Alat pengukur kualitas air tambak terhubung internet dan sistem manajemen budidaya digital. Petambak mengetahui pH, suhu, oksigen terlarut, dan salinitas berbarengan melalui satu peranti.

Trubus — Rangga Luki selalu membawa buku dan pulpen ketika berkeliling ke-8 tambak udang. Tujuannya mencatat hasil pengukuran kualitas air tambak pada pagi dan sore serta jumlah pemberian pakan. Pengelola tambak udang di Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu lalu memotret catatan pengukuran kualitas air dan jumlah pakan kepada pemilik tambak per 3 hari.
“Jika tidak ada catatan itu, tidak bisa mengevaluasi hasil budidaya udang,” kata Rangga. Itu cerita lama. Kini ia tidak memerlukan buku dan pulpen untuk mencatat pengukuran kualitas air dan jumlah pakan. Pemilik tambak pun bisa mengetahui hasil pengukuran dan pakan pada hari yang sama. Tidak lagi menunggu foto catatan dari Rangga setiap 3 hari.
Inovasi
Pemilik tambak bisa mengakses data itu setiap saat selama terhubung ke internet. Dari semua data itu pemilik tambak bisa memantau pertumbuhan udang dan memprediksi waktu panen. Yang istimewa lagi Rangga hanya mengandalkan satu alat untuk mengukur 4 parameter kualitas air yang meliputi pH, suhu, oksigen terlarut, dan salinitas berbarengan. Lazimnya ia memakai satu alat untuk satu parameter.
Misal pH meter untuk mengukur pH dan termometer untuk mengetahui suhu. Semua kelebihan itu sangat membantu pengelola dan pemilik tambak membudidayakan udang. Apa rahasia Rangga sehingga semua pekerjaan di tambak menjadi lebih efisien dan efektif? “Saya menggunakan aplikasi Jala sejak akhir 2018 dan alat bikinan Jala pada Maret 2019,” kata pria yang mengelola tambak sejak 2009 itu.

Customer Relationship Jala Tech, Endra Arif Wicaksono, mengatakan Jala Tech adalah alat pengukur 4 parameter kualitas air (pH, suhu, oksigen terlarut, dan salinitas) secara bersamaan. Selanjutnya pengelola tambak dapat melihat hasil pengukuran itu secara daring melalui aplikasi Jala Tech. Oleh karena itu, petambak dapat memantau kualitas air melalui aplikasi kapan dan di mana saja.
Tentu saja penggunaan Jala Tech lebih efisien dan ekonomis. Ada 2 produk Jala Tech yakni alat pengukur kualitas air dan aplikasi pada telepon pintar (smart phones). Alat pengukur kualitas air bikinan Jala Tech terbagi menjadi dua yakni Jala Continous Mode dan Jala Portable. Jala Continous Mode terpasang hanya untuk satu kolam. Tidak bisa dipindah ke kolam lain. Alat itu mengukur 4 parameter air secara berulang dan mengirimkan hasil pengukuran secara otomatis setiap 30 menit.
Petambak bisa menyetel interval waktu sesuai keperluan. Kelebihan Jala Continous Mode yakni mengetahui titik kritis harian. Misal kadar oksigen terlarut yang rendah pada jam tertentu sehinggga petambak bisa segera menanggulanginya. Adapun Jala Portable bisa mengukur parameter kualitas air untuk minimal 8 kolam. Syaratnya mesti ada pekerja yang mengelilingi tambak dan menyimpan hasil pengukuran seperi pengalaman Rangga. Jumlah kolam itu menyesuaikan kemampuan pekerja.
Lima menit

Ada waktu tertentu pengukuran kualitas air yang pas seperti pukul 06.00—07.00. Waktu pengukuran bisa lebih lama jika kolam yang diukur lebih dari 8. Dampaknya data pengukuran kurang optimal. Jala Portable memerlukan 5—10 menit hingga angka yang terbaca stabil. Setelah itu data terkirim ke aplikasi dan pekerja bisa menuju ke kolam berikutnya.
Sebelum masuk ke kolam lain, pekerja mensterilkan alat menggunakan air tawar atau kaporit. “Tujuannya mencegah penularan penyakit dari kolam ke kolam,” kata Endra. Petambak yang tertarik menggunakan Jala Portable bisa menyewa alat itu Rp300.000 per kolam per bulan. Total jenderal petambak mesti membayar Rp2,4 juta per bulan untuk 8 kolam.
Cara pakai Jala Portable relatif mudah. Mula-mula masukkan sensor alat kualitas air Jala ke dalam kolam. Tekan tombol kirim untuk mengirim data kualitas air. Lalu catat dan pantau kualitas air melalui gawai. Adapun untuk Jala Continous Mode, Endra menyarankan petambak membelinya jika memerlukan pemantauan kolam yang lebih akurat. Harga alat itu sekitar Rp43 juta per unit.
Tim Jala Tech tetap mendampingi konsumen yang membeli Jala Continous Mode. Endra dan Rangga sepakat harga kedua alat itu ekonomis. Selain alat pengukur kualitas air, Jala Tech pun mengembangkan aplikasi yang bersifat manajerial. Petambak bisa mengetahui ukuran, bobot, pakan harian, dan kelangsungan hidup udang melalui aplikasi Jala Tech. Semua estimasi itu didapat dari data yang dimasukkan pekerja di tambak.
Artinya semua hal yang dilakukan pekerja di tambak tercatat pada aplikasi. Jadi petambak bisa mengetahui pertumbuhan udang, menentukan waktu panen, dan tindakan lain yang diperlukan. Aplikasi Jala Tech juga memberikan wawasan baru mengelola tambak berdasarkan data dan informasi budidaya. Itu karena ada beberapa fitur pada aplikasi yang dapat dimanfaatkan pengguna secara gratis seperti harga, artikel terbaru, dan informasi penyakit udang.

Endra menuturkan, “Kami ingin menjembatani antara tenaga lapang dan pemilik tambak.” Bisa jadi bisnis pemilik tambak tidak hanya seputar budidaya udang. Meski sibuk, pemilik tetap bisa memantau tambak secara nyata atau real time menggunakan produk Jala Tech. Akurasi data yang ditampilkan pada aplikasi relatif tinggi sehingga penanganan bisa lebih cepat jika kondisi tambak berubah. Aplikasi Jala Tech gratis. Pengguna bisa mengunduhnya menggunakan telepon pintar.
Endra tidak memaksakan konsumen menggunakan alat. Tergantung kebutuhan konsumen. Semula Rangga hanya menggunakan aplikasi Jala pada telepon pintar. Selang 3 bulan ia pun menggunakan alat pengukur kualitas air kreasi Jala. “Fungsi utama aplikasi Jala bagi saya memudahkan pencatatan kualitas air dan jumlah pakan. Selain itu menambah wawasan seputar budidaya udang seperti hama penyakit dan harga udang,” kata pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, itu. (Riefza Vebriansyah)
