Monday, August 8, 2022

Bukan Cuma Pati

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Serat daun sagu yang masih menguncup itu menjadi bahan baku sarung, pakaian, dan layar perahu.

 

Begitulah kesaksian ahli botani asal Jerman, Georg Eberhard Rumphius dalam Tumbuhan Berguna Indonesia. Sepekan setelah pemakaman ibunya, Rumphius meninggalkan kampung halaman, Hanau, Jerman, menuju Jakarta dan kemudian tiba di Ambon pada 1654. Di Sawai, pantai utara Halmahera, ahli botani yang namanya digunakan untuk menyebut spesies sagu tuni Metroxylon rumphii itu menyaksikan masyarakat memanfaatkan serat daun untuk layar kapal.

Faedah sagu bukan hanya untuk pakaian atau layar. Hingga kini masyarakat di berbagai wilayah masih memanfaatkan daun untuk atap rumah. Para pengolah sagu seperti Saraf  Keley di Maluku Tengah, Provinsi Maluku, menggunakan daun sebagai atap dapur. Keley mengatakan atap daun sagu mampu bertahan hingga dua tahun. Selain itu, daun juga berguna sebagai tumang alias wadah  sagu segar. Gaba-gaba alias pelepah yang kuat itu bermanfaat untuk dinding atau bangku.

Secara keseluruhan sagu mampu menyerap karbondioksida. Satu hektar hutan menyerap hingga 289 ton karbondioksida per tahun. Itulah hasil riset Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang mengungkap peran sagu untuk mencegah pemanasan global. Ahli sagu dari Universitas Pattimura, Prof Dr Ir Julius Elseos Louhenapessy mengatakan, “Karbondioksida masuk ke sagu untuk proses fotosintesis, menangkap sinar matahari, pembentukan gula, terjadi metabolisme dalam tanaman membentuk lemak, protein, siklus energi.”

Padahal, hutan sagu Indonesia terluas di Bumi, yakni 1.128.000 ha atau 51,3% dari total luas hutan sagu dunia (lihat grafis: Indonesia Terluas). Artinya, hutan sagu di Indonesia berpotensi menyerap karbondioksida hingga 326-juta ton per tahun. Dibanding tanaman pangan lain seperti ubi jalar (88 ton per ha) atau padi (81 ton per ha) daya serap sagu tertinggi. Louhenapessy mengatakan bahwa sagu amat potensial untuk konservasi wilayah. “Sagu yang tumbuh di sempadan pantai akan menangkal pencucian dari pegunungan, erosi, dan pupuk berlebih,” kata guru besar Fakultas Pertanian Universitas Pattimura itu.

Material-material yang membahayakan kehidupan di laut itu-menyebabkan karang  mati-terserap habis oleh sagu. “Sagu di tepi pantai merupakan penyangga sehingga air laut tak menembus ke darat,” kata Louhenapessy. Adapun sagu di sungai mencegah kenaikan suhu air. Louhenapessy mengatakan suhu tinggi meningkatkan aktivitas metabolisme dan meningkatkan kebutuhan oksigen. Ketika oksigen terbatas memicu kematian biota air.

Pohon anggota famili Arecaceae itu bukan hanya memberi manfaat ketika masih menjadi tegakan. Bahkan, limbah pengolahan berupa serat kasar pun bermanfaat untuk mengisi sofa atau papan. Menurut dosen Jurusan Kehutanan Universitas Pattimura, Benoni Kewilaa MS, limbah sagu cocok sebagai bahan papan serat. Dengan beragam kelebihan itu, menurut Louhenapessy, sagu komoditas serbaguna yang layak dikembangkan. Lama menunggu hingga panen?

Kerabat pinang itu siap tebang pada umur 7-8 tahun. Padahal, sebetulnya kita dapat panen sagu setiap tahun, tanpa harus menunggu sewindu. Sebab, sebatang sagu terus beranak-pinak setiap tahun. Louhenapessy mengatakan sebatang sagu menghasilkan hingga 1.000 tunas sehingga pekebun tak harus menanam bibit setiap saat. “Sagu tak perlu ditanam, di hutan ia menumbuhkan dirinya sendiri,” kata Louhenapessy.

Namun, dari ribuan tunas itu yang menjadi pohon hingga siap tebang paling hanya belasan.  Tunas-tunas itulah yang susul-menyusul sejak fase semai, sapihan, tiang, pohon, dan pohon masak tebang. Dengan demikian, maka setiap tahun pekebun dapat panen lapia alias sagu. Itulah sebabnya ketika pemerintah Provinsi Maluku hendak membangun 25.000 ha sawah demi swasembada beras, Louhenapessy menolak. “Di mana lagi ada lahan 25.000 ha? Yang ada ialah lahan sagu. Jadi kalau mau paksa, bongkar sagu. Tolong ingat, jangan sampai kita sudah mati, baru anak cucu kita bertanya pohon sagu seperti apa?” papar doktor alumnus Universitas Gadjah Mada itu.  (Sardi Duryatmo)

Keterangan Foto :

  1. Sagu terus meregenerasi sendiri dan andal menyerap karbondioksida
  2. Rumah di Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, beratap daun sagu
  3. Tumbak atau tunas sagu. Satu pohon dapat menghasilkan belasan tunas
  4. Gaba-gaba atau pelepah daun sagu menjadi dinding dapur rumah Saraf Keley

 

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img