Saturday, December 3, 2022

Camilan Antistunting dari Bahan-Bahan Pilihan

Rekomendasi

Trubus.id — Persoalan stunting menjadi salah satu pekerjaan rumah yang ada di Indonesia. Sebagai upaya mengatasi masalah stunting, mahasiswa Universitas Gadjah Mada membuat camilan berupa snack bar.

Camilan berupa Sprouted Snack Bar (SSB) ini merupayakan upaya dari program Pemberian Makanan Tambahan dengan harga terjangkau karena bahan baku pembuatan mudah ditemui. SSB dapat memenuhi 3 zat gizi yakni protein, zat besi, dan seng. Ketiga zat utama itu dapat mencegah stunting.

Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4%. Angka ini menurun 6,4% dari 2018 sebesar 30,8%. Namun, masih tergolong tinggi dan berada di atas angka standar yang ditoleransi WHO yakni di bawah 20%. 

Adiva Aphrodita, mahasiswa pembuat inovasi dari Fakultas Biologi, mengatakan, SSB ini terbuat dari bahan utama kacang merah berkecambah, beras merah berkecambah, kacang kedelai berkecambah, dan pisang.  

“Alasan dipilihnya produk snack bar karena camilan ini disukai anak-anak dan memiliki masa simpan yang cukup lama,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari laman Universitas Gadjah Mada.

Lebih lanjut, Adiva menjelaskan bijian berkecambah sendiri memiliki kandungan protein dan mikronutrien yang lebih tinggi dibanding biji utuh. Hal ini karena proses perendaman dan perkecambahan dapat meningkatkan nutrien yang terkandung.

Kedelai, beras merah, dan kacang merah yang telah berkecambah mengandung protein tinggi dan kadar fitat menurun yang mampu meningkatkan kadar zat besi dan seng. Konsumsi pangan tinggi protein dapat meningkatkan sintesis albumin serum darah sehingga memicu pembentukan sel saat pertumbuhan dan menjaga organ hati sehat.

Selain itu, zat besi membantu sintesis kolagen jaringan tulang, sedangkan seng membantu peningkatan panjang dan berat tulang femur.

Selain membandingkan kandungan produk antara bijian berkecambah dengan biji dorman, tim telah melakukan perbandingan dua metode pengolahan, yaitu metode sangrai dan oven. Selanjutnya, mereka melakukan uji organoleptik produk pada anak usia sekolah dasar, uji nutrition facts, dan uji in vivo

“Inovasi SSB ini mampu menjadi alternatif jajanan bergizi untuk anak sekolah. Dengan adanya produk ini, diharapkan ada peningkatan kualitas makanan untuk anak-anak sehingga dapat menekan angka stunting di Indonesia,” tutur Adiva.

Adiva mengembangkan produk ini bersama empat mahasiswa UGM lain yakni Matilda Jesseline Gabriela Giovanni (Fakultas Biologi 2020), A. Najib Dhiaurahman (Fakultas Biologi 2020), Felisitas Mellania Ajeng Anggraeni (FK-KMK 2019), dan Nur Afni Oktri Fiana (FTP 2019), di bawah bimbingan Lisna Hidayati, S.Si., M.Biotech.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img