
Cara tepat perbanyakan nanas dengan setek batang dan mahkota.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi nanas menempati peringkat ketiga setelah pisang dan mangga. Pada 2014 produksi nanas mencapai 1,83 juta ton atau setara 9,27% dari total produksi buah nasional. Sementara produksi pisang 6, 86 juta ton dan mangga 2,43 juta ton. Kebun-kebun nanas paling banyak dijumpai di Pulau Sumatera berkapasitas panen 1,19 juta ton setara 64,91% dari total produksi nanas di tanahair.
Provinsi penghasil nanas terbesar adalah Lampung, Sumatera Utara, dan Jambi. Pada 2014 jumlah produksi nanas turun 2,51% atau setara 47.319 ton. Provinsi yang mengalami penurunan jumlah produksi adalah Lampung dan Jawa Timur. Yang menarik, produksi nanas di provinsi lain seperti di Sumatera Utara dan Jambi justru meningkat. Produksi nanas Sumatera Utara meningkat 4,14% atau sekitar 9.445 ton dan Jambi 39,96% setara 62.942 ton.
Setek
Data itu menunjukkan, peluang pengembangan nanas di Indonesia terus meningkat, terutama di luar daerah sentra. Potensi lahan yang mumpuni serta permintaan pasar yang cukup tinggi membuat nanas layak untuk dikebunkan secara komersial. Oleh karena itu, ketersediaan benih menjadi faktor penting dalam pengembangan nanas di tanahair.

Tanaman anggota keluarga Bromeliaceae itu diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif mengandalkan biji. Biasanya cara itu ditempuh untuk kegiatan pemuliaan untuk mendapatkan varietas unggul baru. Adapun perbanyakan vegetatif menggunakan tunas anakan, tunas batang, slip alias tunas dasar buah, dan mahkota. Mayoritas pekebun biasanya memilih tunas anakan dan mahkota sebagai sumber bibit.
Sayangnya ketersediaan kedua jenis tunas itu sangat terbatas, terutama pada nanas klon cayenne dan spanish—hijau dan merah. Kedua klon itu hanya mampu menghasilkan maksimal 1—3 tunas. Selain itu ukuran tunas tidak seragam. Padahal, untuk sehektare lahan perlu 40.000—80.000 bibit. Sebab itu teknik perbanyakan untuk mendapatkan bibit dalam jumlah banyak, cepat, dan seragam sangat dibutuhkan.
Salah satunya dengan teknik perbanyakan setek. Keuntungan dari perbanyakan setek antara lain mudah dikerjakan, benih yang dihasilkan banyak, murah, dan pengangkutannya mudah. Selain itu bibit yang dihasilkan juga seragam. Bibit yang seragam memudahkan pekebun dalam perawatan. Pemanenan juga dapat dilakukan serempak.
Perbanyakan setek mampu mengaktifkan pertumbuhan dari mata tunas yang terletak pada batang, tunas, dan mahkota. Bahan setek diperoleh dari batang tanaman nanas yang sudah berbuah. Tanaman yang sudah berbuah memiliki batang cukup panjang dan tua. Apabila diameter batang tampak besar maka dapat dibelah menjadi beberapa bagian.
Perawatan
Bibit dari perbanyakan setek tumbuh sentosa di lingkungan bersuhu 29°C. Pemeliharaan bibit dilakukan mulai dari persemaian, pembibitan, dan sebelum tanaman di pindah ke lapang. Tahapan pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan, pengendalian hama penyakit, dan penyiangan. Saat bibit berumur 7—10 hari, lakukan penyiraman sedikit mungkin. Tujuannya agar permukaan bekas potongan menjadi kering dan keras.
Selanjutnya siram bibit di persemaian 2—3 kali setiap pekan, tergantung kelembapan media persemaian. Setelah bibit dipindahkan ke polibag, siram bibit 1—2 kali setiap pekan. Pemupukan dapat dilakukan jika bibit nanas sudah dipindahkan ke pembibitan atau polibag. Sebagai sumber nutrisi berikan pupuk daun atau pupuk NPK yang dicairkan.
Pekebun juga mesti waspada serangan hama dan penyakit. Hama yang kerap menyerang bibit nanas biasanya kutu putih dan semut. Pekebun harus waspada bila di pembibitan terdapat semut. Keberadaan serangga mungil itu sebagai tanda adanya kutu putih yang bersarang di pangkal setek atau wilayah perakaran.
Untuk mengatasinya, semprot bibit dengan insektisida berbahan aktif organofosfat. Gunakan dengan dosis sesuai anjuran minimal setiap 2 pekan untuk membunuh hama kutu putih dan semut. Adapun penyakit yang perlu diwaspadai adalah busuk pangkal batang. Untuk mengatasinya semprot dengan bakterisida. Saat di persemaian, setek yang tidak jadi atau busuk sebaiknya segera dibuang agar tidak menjadi sumber penyakit bagi bibit nanas lain.
Segera buang gulma yang tumbuh di persemaian maupun di pembibitan. Dengan penerapan teknik budidaya intensif seperti itu bibit nanas bisa tumbuh baik dan siap dikebunkan. (Ir. Sri Hadiati, M.P., Peneliti Madya pada Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika)
