Trubus.id — Serangan lanas pada ubi jalar menjadi momok bagi para petani. Potensi kerugian akibat lanas bisa mencapai 90% atau lebih fatalnya adalah gagal panen. Sebetulnya, ada satu cara yang bisa dilakukan petani untuk menghalau serangan lanas.
Dr. Ir. I Made Samudra, M.Sc., peneliti di Balai Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan, serangan lanas bisa dikendalikan dengan bahan pengendali lanas bernama ferolanas.
Ia mulai merakit ferolanas sejak 2012. Fero berasal dari kata feromon atau zat penarik kumbang jantan, sedangkan lanas berasal dari nama hama itu. Pasang ferolanas pada tabung sebagai perangkap kumbang jantan.
“Mulanya kami amati, bagaimana kumbang jantan bisa menemukan kumbang betina di sekitar vegetasi ubi yang sangat rapat itu. Ternyata, mereka punya alat komunikasi berupa feromon yang betina keluarkan untuk menarik pejantan,” tutur ahli biokimia pertanian itu.
Langkah selanjutnya, peneliti itu membeli feroemon sintetis yang aromanya menyerupai kumbang betina, lalu melarutkannya ke karet. Nah, karet itu yang ia pasang sebagai perangkap di stoples plastik bervolume 2 liter.
Selanjutnya, stoples plastik tadi dibuat lubang di kiri dan kanan berukuran 1 × 5 cm. Kumbang jantan akan masuk lewat lubang itu dan akan terperangkap dalam stoples. Lalu, serangga turun ke media air sabun dan mati. Begitu cara kerjanya.
Made menyarankan pemasangan ferolanas mulai awal tanam untuk daerah endemik. Masa budidaya ubi sekitar 5 bulan. Jadi dalam satu musim tanam, petani perlu memasang ferolanas dua kali.
Adapun pemasangan ferolanas di daerah nonendemik sekali saja, sejak tanaman berumur 1,5–2 bulan pascatanam atau saat tanaman memasuki fase pembentukan umbi.
Made menuturkan, pemasangan perangkap dengan cara digantung di sekitar area tanaman dengan ketinggian sekitar 50 cm dari tanah. Lebih bagus lagi, jika bagian bawah perangkap bisa menempel di daun karena penangkapan lebih cepat.
Menurut Made, cara kerja ferolanas dengan menyebarkan aroma seperti betina yang belum kawin. Selanjutnya, aroma ferolanas didatangi para pejantan yang belum pernah kawin. Ketika pejantan mendekat, ia terperangkap di stoples yang diberi air sabun. Pejantan tidak bisa keluar dan mati di dalam air sabun.
“Logikanya, kalau pejantan habis, maka siapa yang mengawini betina? Serangga betina tetap bisa bertelur tetapi infertil. Artinya populasi kumbang lama-lama habis,” terang Made.
Harianto, petani ubi madu di Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menerapkan cara yang disarankan Made. Terbukti, dengan pemasangan ferolanas, Harianto bisa mengendalikan serangan penyakit yang memiliki predator berupa semut dan laba-laba itu.
“Sejak memakai ferolanas, serangannya turun sekitar 80%,” kata lelaki yang menekuni budidaya ubi madu sejak 2010 itu.
Harianto berharap, kios-kios pupuk atau kios obat-obatan pertanian menjual ferolanas sehingga petani mudah mendapatkan produk itu. Bagi Harianto, ferolanas senjata ampuh pembasmi lanas.
