Thursday, August 18, 2022

Caladium Tengoklah ke Negeri Siam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Penghujung 2006, wartawan Trubus Dian Adijaya Susanto dan Evy Syariefa dibuat kagum waktu berkunjung ke pameran tanaman hias di Suan Luang, Bangkok. Di salah satu sudut taman kerajaan itu, berpot-pot keladi dengan corak warna-warni dan sosok rimbun ditata membentuk taman. Itu para juara kontes dalam rangka ulang tahun Raja Bumibhol Adulyadej setiap awal Desember.

Pemandangan serupa ditemui di Chachaongsao-100 km ke arah timur Bangkok. Berpot-pot keladi bernuansa merah, putih bertulang hijau, paduan merah dan hijau, hingga merah muda bertotol merah pekat dan merah muda bergaris merah pekat berderet di atas meja putih. Wah kalau melihat yang seperti ini, ternyata keladi indah-indah ya. Saya yang tidak tahu tentang keladi saja jadi tertarik, kata Aris Budiman, pemain adenium di Yogyakarta.

Di tanahair, citra keladi memang miring. Kerabat alokasia itu dianggap sekadar tanaman kampung yang tumbuh di tepi-tepi jalan. Bukan sekali-dua Ino Tumasow, pemilik nurseri keladi Jakarta Timur mendengar selorohan itu. Ih, tanaman pinggir jalan kayak gini kok dijual, ujar seorang pembeli di sebuah pameran di Jawa Tengah. Maklum, keladi yang banyak ditemukan di tanahair jenis kuno dengan paduan warna merah hijau dan batang nglancir. Daunnya pun paling 3-4 helai.

Ratu Sirikit

Bila caladium asal Thailand tampil indah, itu karena hasil kerja para penyilang. Pichai Manichote, produsen bahan-bahan kimia pertanian yang hobi mengoleksi keladi bercerita, seorang jenderal polisi kenalannya di Bangkok rajin menyilang-nyilangkan anggota keluarga talas-talasan itu. Salah satunya, caladium berdaun seperti hati, bertangkai pendek, dengan nuansa warna merah dan tulang hitam. Ini jenis baru, sosoknya lebih kompak, ujarnya sambil menunjukkan foto kerabat alokasia itu.

Sebuah asosiasi keladi membuat perkembangan anggota famili Araceae itu kian intensif. Di dalamnya bergabung penyilang, pemilik nurseri perbanyakan, dan hobiis. Mereka rajin melakukan kontes untuk mencari jenis-jenis terbaik. Itulah yang Trubus saksikan pada penghujung Desember.

Gaungnya kian menguat lantaran Ratu Sirikit-perempuan nomor satu di Thailand-ikut kepincut si daun indah itu. Piya Subhaya-Achin-pemain aglaonema kawakan menunjukkan beberapa foto dalam sebuah publikasi saat sang Ratu berkunjung ke nurseri dan kontes caladium.

Ratu Sirikit pun ada di balik berdirinya semacam pusat penelitian khusus untuk keladi di Chachaongsao. Di sana Evy Syariefa melihat deretan rumah plastik berukuran 4 m x 2 m setinggi 1,5 m berisi caladium dalam pot. Umbi keladi yang baru mementiskan 1 daun disungkup selama 3 bulan. Keladi jadi berwarna cerah, bersosok pendek, dan banyak daun. Keladi butuh kelembapan tinggi supaya tumbuh bagus, kata Jitaporn Karnjana, penanggung jawab nurseri di Extension Agricultural, King’s Project-pusat penelitian itu. Lantai rumah plastik digenangi air.

Massal

Produksi keladi digenjot dengan mencacah umbi keladi tipis-tipis. Supaya tingkat keberhasilan tinggi, cacahan umbi dimasukkan dalam wadah plastik kedap udara dengan media pasir. Setelah berdaun sehelai dimasukkan ke dalam sungkup. Cara perbanyakan dengan mencacah umbi juga dilakukan Ulih Sunardi di Ciapus, Bogor.

Ilmu dari proyek raja itu lantas disebarkan pada pekebun. Sebut saja Saiyut Na Cha Roen di Banpoo-masih di Chachaongsao. Bersama pekebun lain yang tergabung dalam kelompok tani yang disponsori Ratu Sirikit, Saiyut mengelola 20 rumah plastik berukuran 1 m x 2 m setinggi 1 m berisi ribuan caladium.

Sesosok berwarna merah pekat, pendek, seperti tanaman plastik langsung memikat Aris. Ini suvarnabhumi-sama seperti nama bandara baru di Bangkok. Artinya kira-kira emas permata, kata Saiyut. Dari sanalah setiap bulan 4.000-5.000 tanaman berdaun 4-5 helai diperjualbelikan. Sebagian dikirim ke Indonesia melalui pedagang perantara.

Versus aglaonema

Negara lain bukan tidak ada yang mengembangkan caladium. Florida, Amerika Serikat, salah satu sumber keladi-keladi bagus. Itulah yang didatangkan oleh Benny Tjia. Sebut saja florida sweetheart yang bernuansa merah muda atau red flesh dengan tulang merah di atas dasar hijau. Sosok tanaman terlihat lebih kokoh dengan daun rimbun. Keladi dari Florida lebih rajin berdaun, kata Benny, pemilik nurseri, Mandiri Jaya Flora di Bogor itu.

