Monday, August 15, 2022

Bunga Ekor Kembali Bergairah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Yang terjual net lokal dengan lebar 2,5 m dan panjang 100 m per rol. Berarti pada pertengahan Mei-saat Trubus meliput-terjual 400 rol setara 100.000 m2 net dibentangkan. Itu pas untuk menaungi 100.000 induk A. jenmanii-jika 1 induk butuh luasan 1 m x 1 m.

Misal 1 induk rata-rata punya 1 tongkol. Anggap produksi per tongkol 1.000 biji, berarti dipetik 1.000 biji x 100.000 induk = 100-juta biji untuk disemai jadi seedling. Dalam 3-4 bulan, seedling 2-3 daun sudah siap dijual. Andai 50% dari total biji yang dihasilkan gagal semai, masih ada 50-juta seedling yang siap jual pada Agustus 2007.

Hasil penelusuran Trubus ke beberapa daerah di Pulau Jawa menunjukkan, si bunga ekor bergairah kembali. Itu antara lain terlihat di pameran Taman KB, Semarang, pada Mei 2007. Hampir setiap stan memajang anggota famili Araceae itu.

Selain itu, permintaan dari daerah luar Jawa mulai masuk. Di Nganjuk, Jawa Timur, KH Drs Rosyidin Ali Said, pekebun sekaligus pemimpin Pondok Pesantren Al Barokah, menerima permintaan seedling jenmanii 2-4 daun dari Kalimantan, Sumatera, dan Riau. Nun di Jakarta ada Vienna Dewi Widjaya, pemilik nurseri Eden. Ibu 5 anak itu rutin mengirim bibit jenmanii 3-4 daun ke Lampung, Manado, Makassar, dan beberapa kota di Kalimantan Timur sejak Januari 2007.

Seperti saham

Lantaran permintaan lebih tinggi dari pasokan, harga anthurium meroket tajam. Harga pun berubah sangat cepat, ‘Seperti pasar saham saja,’ ujar Vienna. Harga seedling meningkat bisa 4 kali dalam sehari. Contohnya, harga seedling jenmanii 3-4 daun Rp65.000/pot pada pagi hari. Siangnya, harga meningkat jadi Rp70.000/pot. Harga terus merangkak naik hingga sekarang. Menurut Rosyidin, pada Mei 2007, jenmanii 3-4 daun dijual seharga Rp300.000-Rp500.000/pot. Padahal, 4 bulan lalu harganya masih Rp55.000/pot.

Jenmanii memang masih jadi favorit. ‘Ia jadi incaran lantaran sosoknya gagah, daun tebal, dan relatif tahan penyakit dibandingkan jenis lain,’ kata Jimmy Darjito, pedagang anthurium asal Wonosobo. Meski begitu, ada sedikit pergeseran jenis yang diminati konsumen dibandingkan tahun lalu. Kini, anthurium berwarna gelap menjadi incaran. Sebut saja jenmanii cobra hitam, black beauty, jenmanii black, dan burgundy.

Kehadiran jenis-jenis baru turut meramaikan pasar. Yoe Kok Siong, pekebun di Kaliurang, Yogyakarta, mendatangkan supernova, golden daun mawar, ratu srikit, black hookeri, black twister, dan kejora silver metalik dari Thailand dan Amerika Serikat. Jenis baru dari negeri Siam juga diboyong dr Darwis Nasution. Dokter spesialis kandungan itu membawa sendiri jenmanii perfecta dan king cobra black menggunakan pesawat udara.

Euforia anthurium pada awal 2007 itu tak terduga. Sebelumnya diprediksi tren kerabat aglaonema itu hanya bertahan 1 tahun. Memang pada Januari-Febuari 2007 penjualan sempat anjlok. Menurut Haw Lie, pekebun di Desa Berjo, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, tren anthurium tak terlepas dari peran media. Sejak Maret 2007, media lokal bergantian memuat si bunga ekor. ‘Belum lagi tabloid tanaman yang kian marak di Jawa Tengah dan Jawa Timur,’ tambah Haw Lie. Akibatnya semakin banyak orang penasaran dan ingin memiliki anthurium.

Buru induk

Tanaman yang jadi buruan tak hanya seedling, tapi juga tanaman induk. Menurut Andi Wijaya di Serpong Tangerang, pada April 2007, setiap minggu minimal 2-3 truk datang dari Karanganyar, Solo, untuk mengangkut induk-induk anthurium. Yang diambil tanaman-tanaman yang sudah bertongkol. Jenisnya tak hanya jenmanii, tapi juga A. hookeri.

