Thursday, August 18, 2022

Cara Nagai Olah Sampah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Warga Kota Nagai, Jepang, berpartisipasi mengolah sampah sejak di dapur mereka.

Budidaya sayuran organik di Jepang.
Budidaya sayuran organik di Jepang.

Warga Jepang membuang hingga 8-juta ton bahan makanan per tahun. Angka itu dua kali lipat jumlah bantuan pangan dunia kepada negara-negara yang kekurangan pangan yang hanya sekitar 4-juta ton per tahun. Itulah catatan Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang. Menurut lembaga itu penduduk Negeri Sakura membuang limbah makanan sebanyak 17-juta ton pada 2011.

Yoshihide Kanno berinisiatif mengolah sampah kota. (Foto: Eunike Widhi Wardhani)
Yoshihide Kanno berinisiatif mengolah sampah kota. (Foto: Eunike Widhi Wardhani)

Begitu juga 9.000 keluarga di Kota Nagai, Prefektur Yamagata, Jepang, yang menghadapi masalah sampah. Warga membuang limbah dapur dan makanan sisa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kota. Sebagian besar produk pertanian untuk warga Nagai berasal dari luar Prefektur Yamagata. Yoshihide Kanno mengatasi persoalan itu dengan membangun Rainbow Plan pada 1997.

Menjadi penghubung

Kanno San bersama warga kota Nagai mendiskusikan ide mendirikan Rainbow Plan bersama walikota Nagai. Lalu, dilanjutkan dengan serangkaian simposium dan pelatihan tata cara pemisahan sampah organik dan pengumpulannya dari rumah ke rumah. Pemerintah Kota Nagai kemudian membangun sebuah pusat pengomposan sampah.Untuk menyebarluaskan gagasan Rainbow Plan, dibentuk kelompok kerja yang berkantor di gedung dewan kota. Anggotanya dipilih dari sektor swasta.

Melalui Rainbow Plan, pemerintah, dan warga kota Nagai membangun sistem sertifikasi produksi pertanian dan mengatur distribusi hasil pertanian ke warga yang menyumbang sampah makanan untuk dikomposkan. Secara sederhana, Rainbow Plan merupakan sebuah jembatan penghubung antara kebun dan dapur. Sebuah pendekatan yang menghubungkan petani produsen dengan rumah tangga konsumen.

Suasana di salah satu toko produk organik yang dikelola Rainbow Plan. (Foto: Eunike Widhi Wardhani)
Suasana di salah satu toko produk organik yang dikelola Rainbow Plan. (Foto: Eunike Widhi Wardhani)

Petani menghasilkan bahan pangan dan produk olahan hasil pertanian. Rumah tangga konsumen menghasilkan limbah sisa makanan, baik makanan sisa maupun potongan sayuran dan buah yang tidak termasak. Cara kerja Rainbow Plan dengan mengumpulkan kembali sisa makanan dari rumah-rumah untuk dikembalikan menjadi bahan penyubur lahan penghasil bahan pangan.

Setiap rumah tangga yang mengikuti program Rainbow Plan akan memilah sampah organik dan nonorganik. Mereka menampung sampah organik, terutama sampah dapur dan sisa makanan, ke dalam wadah mirip ember berwarna biru bervolume 70 liter. Jika terisi penuh, bobotnya mencapai 40–50 kg.  Petugas Rainbow Plan menjemput sampah itu dari rumah ke rumah dan mengangkut ke pusat pengomposan.

Sayuran organik produksi Rainbow Plan. (Foto: Eunike Widhi Wardhani)
Sayuran organik produksi Rainbow Plan. (Foto: Eunike Widhi Wardhani)

Pekerja Rainbow Plan mecampur sampah dengan limbah pertanian dan peternakan sehingga menjadi kompos dan mengembalikan ke petani. Petani membudidayakan tanaman sesuai standar yang ditetapkan Rainbow Plan. Para petani anggota Rainbow Plan itu menjual hasil panen ke rumah tangga konsumen, sekolah, dan beberapa toko. Jika terdapat sisa hasil panen tak termakan,  pekerja Rainbow Plan kembali menjemput, membawa ke pusat pengomposan, mengolahnya menjadi pupuk, dan mengembalikan ke petani.

Begitu terus  tak pernah putus. “Anda tahu mengapa sampah dapur sangat berguna bagi pertanian di Nagai?” ujar Kanno. Kanno yang bersosok tinggi besar itu meneruskan, “Pola pertanian di sini masih sangat berciri pertanian tradisional Jepang. Hanya mengolah tanah, mereka tidak beternak. Memelihara ternak adalah budaya tani baru di Jepang.” Artinya sumber nutrisi bagi tanaman dari kotoran ternak sangat jarang.