Toh, dari keragaman warna dan corak elephant’s ear-nama di negara 4 musim-keladi asal Thailand masih unggul. Pantas bila banyak hobiis dan importir yang mendatangkan dari negeri Siam. Sebut saja Gunawan Wijaya di Sentul, Bogor. Pemain tanaman hias kawakan itu rutin mendatangkan umbi keladi sejak pertengahan 2005. Selain hobiis, petani di seputaran Ciapus, Bogor, jadi pelanggan. Itu juga yang dilakukan Fitriyanti Sitepu di Medan, Eddy Sutioso di Surabaya, dan Ino Tumasow. Maklum selama ini, Thailand memang jadi barometer bisnis tanaman hias. Contohnya aglaonema.

Sri rejeki itu mulai dikembangkan besar-besaran pada 1990-an. Para penyilang mengawinkan beragam induk asli Thailand dengan Aglaonema rotundum-penghasil warna merah asal Sumatera. Hasilnya, jenis-jenis baru bercorak indah. Banyak importir tertarik mendatangkan ke tanahair. Di sini, siamese rainbow itu bersaing dengan aglaonema hasil silangan Gregori Hambali yang juga cantik. Garis-garis tegas legacy mengingatkan pada tiara.

Hobiis tak bosan menambah koleksi karena jenis baru terus bermunculan. Namun, Dr Bayu Krisnamurthi, Deputi Bidang Pertanian, Kelautan, dan Perikanan di bawah Menteri Koodinator Kesejahteraan Rakyat, mengingatkan, Kalau selama ini kiblat tanaman hias adalah Thailand, sebaiknya kita mulai bekerja untuk mengembangkan jenis-jenis baru. Supaya kita tidak sekadar jadi pasar, tutur doktor dari IPB itu.

Ditipu

Mendatangkan keladi dari negeri Siam tidak semudah membalikkan telapak tangan. Awal mendatangkan, dari 1 kontainer yang dipesan Eddy Sutioso, hanya beberapa tanaman yang layak jual. Sisanya ternyata keladi kampung, keluh distributor makanan jepang itu. Sejak 4 bulan terakhir Ulih Sunardi memilih memperbanyak keladi asal Florida.

Yang dari Thailand tingkat keberhasilan hidupnya hanya 30%, ujar pria bersahaja itu. Daun kerabat aglaonema itu gampang rusak bila terkena sinar matahari. Batangnya kerap terlihat loyo. Salah perlakuan, daun tumbuh nglancir sehingga tajuk terlihat kosong.

Dr Surawit Wannakrairoj, presiden Ornamental Plant Variety Develop Club, Thailand, berujar, Keladi memang punya corak warna yang bagus, tapi dibanding tanaman lain lebih susah dirawat. Supaya pendek, kompak, dan berwarna cerah, ia mesti diletakkan di ruangan dengan kelembapan tinggi. Begitu dibawa keluar, kondisi langsung drop.

Toh Ir Hari Harjanto tak gentar. Untuk mengatasi kebutuhan air, media yang digunakan menggunakan campuran sekam dan cocopeat. Cocopeat menyimpan air, ujar arsitek lansekap dari IPB itu. Bila cocopeat tidak tersedia, hobiis mesti rajin menyiram. Perkara daun menguning dan layu terkena sinar matahari, tak perlu jadi hambatan. Menurut Hari, daun yang muncul berikutnya justru lebih adapatif. Sosoknya lebih pendek dan warna lebih cerah.

Terjangkau

Pantas Eddy tak surut mencoba peruntungan pada keladi. Pada September ia mendatangkan 30.000 tanaman. Hingga awal Januari 2007, kelahiran Jakarta 16 Juni 1964 itu menjual 3.000 tanaman dengan harga Rp30.000-Rp500.000 per pot tergantung jenis dan ukuran. Jika penampilan tanaman bagus, pasti bisa dapat harga bagus, kata pria yang menerapkan sistem sungkupan ala Thailand itu.

Lima puluh pot yang dibawa Aris Budiman pada akhir 2006 memikat pembeli yang datang ke nurseri. Namun, Adeng-sapaan akrabnya-belum mau melepas tanaman yang baru mementiskan 1- 2 daun itu. Melihat respon pasar, Adeng berencana mendatangkan kembali pada Februari.

Apalagi, keladi relatif bandel. Nyaris tak ada hama penyakit yang menyerang. Dari segi harga juga lebih terjangkau ketimbang aglaonema. Sementara warnanya lebih indah, ujar Eddy. Penggemar burung hias itu yakin, pasar tanaman berumbi itu bakal lebih luas. Pemanfaatannya tak melulu sebagai tanaman dalam pot, tapi juga untuk taman.

Dikaitkan dengan budaya, Keladi adalah lambang cinta, kata Eka Budianta, budayawan di Jakarta. Dahulu di India dan sebagian daerah Jawa, seorang ibu mengunjungi anaknya sambil membawa pohon keladi untuk ditanam di rumah si anak. Daun keladi yang berbentuk hati, simbol cinta ibu pada anaknya. Karena cinta pula, para hobiis di Thailand dan tanahair mengoleksi tanaman berdaun hati itu. (Evy Syariefa/Peliput: Argohartono Arie Raharjo, Destika Cahyana, dan Rosy Nur Apriyanti)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img