Truk-truk milik para pedagang itu menyisir kios-kios yang ada di Taman Tekno, Bumi Serpong Damai, Tangerang, mulai dari atas hingga bawah. ‘Semua tanaman besar diambil,’ kata salah seorang pemilik nurseri Toekangkeboen itu. Kondisi serupa diamini Herry E Asmansyah, SE, dari nurseri Nikku & Lavira di lokasi sama. Di Bogor, induk anggota famili Araceae di kebun Ir Sugiono Budhiprawira diboyong pedagang dari Solo. ‘Mereka berani membeli indukan jenmanii seharga Rp40-juta-Rp50-juta/pot,’kata Windra Al-Fadli, pembesar anthurium di Malang.

Waktu Trubus cek ke Jawa Tengah, memang benar banyak pekebun yang mencari tanaman induk. Pasalnya, tongkol-tongkol pada indukan lama banyak yang ompong, pertanda biji gagal diproduksi. Menurut Haw Lie, kegagalan produksi biji lantaran kabut dan hujan yang turun terus-menerus saat tongkol terbentuk pada Januari-Februari. Akibatnya, ‘Biji yang terbentuk kurang dari 10%,’ ujar pria kelahiran Solo itu. Untuk mengejar produksi dalam waktu singkat, pekebun pun mencari indukan baru yang bertongkol dan berbiji.

Selain itu, ada beberapa orang yang ingin mengulang sukses yang diraih pada pertengahan 2006, saat anthurium booming. Tercatat pemain baru anthurium bermunculan di Tegal, Kendal, Purwokerto, dan Kudus. Bisa jadi karena mereka ingin sukses seperti pioner sebelumnya. Contohnya Darmawan. Kakak ipar Haw Lie itu memperoleh omzet sebesar Rp50-juta-Rp100-juta/bulan.

Maling

Para pemain baru mesti siap dengan beragam batu sandungan. Serangan penyakit bercak kuning dan bercak daun sangat ditakuti pekebun. Bila terserang penyakit, tanaman rusak keindahannya sehingga menurunkan harga jual. Peluang tanaman yang selamat dari serangan bercak kuning tak lebih dari 40%.

Namun, momok utama adalah pencurian. Nun di Purwokerto, Eni Susilowati, mesti merelakan jenmanii 6-8 daun setinggi 20 cm digondol maling pada awal Februari 2007. Kejadian tersebut dialami 2 kali berturut-turut dalam jangka kurang dari sebulan. Total kerugian mencapai Rp40-juta.

Kejadian serupa dialami Topan Setiyarno di Desa Balong, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Greenhouse yang dilengkapi alarm tak membuat pencuri gentar melakukan aksinya. Bahkan pria kelahiran Juni 1968 itu disatroni maling hingga 3 kali: September 2006 dan 2 kali pada Mei 2007. Total ada 60 A. jenmanii yang diambil, termasuk satu varian mahal, kobra. Pegawai puskesmas Jenawi itu pun harus merelakan Rp72,5-juta melayang.

‘Di Karanganyar pencurian terjadi setiap malam,’ ujar Jimmy Darjito. Modusnya, sebuah mobil menyebar 1-2 orang di tempat-tempat berbeda. Mereka bertugas memancing kecurigaan sehingga pekebun yang melakukan jaga malam terpecah konsentrasinya. Pada saat itulah kelompok utama melakukan pencurian di tempat yang penjagaannya lemah.

Prediksi

Lalu sampai kapan tren anthurium ke-2 bertahan? Banyak versi yang beredar. Vienna memprediksi tren anthurium bertahan hingga 2 tahun ke depan. Musababnya hingga kini jumlah pasokan selalu di bawah permintaan. Sementara Rosyidin yakin, athurium masih menjanjikan hingga 5 tahun ke depan. Alasannya, beberapa jenis terbilang langka dan ketersediaan di pasar sedikit.

Toh, ada juga yang mewanti-wanti tren anthurium bakal cepat melorot. Salah satunya, merujuk pada perhitungan jumlah shading net yang dijual Lila tadi. Dari hitung-hitungan kasar, pada Agustus 2007 ada sekitar 50-juta seedling jenmanii 3-4 daun yang siap dipasarkan. Kemanakah bibit-bibit anggota famili Araceae itu akan dijual? (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Argohartono Arie Raharjo, Evy Syariefa, dan Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img