Monday, August 8, 2022

Bukti Khasiat Pelawan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Hasil riset ilmiah menunjukkan daun pelawan Tristanopsis whiteana berpotensi sebagai peluruh batu ginjal dan berefek antibakteri.

564_14Zat-zat yang terkandung dalam urine dapat terakumulasi sehingga membentuk seperti batu. Dalam istilah medis pembentukan batu itu disebut urolitiasis. Batu itu biasanya terbentuk oleh endapan mineral kalsium oksalat dan fosfat. Namun, bisa juga terbentuk dari asam urat dan kristal lain. Batu itu dapat terbentuk di mana saja, seperti pada saluran kemih atau pada pelvis dan kalik ginjal sehingga kerap disebut batu ginjal.

Menurut dosen Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Jawa Timur, Fardia Lanawati Darsono SSi MSc, permasalahan batu ginjal menempati urutan ketiga masalah urologi yang kerap diderita pasien, setelah infeksi saluran urine dan gangguan prostat. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan, prevalensi penderita batu ginjal di Indonesia pada 2013 mencapai 0,6%.

Turun-temurun
Akibat terburuk dari urolitiasis terjadinya kerusakan permanen pada ginjal yang mengakibatkan uremia atau gagal ginjal kronik. Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari Rumahsakit dr Sardjito, Yogyakarta, Prof Dr dr Nyoman Kertia SpPD, untuk mengobati batu ginjal dengan mengangkat batu dari ginjal dan saluran kemih melalui operasi atau penghancuran batu dengan laser.

“Pembentukan batu ginjal sebetulnya masih bisa dicegah jika rutin mengonsumsi 2 liter air putih per hari,” tutur guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu. Air berperan membantu membersihkan organ ginjal sehingga tidak ada penumpukan zat-zat hasil sekresi tubuh. Secara tradisional, masyarakat di beberapa daerah di tanahair mengenal aneka jenis tumbuhan untuk membantu mengobati penyakit batu ginjal.

Menurut Fitmawati, dosen Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Riau, dari bukti empiris, terdapat beberapa tanaman yang berpotensi sebagai agen antiurolitiasis, seperti daun waru Hibiscus tilliaceus, daun kumis kucing Orthosiphon lamineus, daun avokad Persea americana, dan daun pelawan Tristanopsis whiteana.

Yang disebut terakhir tanaman yang banyak tumbuh di Pulau Bangka, Provinsi Bangka-Belitung. Namun, hanya sebagian kecil yang telah dibuktikan secara ilmiah kebenarannya. Itulah sebabnya Fitmawati bersama mahasiswanya, Dewi Sartika, membandingkan keempat tanaman itu untuk memilih tanaman yang paling berpotensi sebagai peluruh batu ginjal dan paling cepat meluruhkan batu ginjal.

Paling cepat
Dalam penelitian itu Fitmawati mengekstrak daun masing-masing tanaman dengan tiga teknik ekstraksi, yaitu ekstrak alami, rebusan, dan etanol. Untuk membuat ekstrak alami, Dewi memblender 100 g daun dalam 200 ml air sebagai pelarut. Ia lalu menyaring hasil blender kemudian mengamasnya di dalam botol bersih tertutup rapat dan menyimpannya di dalam refrigerator.

Dewi membagi hewan uji menjadi 3 kelompok. Pada kelompok I Dewi menguji peluruhan 1 gram batu kalsium oksalat dalam 2 ml ekstrak rebusan. Adapun pada kelompok II ia meluruhkan 1 gram batu kalsium oksalat dalam 2 ml ekstrak alami. Sementara pada kelompok III Dewi meluruhkan 1 gram batu kalsium oksalat dalam 2 ml ekstrak etanol yang sudah dibuat suspensi menggunakan CMC atau karboksimetilselulosa.

Pengujian pada masing-masing kelompok dilakukan 3 kali ulangan sehingga diperoleh waktu peluruhan dari masing-masing kelompok. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak etanol daun pelawan berefek antiurolitiasis terbaik karena mampu meluruhkan batu kristal kalsium oksalat paling cepat (lihat tabel). Menurut Fitmawati keampuhan daun pelawan meluruhkan batu kalsium oksalat lebih cepat karena mengandung senyawa fitokimia berupa flavonoid, alkaloid, tanin, fenol, dan steroid atau terpenoid.

Antibakteri
Daun pelawan juga terbukti secara ilmiah berefek antibakteri, seperti hasil penelitian Dewi Handayani, alumnus Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Dalam penelitian itu Dewi menguji secara in vitro efek antibakteri daun pelawan yang diekstrak menggunakan 4 pelarut yang berbeda kepolarannya, yaitu n-heksana, kloroform, etil asetat, dan metanol.

Ilustrasi: Bahrudin
Ilustrasi: Bahrudin

Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kloroform daun pelawan paling aktif dalam menghambat bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus epidermidis. Dari hasil isolasi dan pemurnian ekstrak kloroform menghasilkan 2 senyawa murni, yaitu senyawa 1 dan 2. Kedua senyawa itu mempunyai nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) yang sama terhadap E. coli, yaitu 128 µg/mL. Sedangkan nilai KHM terhadap S. epidermidis pada senyawa 1 dan 2 masing-masing 128 128 µg/mL dan lebih tinggi dari 128 µg/mL.

Hasil elusidasi struktur menggunakan spektrometer resonansi magnetik inti proton (1H-RMI) menunjukkan senyawa 1 diindikasikan mengandung gugus aromatik, alkoksi, metoksi, metina, metilena, dan metil. Dari hasil elusidasi struktur dengan spektrofotometer ultraviolet, inframerah, 1H-RMI, senyawa 2 diduga merupakan asam betulinat.

Itu adalah temuan pertama tentang adanya asam betulinat yang terkandung dalam tanaman pelawan putih maupun pada genus Tristaniopsis. Menurut Dewi dalam berbagai penelitian menyebutkan bahwa asam betulinat mempunyai aktivitas biologis dan berpotensi sebagai obat yang berperan menghambat human immunodeficiency virus (HIV), antitumor, antibakteri, antimalaria, antiinflamasi, antelmintik, antitumor, dan antikanker. (Imam Wiguna)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img