Monday, August 8, 2022

Cegah Gulma di Sekitar Porang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Mulsa plastik hitam perak memangkas biaya pemeliharaan porang.(foto: Temang Dwi HP)

TRUBUS — Pemakaian mulsa plastik untuk budidaya porang menjaga kelembapan tanah dan mencegah gulma.

Bertahun-tahun lahan 4 hektare itu tidur. Pemilik lahan Temang Dwi Harto Putro akhirnya mengolah lahan secara intensif dengan membalikkan tanah, mencacah, dan membuat bedengan pada Juli 2020. Setelah itu, Temang menaburkan dolomit untuk menaikkan pH tanah dan pupuk dasar dari kotoran hewan. Di atas bedengan selebar 1 m dan panjang 4—10 m itu ia menyiapkan mulsa plastik hitam perak.

Pekebun porang di Balikpapan, Kalimantan Timur, Temang Dwi Harto Putro.

Pemasangan warna perak di bagian luar dan hitam di bagian dalam. Petani di Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, itu bukan hendak menanam cabai. Lazimnya mulsa plastik untuk budidaya hortikulturan untuk tanaman semusim seperti melon atau cabai. Ia justru menanam porang Amorphophallus muelleri. Selama ini petani menanam porang tanpa mulsa.

Lebih hemat

Temang memerlukan 10 rol mulsa untuk satu hektare lahan. Biaya mulsa beserta pemasangan Rp650.000 per rol. Ia mengeluarkan total biaya mulsa Rp6,5 juta per hektare. Temang mencoba beberapa bedengan dengan memasang mulsa terbalik, warna hitam di bagian luar dan perak di bagian dalam. Pemasangan mulsa semula sekadar keisengan Temang.

Ternyata mulsa yang dipasang terbalik itu tidak mudah sobek dan bertahan lebih baik bahkan lebih dari setahun. Setelah mulsa terpasang di atas bedengan, Temang melubanginya sesuai lubang tanam berdiameter 15 cm dan lubang pupuk 10 cm. Jarak tanam porang 30 cm x 30 cm. Menurut Temang total populasi 40.000 tanaman per hektare.

Pada akhir Juni 2021 tinggi tanaman berumur 12 bulan itu mencapai 100 cm. Tanaman anggota famili Araceae itu tumbuh subur. Temang memanfatkan mulsa untuk mengurangi pertumbuhan gulma. Selain itu, mulsa dapat menjaga nutrisi dalam tanah karena pemupukan terfokus pada tanaman. Tanah bedengan juga aman dari aliran air saat hujan deras.

Persiapan lahan untuk budidaya porang termasuk pemberian dolomit dan pupuk dasar.

Terlebih lahan Temang tidak rata dan berupa terasering sehingga tanah bedengan rawan terbawa arus air. Pekebun juga dapat memangkas biaya perawatan tanaman. Bila tanpa mulsa, Temang mesti menyiangi hingga 3—4 kali dalam satu musim atau selama enam bulan. Ia memerlukan 4 orang tenaga kerja selama 3—4 hari kerja untuk menyiangi lahan sehektare.

Biaya tenaga kerja Rp100.000 per hari belum termasuk konsumsi. Sekali penyiangan ia mesti mengeluarkan biaya Rp2 juta. Asumsi penyiangan 3 kali dalam satu musim atau 6 kali setahun, total biaya mencapai Rp12 juta per tahun. Penggunaannya bisa untuk setahun. Dengan demikian, ia berhemat separuh biaya penyiangan. Porang sejatinya memerlukan media tanam lembap tetapi tidak tergenang.

“Makin sehat tanah, makin bisa menghasilkan tanaman yang lebih baik secara pertumbuhan ataupun hasil panen,” kata Temang. Ia yakin tanaman tumbuh baik dan produksi optimal jika pengolahan tanah maksimal serta penggunaan mulsa. Petani porang itu berencana memanen umbi pada pertengahan 2022.

Pertumbuhan gulma terkendali dengan pemasangan mulsa plastik.(foto: Temang Dwi HP)

Ilalang

Pekebun lain di Balikpapan, Kalimantan Timur, Ferdie Roediyanto, memanfaatkan ilalang di sekitar kebun sebagai mulsa alami. “Saya lihat banyak ilalang di sekeliling kebun. Kenapa tidak saya jadikan mulsa saja,” kata Ferdie. Ia memberikan mulsa setelah penanaman selesai pada November 2020. Pada Juli 2021, ia baru panen umbi untuk bahan tanam berikutnya.

Pemanfaatan ilalang sebagai mulsa alami.
(foto : Ferdie Roediyanto)

Sarjana Teknik Mesin alumnus Universitas Brawijaya itu perlu waktu sepuluh hari mengumpulkan ilalang untuk lahan seluas satu hektare. Dua pekan setelah tanam, ia menyusun potongan ilalang Imperata cylindrica setebal dua ruas jari orang dewasa kira-kira 5 cm di atas bedengan. Lebar bedengan 0,8 m dengan panjang 25—30 m. Lebar parit sekitar 0,4 m.

Pekebun yang baru pertama kali menanam porang itu menuturkan, biaya awal cukup besar mulai dari pembersihan lahan, pengolahan tanah, hingga penanaman. Ia hanya perlu mengeluarkan biaya tenaga kerja untuk memotong dan memasang mulsa alami itu sebesar Rp1,2 juta. Sementara itu bila tanpa mulsa, ia mesti mengeluarkan Rp1,2 juta untuk sekali penyiangan atau Rp3,6 juta untuk satu musim.

Tak hanya ilalang, jerami juga dapat digunakan sebagai mulsa alami. Meski demikian, mulsa ilalang memiliki kelemahan. Sisi samping bedengan tidak tertutupi sehingga tanah rentan tergerus aliran air saat hujan. Tak jarang Ferdie perlu membenahi bedengan dengan pendangiran. Selain itu, ilalang tidak bisa menutup seluruh permukaan bedengan sehingga masih ada celah yang bisa ditumbuhi gulma.

Kelembapan media tanam tetap terjaga memang penting bagi porang. Menurut riset peneliti di Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Edi Santosa, S.P., M.Si., bila kandungan air kurang dari 40% kapasitas lapang, akar lebih cepat kering daripada kondisi normal.

Tanaman dapat menoleransi kekurangan air sekitar 30—60 hari. Lebih dari itu, hasil panen berupa umbi akan turun. Upaya menjaga kelembapan tanah dapat dilakukan antara lain dengan memasang mulsa dan membentuk kanopi lebih besar. (Sinta Herian Pawestri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img