Friday, December 2, 2022

Bukan Singkong dan Sorgum Biasa

Rekomendasi

Tak salah Sukamto meminta setek batang ubikayu dari Sukabumi selesai berkeliling di kebun singkong itu. Produktivitas ubikayu itu tinggi, mencapai 100 ton/ha. ‘Setiap batang menghasilkan 10-11 kg umbi,’ ujar Soekaeni, SE, pengusaha bioetanol di Sukabumi. Memang diperlukan tenaga ekstra saat Trubus mencoba mengangkatnya.

Ubikayu cicurug salah satu varietas unggul. Namun, dibandingkan singkong mukibat dari Lampung yang produksinya 150 ton/ha, produktivitas cicurug jelas jauh tertinggal. Mukibat adalah silangan singkong biasa dengan batang bawah singkong karet. Namun, kadar pati Cassava sp di Lampung yang ditemukan Abdul Jamil Ridho itu hanya 25%. Di sinilah letak keunggulan cicurug yang berkadar pati hingga 30%.

Pilihan utama

Singkong memang paling berpotensi sebagai bahan bioetanol. Hanya dengan memfermentasi 7 kg singkong, satu liter bioetanol dapat dituai dengan biaya produksi Rp2.400. Itu berarti ongkos produksi jauh di bawah harga premium dengan oktan 88, Rp4.500 yang hingga kini masih disubsidi sebesar Rp1.800/liter. Kerabat karet itu dapat tumbuh di lahan kritis dan resisten terhadap penyakit. Sebab itu, ‘Singkong dapat menjadi pilihan utama bahan bioetanol,’ kata Dr Alhilal Hamdi, ketua Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati.

Menurut Dr Tatang H Sorawidjaja, dari Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, secara umum 1.000 kg singkong biasa menghasilkan 150- 200 kg gula. Dengan proses fermentasi lanjutan menghasilkan sekitar 125 liter bioetanol. Itu berarti rendemen singkong 12,5%. Namun, rendemen cicurug dapat lebih tinggi. Untuk mendapat seliter bioetanol dibutuhkan bahan 6,5 kg. Itu artinya rendemen mencapai 15,4%.

Secara umum kadar pati pada singkong di tanahair hampir sama., ‘Rata-rata berkisar 25-30%. Persentase tinggi terjadi pada musim kemarau,’ ujar Dr Agus Eko Tjahjono, kepala Balai Besar Teknologi Pati (B2TP). Sebab itu untuk menghasilkan 8.000 liter bioetanol, pabrik pengolahan bioetanol B2TP di Lampung membutuhkan 50 ton singkong.

Sorgum

Sorgum yang selama ini dikenal sebagai bahan pangan juga berprospek menjadi bahan bioetanol. ‘Rendemen sorgum biji jauh lebih tinggi,’ kata Dr M Arif Yudianto, kepala bidang Teknologi Etanol dan Derivatif B2TP. Alumnus Tokyo University of Agriculture & Technology itu menggambarkan 2,5 kg sorgum kawali dapat menjadi seliter bioetanol. Itu artinya rendeman Sorghum bicolor 40%.

 

Tingginya nilai pati mendorong Balai Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mencetak sorgum dengan kadar gula tinggi. Tetua yang dipakai adalah durra asal ICRISAT India. ‘Sorgum itu kemudian diinduksi sinar gamma. Nantinya ia memiliki sifat tahan kekeringan, tahan serangan penyakit, dan menelan biaya produksi rendah,’ kata Dr Soeranto Hoeman, peneliti BATAN.

Sejak diuji multilokasi pada 2001 di daerah kering seperti Gunungkidul, Yogyakarta, diperoleh sorgum unggulan bahan bioetanol: sweet sorgum. Sorgum dengan kode B-100 itu cukup istimewa karena memiliki kadar briks 17. Jumlah itu mendekati tebu gula dengan kadar briks 190. ‘Batangnya mengandung jus yang kalau diperas seperti tebu,’ tambah Soeranto. Dari 15 kg batang sorgum dihasilkan 1 liter bioetanol.

Cepat diproses

Meski demikian, menurut Danielle Bellmer dari Divisi Sumber Daya Alam dan Pertanian Oklahoma University, sorgum menyimpan kelemahan. Karena memiliki rantai gula sederhana dalam bentuk sukrosa, perlu segera diproses agar tidak terurai secara aerob menjadi asam cuka sehingga menggagalkan fermentasi. Hal senada juga diungkapkan Soeranto. ‘Sejak sorgum dipanen harus segera diproses agar kadar patinya tidak turun,’ kata alumnus pemuliaan tanaman dari Agriculture University of Norway itu.

Singkong dan sorgum memang dibidik menjadi bahan bioetanol yang andal di luar jagung, tetes tebu, dan aren. ‘Singkong kini sedang diupayakan ditingkatkan produktivitasnya. Dari 10 ton menjadi minimal 40 ton,’ kata Alhilal Hamdi (baca: Alhilal Hamdi: Produsen Boleh Oplos Bioetanol, hal 18- 21). Departemen Pertanian bahkan memasang target pro?duksi etanol asal sorgum sekitar 22,51-juta kiloliter pada 2010. Dengan tanah luas membentang, apalagi mudahnya budidaya, singkong dan sorgum tepat menjadi pilihan bahan biopremium. (Dian Adijaya S/Peliput: Vina Fitriani)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img