Kadar amonia juga harus dijaga jangan terlalu tinggi. Amonia biasanya muncul akibat kotoran kepiting atau sisa makanan. Amonia itu bisa diurai dengan menggunakan filter bioball atau kaldness menjadi nitrat. Dua media filter biologis itu sangat populer digunakan untuk akuarium dan kolam.
Keduanya berfungsi sebagai rumah bagi bakteri pengurai amonia. Nitrat dan nitrit kadang-kadang sulit terurai. “Untuk membantu mengurainya, bisa menggunakan tanaman-tanaman seperti bakau, aseman, atau ganggang air,” ujar Tonny Berthiolios, pembudidaya kepiting di Kota Surabaya.
Populasi
Penyebab kematian kepiting lainnya yaitu populasi terlalu padat. Tonny menuturkan, hal ini dapat terjadi jika budi daya berlangsung di dalam kolam beton, terpal, atau keramba.
Jika terlalu padat, kepiting memiliki sifat kanibalisme sehingga bisa saling menyerang dan melukai. “Kematian akibat kanibalisme itu mencapai 50—70%,” kata Tonny.
Populasi yang padat juga dapat menyebabkan kepiting saling berebut makanan sehingga memicu kanibalisme. Persaingan itu juga membuat kepiting menjadi stres dan rawan terkena penyakit.
“Jika menggunakan sistem vertical crab house mungkin hal itu tidak terjadi karena kepiting hanya satu ekor dalam satu kotak,” tutur Tonny.
Pemberian pakan yang tidak sesuai juga dapat menyebabkan kematian. Gara-gara pakan tidak sesuai, maka kepiting menjadi mogok makan dan akhirnya mati. Mogok makan juga terjadi akibat kualitas air yang buruk.
Memang benar jika kepiting itu pemakan segala. Bahkan, bangkai pun jadi santapannya. Jika makanannya itu terlalu jelek, maka membuat kualitas air juga menjadi rusak dan bau.
Itulah sebabnya ia memproduksi pakan kepiting yang mengandung nutrisi sesuai kebutuhan kepiting. Selain kualitas pakan yang baik, para pembudidaya juga mesti memberikan jumlah pakan yang tepat.
Tonny biasanya memberikan pakan 5—10% dari bobot tubuh kepiting. Sebaiknya waktu pemberian makan dilakukan pada sore hari karena kepiting mulai aktif mencari makan.
Banyak pembudidaya yang mengeluhkan tentang penambahan bobot yang kurang. “Bisa jadi kepiting itu tetap makan, tapi jumlahnya kurang. Atau juga kepitingnya stres sehingga nafsu makannya berkurang,” kata Tonny.
Lebih lanjut ia menuturkan, dalam sistem vertical crab house, penyebab kematian pada kepiting biasanya terjadi akibat sistem filtrasi yang tidak optimal. Terutama kontrolnya yang kurang tepat.
Sembuhkan luka
Dalam filter itu biasanya ada ruang-ruang yang diisi dengan media filter berbeda. Tidak semua media filter itu bisa dicuci. Contoh media filter yang berperan sebagai rumah bakteri pengurai amonia menjadi nitrat dan nitrit.
“Kalau dicuci bakteri pengurai itu bisa terbuang dan harus dimulai dari awal lagi menumbuhkannya,” kata Tonny.
Yang boleh dicuci adalah filter di ruang pertama dan harus dijaga kebersihannya. Pasalnya, filter di ruang pertama menyaring kotoran seperti sisa makanan dan endapan-endapan kotoran.
Pembudidaya juga harus hati-hati ketika memasukkan bibit. Saat dibeli, mungkin ada bibit yang terluka akibat pengangkutan. Tonny menyarankan agar tidak langsung dimasukkan ke air di dalam kotak.
Musababnya, air payau dalam kotak mengandung garam sehingga bersifat osmosis yang mampu menarik cairan tubuh. Jika ada luka, cairan tubuh kepiting cepat keluar sehingga mengakibatkan biota laut itu lebih stres dan cepat mati.
Jika ada luka sebaiknya dikeringkan dahulu sampai luka menutup dan beri obat untuk mencegah infeksi. Setelah itu baru dimasukkan ke dalam kotak.
Berbagai upaya itu dapat mencegah tingkat kematian yang dapat merenggut laba.