 Keterlibatan warga

Menurut Kanno ketersediaan kotoran ternak sebagai bahan organik untuk penyubur tanah alami amat terbatas. Maka pilihannya adalah mengembalikan sebanyak mungkin bahan organik ke lahan pertanian. Potensi terbesar ada pada sampah dapur dan sisa makanan. Kanno san yang pernah mendekam di penjara pada era 1970-an lantaran memimpin protes melawan penggusuran tanah petani oleh pemerintah Jepang demi pembangunan bandara Narita.

Nutrisi organik dari olahan sampah diperlukan dalam budidaya secara organik.
Nutrisi organik dari olahan sampah diperlukan dalam budidaya secara organik.

Di sisi lain, menurut Kano, tingkat swasembada pangan Jepang, khususnya sumber kalori, hanya sekitar 40%. Artinya sebagian besar bahan pangan untuk seluruh Jepang, masih mengandalkan impor. Sayang, ternyata bahan pangan yang 60% didatangkan dari luar negeri menghasilkan makanan sisa. Oleh karena itu aksi daur ulang menjadi penting untuk mengurangi sampah sekaligus meningkatkan produksi pangan dalam negeri.

Saat ini, setelah puluhan tahun Rainbow Plan berjalan, setidaknya 50% sampah dapur se-Nagai  berhasil dikumpulkan dan menyuburkan lahan pertanian. Produksi pertanian lokal pun meningkat. Menurut Kanno anggota Rainbow Plan mencapai 6.000 keluarga. Anggota staf Asian Rural Institute, Yukiko Oyanagi, mengatakan bahwa, “Daur ulang sampah (sisa) makanan menjadi penting di Jepang.” Harap mafhum Jepang menghadapi masalah sampah.

Buah apel sugaro memerlukan bahan organik sebagai sumber nutrisi.
Buah apel sugaro memerlukan bahan organik sebagai sumber nutrisi.

Berdasarkan statistik, pada tahun 2011 sampah dari kategori nonindustrial atau dihasilkan dari aktivitas keseharian warga Jepang mencapai 44,3-juta ton. Sampah dapur (termasuk sisa makanan) merupakan komponen paling besar (41,8%). Sisanya, kertas yang dapat didaur (18,8%), kertas tak dapat didaur (14,2%), plastik (19,1%), kayu dan serasah yang dapat didaur (2,1%), sampah “burnable” atau dapat dibakar (2,9%), dan sampah nonburnable seperti kaleng dan gelas (1,1%).

Hanya sekitar 20% sampah kota berhasil di daur ulang. Sebagian bahan makanan yang tak terkonsumsi hanya menjadi sampah dan tidak terdaur ulang. Sampah makanan sisa tahap produksi dan pengolahan, hanya separuhnya terdaur. Misal, limbah pembuatan tofu (ampas tahu) didaur menjadi pakan ternak. Di sisi lain, sebagian besar sampah makanan yang dihasilkan pada tahap distribusi tidak terdaur-ulang. Contoh, makanan tak habis terjual dari pasar swalayan dan makanan yang kadaluwarsa.

Pemerintah Jepang menerbitkan peraturan tentang daur ulang sampah makanan sejak 2001. Tujuannya untuk mengurangi jumlah limbah makanan dan menggalakkan daur ulang limbah makanan menjadi pakan ternak dan pupuk (kompos). Pemerintah Jepang juga melakukan tindakan nyata untuk menjalankan peraturan itu. Praktiknya bisa terlihat pada peran pemerintah kota Nagai dalam Rainbow Plan.

Pusat pengomposan sampah dapur Rainbow Plan.
Pusat pengomposan sampah dapur Rainbow Plan.

Keberhasilan Rainbow Plan amat dipengaruhi oleh keterlibatan semua pihak. Secara kelembagaan, keberhasilannya amat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana, dukungan pemerintah dan promosi, serta kepemilikan bersama. Rainbow Plan di kota Nagai bukan sekadar contoh keberhasilan penanggulangan sampah. Lebih dari itu, proyek Rainbow Plan memberikan pelajaran mengagumkan tentang sebuah gerakan pertanian selaras alam paling berhasil di Jepang.

Namun, kesuksesan itu bukan hanya ditunjang oleh promosi gaya hidup selaras alam berkait gerakan produksi dan konsumsi pangan lokal. Minat dan partisipasi aktif dari warga untuk terlibat aktif juga mempengaruhi keberhasilan program itu. Rainbow plan bisa berhasil juga karena ada solidaritas dan kebersamaan antara warga di wilayah urban dan pedesaan. Menjadi sebuah kolaborasi dalam praktik berkelanjutan bernilai lebih komoditas pertanian di Nagai. (Syam Asinar Radjam, praktikus agroekologi, alumnus Asian Rural Institute, Jepang)

 

Previous articleGempur Batu Ginjal
Next articlePereda Glaukoma
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img