Thursday, August 18, 2022

Cendawan Disisip, Produksi Melejit

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Namun, petani kedelai di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, itu harus menunggu satu jam lagi agar buruhnya selesai memetik polong kedelai. Sebab, panen kali ini berlimpah, dari 1,5 ton menjadi 2,5 ton. Itu diperoleh berkat keberaniannya menggunakan media pupuk hayati.

 

Ayah dua anak itu puas atas hasil panennya. Pendapatannya melonjak menjadi Rp11,25-juta alias ada penambahan Rp4,5-juta dari Rp6,75-juta. Harga kedelai saat itu Rp 4.500/kg. Lonjakan itu berkat menggunakan pupuk hayati 6 kali 30 gram seharga Rp10.000 dan ditambahkan dengan Urea 100 kg seharga Rp1.200/kg yang ditebar pada satu hektar lahannya. Itu berarti modal awal pupuk hanya Rp180-ribu. Sebelumnya, Urea digunakan sebanyak 300 kg senilai Rp360-ribu.

Selain Ahmad, petani di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang memiliki tipe tanah marginal pasir kuarsa pun juga merasakan berkah dari penggunaan pupuk hayati itu. ‘Produktivitasnya naik tajam, mencapai 3,8 ton. Sebelumnya hanya 0,4-0,6 ton/ha,’ kata Ibrahim, petani di Palangkaraya. Di daerah pasang surut bergambut, Musi Banyuasin, Palembang, panen kedelainya meningkat menjadi 4,2 ton; sebelumnya hanya 0,6-0,8 ton/ha.

Simbiosis

Pupuk hayati adalah pupuk yang menggunakan mikroba untuk meningkatkan pengambilan hara dari dalam tanah maupun udara. Mikroba yang digunakan mampu hidup bersimbiosis dengan tanaman inang. Keuntungan diperoleh oleh kedua pihak, tanaman inang mendapatkan tambahan unsur hara, sedangkan mikroba mendapatkan bahan organik untuk aktivitasnya.

Mengapa pupuk hayati meningkatkan produksi kedelai? Pupuk hayati yang dimaksud adalah rhizobium. Rhizobium merupakan kelompok bakteri berkemampuan sebagai penyedia hara bagi tanaman. Bila bersimbiosis dengan tanaman legum, kelompok bakteri ini menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar. Bintil akar berfungsi mengambil nitrogen di atmosfer dan menyalurkannya sebagai unsur hara yang diperlukan tanaman inang.

Yang paling berperan adalah pigmen merah leghemeglobin. Pigmen itu dijumpai dalam bintil akar antara bakteroid dan selubung membran yang mengelilinginya. Jumlah leghemeglobin di dalam bintil akar memiliki hubungan langsung dengan jumlah nitrogen yang difi ksasi. Korelasinya positif, semakin banyak jumlah pigmen, semakin besar nitrogen yang diikat.

Rhizobium berasosiasi dengan tanaman legum biasanya memfiksasi 100-300 kg nitrogen/ha dalam satu musim tanam. Nitrogen sebanyak itu tidak habis dimanfaatkan tanaman dalam satu periode tanam, sehingga dapat digunakan untuk masa tanam berikutnya. ‘Rhizobium bisa mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%,’ kata Ir Hermastini, MSc, ahli mikrobiologi LIPI. Namun, efektivitasnya juga tergantung pada kondisi tanah.

Tahan asam

‘Rhizobium hasil penelitian Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI tahan asam yang ekstrim,’ kata Hermastini. Rhizobium mampu hidup pada tanah dengan pH 2 dan efektivitasnya mengikat nitrogen dari udara sangat tinggi pada tanaman kedelai. Oleh karena itu, tanaman tak bergantung pada pupuk kimia.

Cara mengaplikasikannya, larutkan 5-10 g bubuk rhizobium dalam 10 cc air. Lantas 1 kg benih dimasukkan dan dikocok merata. Setelah dibiarkan sekitar 15 menit, benih ditanam. Agar efektif hindari pencampuran benih dan pupuk rhizobium di bawah sinar matahari. Jika terpapar sinar matahari, rhizobium mati.

Perlakuan yang penuh risiko itu akhirnya disempurnakan oleh peneliti di Laboratorium Mikrobiologi, LIPI. Benih tidak perlu direndam dalam larutan, tetapi rhizobium disisipkan ke dalam benih kedelai di laboratorium. Kedelai yang telah mengandung rhizobium diberi nama kedelai plus. Prosesnya, benih dimasukkan ke alat hampa udara dan diberi tekanan 500 kPa selama 15 menit. Sistem ini tidak menggunakan panas melainkan sistem rotasi yang memungkinkan pencampuran terjadi sempurna.

‘Secara kasat mata hampir tak ada perbedaan antara benih yang diinokulasi rhizobium dan yang tidak,’ kata Prof Endang Sukara MSc, sang peneliti. Menurut Endang, rhizobium yang diinjeksikan ke dalam benih kedelai tidak mengurangi daya kecambah benih. Benih yang telah berkecambah langsung membentuk hifa-hifa panjang setelah ditanam. Setelah itu hifa membalut akar dan bertindak sebagai penyangga.

Dengan penyangga itu, setiap penyakit yang mendekati akar langsung dimusnahkan. Akar pun terhindar dari ancaman kerusakan. ‘Itu sebabnya yang diberi rhizobium, tanamannya lebih hijau dan berproduksi tinggi,’ kata Hermastini, ahli mikrobiologi alumnus Sidney University, Australia.

Peningkat hormon

Hasil percobaan di Maros, Sulawesi Selatan, di kawasan tanah latosol, menunjukkan tanaman kedelai tanpa pupuk kimia tetapi diberi rhizobium berproduksi 2,07 ton/ha. Itu artinya 24% lebih tinggi daripada yang tidak diberi rhizobium, yakni 1,67 ton/ha. Penyebabnya, rhizobium menghasilkan hormon pertumbuhan dan osmoprotektan peningkat ketahanan tanaman dari cekaman kekeringan dan mampu memfiksasi nitrogen dari udara.

Selain itu, rhizobium mampu menghasilkan hormon pertumbuhan berupa IAA dan giberellin yang dapat memacu pertumbuhan rambut akar, percabangan akar yang memperluas jangkauan akar. Akhirnya, tanaman berpeluang besar menyerap hara lebih banyak yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman.

Rhizobium tak hanya meningkatkan nitrogen pada tanaman, tapi juga fosfat. Fosfat merupakan hara utama dalam perkembangan akar dan pembentukan polong kedelai. Penelitian Natakorn Boonkerd dari Suranaree University, Thailand menunjukkan fosfat meningkat 89% pada tanah yang diberi rhizobium dan tanpa pupuk. Apalagi jika diimbangi dengan pemberian pupuk buatan fosfat dan kalium, hasil kedelai melonjak 35% atau 2,25 ton/ha. Sebaliknya jika ditambahkan pupuk N, produktivitas justru turun. Penyebabnya, rhizobium tak dapat bekerja maksimal dalam tanah tinggi kandungan nitrogen.

Begitu banyak kelebihan rhizobium pada kedelai. Jika itu diaplikasikan secara luas, produksi kedelai nasional pasti meningkat dan penggunaan pupuk kimia yang kian mendegradasi kesuburan lahan dapat dikurangi. ‘Pupuk hayati rhizobium tercipta karena pupuk kimia semakin banyak digunakan, padahal justru menurunkan produktivitas,’ kata Prof Endang Sukara, ahli kedelai di LIPI. (Vina Fitriani).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img