Wednesday, August 10, 2022

Bukan Tempe Biasa

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Penampilan aneka tempe berbahan baku kacang lokal seperti kedelai hitam dan kacang hijau.

Produksi tempe sehat berbahan kedelai lokal, kedelai hitam, kacang koro, dan kacang hijau.

Agustinus Priyanto merintis usaha artisan tempe sejak 2010.

Trubus — Rumah sederhana di Bekasi, Jawa Barat, itu tampak lengang. Namun, begitu masuk ke dalam tampak kesibukan empat karyawan di ruang utama dan dapur rumah satu lantai itu. Seorang karyawan memasukkan kedelai matang ke dalam plastik. Seorang lagi menimbang serta mengemas. Dua lainnya menempelkan stiker bertanda “Agus’s Tempe” dan mencatat arus permintaan dari konsumen.

Di rumah bersahaja itulah Agustinus Priyanto memproduksi tempe sehat. Agus, sapaannya, rutin mengolah 210 kg kedelai kuning lokal setiap pekan. Setiap 1 kg kedelai menghasilkan 5 bungkus tempe. Agus menjual dengan harga Rp8.000 per bungkus. Artinya pendapatannya Rp8,4 juta setiap pekan setara Rp33,6 juta setiap bulan. Pendapatan itu belum seluruhnya sebab Agus juga membuat tempe dari kacang koro, kacang hijau, kedelai hitam, dan herbal.

Inovasi

Menurut Agus selama ini tempe identik dengan kedelai. “Padahal, kacang-kacangan lain pun bisa diolah menjadi tempe,” ujarnya. Namun, volume produksi varian tempe itu masih sedikit sebab dibuat berdasarkan pesanan. Setiap pekan Agus hanya mengolah kacang koro, kacang hijau, dan kedelai hitam masing-masing 6 kg. Setiap 1 kg kacang koro dan kedelai hitam menghasilkan 4 bungkus tempe. Sementara 1 kg kacang hijau menghasilkan 5 bungkus tempe.

Harga jual tempe koro Rp6.000 per bungkus, sedangkan tempe kacang hijau dan kedelai hitam masing-masing Rp8.000 dan Rp9.000 Agus merintis usaha tempe sejak 2010. Ia melewati masa-masa sulit untuk menemukan resep maupun metode pengolahan bahan baku hingga menjadi tempe bermutu. Kecintaan Agus pada profesi artisan tempe membuatnya selalu berinovasi untuk menciptakan varian tempe sehat.

Tempe berbahan baku kedelai kuning lokal, kedelai hitam, kacang hijau kreasi Agus Priyanto.

Pria asal Daerah Istimewa Yogyakarta itu memilih kacang terbaik sebagai bahan baku produk. Ia menjalin kerja sama dengan pekebun di berbagai daerah seperti Yogyakarta dan Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Peralatan dan bahan penunjang selama proses pembuatan tempe. Agus memanfaatkan larutan probiotik untuk merendam bahan baku selama 48 jam. “Larutan probiotik berguna untuk meningkatkan nilai gizi,” kata Agus.

Peralatan dalam proses produksi berbahan besi nirkarat agar produk yang dihasilkan bebas kontaminasi senyawa berbahaya yang terkandung di dalam peralatan. Begitu pula dengan pemilihan air. Ia memilih air sumur. Adapun ragi yang dipakai adalah inokulan murni. Ia menambahkan 1 gram ragi untuk 1 kg kedelai kuning dan kacang koro. Sementara untuk kacang hijau dan kedelai hitam hanya 0,5 gram.

Membagi ilmu

Agus menuturkan, tempe merupakan makanan khas Indonesia. Sayangnya, perajin tempe mengandalkan kedelai impor sebagai bahan baku. Fenomena itu membuat hati Agus tersentuh karena mayoritas kedelai impor mengandung Genetically Modified Organism (GMO). Kedelai dengan kandungan GMO lambat-laun bisa mengganggu kesehatan. Itulah sebabnya Agus memilih kedelai lokal dan kacang-kacangan lain yang dibudidayakan secara organik sebagai bahan baku tempe.

Pada awal bisnis, Agus memproduksi tempe kacang koro lebih dahulu. Ia memperkenalkan produknya kepada Komunitas Organik Indonesia. Ada ratusan tempe yang ia bagikan cuma-cuma saat itu. “Mereka memberikan masukan dari segi rasa,” ujarnya. Usai melakukan perbaikan rasa, Agus lantas mengikuti pameran. Tak disangka, ia mampu menjual 50 bungkus tempe dalam waktu 1 jam. Saat itu ia membanderol Rp2.000 per bungkus. “Mayoritas pembeli merupakan konsumen yang peduli pada pangan sehat,” ujar Agus.

Kini Agus gemar membagikan ilmu seputar pembuatan tempe kepada masyarakat lewat pelatihan maupun seminar. Ia juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat di sentra kedelai untuk mengolah hasil panen menjadi produk bernilai jual tinggi. Sejak Agustus 2020, Agus giat membimbing Kolompok Wanita Tani “Sumber Tani” di Playen, Gunungkidul, DI. Yogyakarta. Selain belajar membuat tempe sehat, mereka juga memproduksi terasi dari kedelai. “Mereka berhasil memproduksi 1.000 botol terasi yang siap dipasarkan,” kata Agus.

Terasi dari bahan baku kedelai bikinan Agus Priyanto.

Tempe Herbal

Agus Piryanto berinovasi membuat tempe herbal sebagai varian terbaru. Produsen tempe di Bekasi, Jawa Barat, itu menambahkan bahan herbal pada tempe. Bahan itu antara lain rimpang kunyit, tempe kencur, tempe kayu manis, tempe moringa, stevia, dan tempe spirulina. Harga jual tempe herbal itu Rp7.000 per bungkus, kecuali tempe spirulina dan tempe keju yakni Rp15.000 per bungkus.

Agus menuturkan, herbal mempunyai manfaat yang baik bagi tubuh. Namun, konsumsi herbal terbatas pada kondisi tertentu. Oleh karena itu, Agus berkreasi menambahkan herbal pada tempe sebagai pangan sehat sehari-hari. Tujuannya agar kian banyak orang yang menikmati herbal. (Andari Titisari)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img