jaguar, piji putih, diamond, dan aster oranye. Ia menyeleksi bunga menjadi 3 kelas yakni A, B, dan C. Krisan potong kelas A memiliki kriteria tangkai yang lurus, daun mulus, bunga mulus, dan berdiameter 15 cm saat bunga mekar 100%.
Sementara krisan kelas B mempunyaiketebalan tangkai sedikit lebih kecil dengan diameter bunga saat mekar 100% hanya 7 cm. Untuk kelas C standarnya lebih turun lagi, yakni diameter bunga kurang dari 7 cm saat 100% mekar. Kualitas krisan hasil budi daya Ketut memang bukan kaleng-kaleng.
Harap mafhum apabila salah satu konsumen dari mancanegara pernah kesengsem krisan itu. Sebagai contoh pembeli asal Jepang yang tertarik krisan hasil budi daya Ketut. Sebenarnya Ketut pernah mengekspor krisan hasil budi dayanya itu ke Jepang. Ia rutin mengirim 28.000 tangkai krisan potong salju putih setiap bulan pada 2017. Bahkan permintaan itu bisa lebih besar di beberapa bulan tertentu. Permintaan krisan ke Negeri Sakura meningkat dua kali lipat pada Juni—Desember. “Musim gugur membuat mereka tidak bisa berproduksi sehingga mengandalkanpasokan krisan impor,” kata Ketut.
Menurut Ketut konsumen mancanegara menghendaki krisan dengan syarat kemekaran bunga hanya 5% alias kuncup. Lazimnya panen krisan kuncup dilakukan 60 hari setelah tanam. Berarti itu menguntungkan lantaran proses budi daya lebih cepat. Sehingga perputan uang pun juga lebih cepat.
Sayangnya pandemi Covid-19 membuat ekspor krisan macet. Sebenarnya pasar ekspor itu bisa digarap lagi. Namun, saat ini permintaan pasar lokal cukup tinggi. Ketut belum berani mengambil kesepakatan kerja sama lagi. Ditambah setiap konsumen pasti menginginkan produk terus kontinu. Saat ini ia masih fokus untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Peliput: Intan Dwi Novitasari
