Friday, June 12, 2026

Cara Tepat Mengemas, Menyimpan, dan Mengolah Daging Kurban agar Tetap Segar dan Sehat

Rekomendasi

Trubus.id-Momen Hari Raya Iduladha selalu diiringi dengan melimpahnya persediaan daging kurban di tengah masyarakat. Namun, keterbatasan waktu dan kapasitas konsumsi harian sering kali membuat seluruh bagian daging tidak dapat langsung diolah sekaligus dalam satu waktu. Agar pasokan daging tersebut tidak rusak dan kandungan gizinya tetap terjaga, aspek penanganan dan higienitas penyimpanan menjadi hal yang sangat krusial.

Melansir informasi resmi dari laman IPB University, Pakar Teknologi Hasil Ternak dari Fakultas Peternakan, Dr. Tuti Suryati, S.Pt., M.Si., membagikan panduan taktis bagi masyarakat umum dalam mengelola komoditas daging kurban, mulai dari penanganan awal saat baru diterima hingga teknik memasak yang sehat.

Langkah Awal: Pemisahan Komoditas dan Higienitas Kemasan

Menurut Dr. Tuti, kesalahan penanganan di tingkat rumah tangga biasanya dimulai sesaat setelah menerima kantong daging. Langkah pertama yang wajib dilakukan dengan segera adalah memisahkan secara tegas antara bagian daging merah dengan bagian jeroan.

Selanjutnya, proses pencucian menggunakan air mengalir hanya direkomendasikan apabila pada permukaan daging atau jeroan terdapat kotoran fisik yang kasat mata. “Jika terdapat kotoran seperti tanah, pasir, kerikil, maupun helai rumput yang menempel, segeralah cuci menggunakan air bersih,” jelasnya.

Setelah dibersihkan, daging tidak boleh langsung dimasukkan ke dalam ruang pembeku. “Daging perlu ditiriskan terlebih dahulu hingga benar-benar kering dan tidak ada lagi air yang menetes di permukaannya. Daging kemudian dikemas ke dalam takaran yang lebih kecil sesuai kebutuhan konsumsi harian keluarga—misalnya per 250 gram atau 500 gram—menggunakan plastik transparan yang higienis dan tidak berbau,” tutur Dr. Tuti.

Adapun untuk jeroan, perlakuan yang diterapkan sedikit berbeda. Jeroan disarankan untuk dimasak atau direbus hingga matang terlebih dahulu sebelum diputuskan untuk disimpan dalam kondisi beku di dalam freezer.

Manajemen Pembekuan dan Aturan Emas Thawing

Daging kurban pada dasarnya bersifat fleksibel; dapat langsung dieksekusi di dapur, disimpan di dalam kompartemen pendingin (refrigerator) untuk jangka pendek, atau dibekukan di dalam freezer untuk masa simpan yang lebih panjang.

Jika memilih opsi pembekuan, Dr. Tuti menekankan pentingnya manajemen porsi sekali masak. Hal ini berkaitan erat dengan proses pencairan kembali (thawing) sebelum daging dimasak. Proses thawing yang aman dapat dilakukan dengan beberapa metode alternatif:

  1. Memindahkan kemasan daging dari freezer ke dalam ruang kulkas biasa (chiller) semalam sebelumnya.
  2. Merendam kemasan daging yang masih tertutup rapat ke dalam wadah berisi air dingin (pastikan air tidak kontak langsung dengan daging).
  3. Meletakkannya di atas papan besi konduktor khusus yang higienis.
  4. Memanfaatkan fitur defrost pada perangkat microwave.

Sebaliknya, Dr. Tuti memperingatkan keras agar masyarakat tidak melakukan thawing pada suhu ruang terbuka tanpa kemasan, karena fluktuasi suhu tersebut memicu ledakan pertumbuhan bakteri pembusuk. “Satu hal penting lainnya, jangan pernah membekukan kembali (refreezing) daging yang sudah telanjur dicairkan atau di-thawing,” tegasnya.

Strategi Memasak: Menghindari Alot dan Gosong

Tidak hanya urusan penyimpanan, teknik pengolahan di atas kompor juga menentukan kualitas hidangan. Dr. Tuti menyarankan agar daging tidak dimasak dalam kondisi yang masih membeku karena perbedaan suhu ekstrem tersebut justru akan merusak serat daging dan membuatnya bertekstur alot.

Pemanfaatan bumbu dapur yang kaya akan senyawa antioksidan alami, serta penerapan durasi dan suhu memasak yang pas sangat dianjurkan untuk menghasilkan hidangan yang lezat sekaligus optimal secara fungsional bagi kesehatan tubuh.

Daging sebaiknya dimasak hingga mencapai tingkat kematangan sempurna, baik melalui metode perebusan, pemanggangan, pembakaran, maupun penggorengan. Namun, satu hal yang harus dihindari secara ketat adalah memasak daging hingga gosong atau menghitam, terutama saat mengolah menu sate atau daging bakar yang bersentuhan langsung dengan bara api.

Sebagai tips tambahan bagi Anda yang ingin menghasilkan tekstur daging sate yang empuk secara alami, Dr. Tuti menyarankan penggunaan bahan alami bermuatan enzim proteolitik, seperti melumuri daging dengan sedikit parutan buah nanas atau membungkus rapat daging menggunakan daun pepaya selama beberapa menit sebelum proses pembakaran dimulai. (Lp)


Artikel Terbaru

Kementan Lepas Enam Varietas Unggul Baru, Perkuat Produktivitas Perkebunan Nasional

Trubus.id — Kementerian Pertanian (Kementan) kembali menambah varietas unggul untuk mendukung peningkatan produktivitas perkebunan nasional. Melalui Sidang Pelepasan Varietas...

More Articles Like This