Trubus.id—Penangkapan ikan tuna secara terus menerus menurunkan populasi tuna di alam. Maka budidaya tuna salah satu upaya menjaga kelestarian dan ketersediaan spesies itu di masa depan.
Dr. Mala Nurilmala, S.Pi. M.Si., peneliti tuna dari Deptartemen Teknologi Hasil Perairan (THP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, dan Prof. Dr. Yoshihiro Ochiai, peneliti tuna dari Tohoku University, Jepang menjelaskan Kinki Univeristy di Osaka, Jepang, berhasil memijahkan tuna sirip biru pada 1979.
Lokasi yang dipilih untuk membudidayakan tuna itu 20—25°C. Bagian selatan Jepang seperti Okinawa tidak cocok karena suhu perairan terlampau panas. Suhu air sangat penting lantaran mempengaruhi pertumbuhan tuna.
Perusahaan membudidayakan tuna di keramba jaring apung berdiameter 50 m. Keramba sebesar itu diperlukan karena tuna termasuk ikan perenang cepat yang kecepatannya sekitar 70—100 km per jam. Terdapat ratusan keramba di perairan barat Jepang.
Lazimnya keramba itu sulit ditemukan karena berlokasi di pulau terpencil atau tidak adanya akses ke tempat itu. Para pengusaha memanfaatkan sarden dan makarel beku sebagai pakan tuna. Beberapa perusahaan juga mengandalkan pelet khusus tuna serta memberikan vitamin dan mineral untuk memacu pertumbuhan ikan itu.
Mala Nirmala menjelaskan para pengusaha lazim memanen tuna berbobot rata-rata 30—40 kg per ekor. Tentu saja pemanenan pun lebih sulit jika tuna berukuran besar. Pemanenan dilakukan secara cepat dan hati-hati. Harapannya tuna lemas dan tidak berontak.
Setelah itu petugas mengeluarkan jeroan tuna melalui celah insang. Mereka tidak membuka perut ikan untuk membuang jeroan karena berpotensi masuknya air ke tubuh tuna.
Selanjutnya pekerja memasukkan tuna ke dalam bubur es sehari hingga mencapai suhu 0°C. Selanjutnya petugas memotong daging tuna sesuai bagian tubuh menggunakan pisau khusus.
Lazimnya tuna hasil budidaya dijual di toko swalayan dan tempat pelelangan ikan. Konsumen pun dapat menikmati tuna bercita rasa lezat itu dalam sushi atau sashimi.
