Wednesday, September 28, 2022

Cepat, Hemat, dan Kuat

Rekomendasi
Laju pertumbuhan patin perkasa mencapai 16,6—46,4% lebih cepat daripada patin lokal.

TRUBUS — Patin baru dengan pertumbuhan cepat, hemat pakan, dan kuat menghadapi penyakit.

Imza Hermawan mendatangkan 300-an ekor induk patin perkasa dari Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI), Sukamandi, Subang, Jawa Barat, pada 2020. Jumlah induk jantan hanya 10—20%, selebihnya induk betina. Peternak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tertarik mengembangkan patin perkasa lantaran laju pertumbuhannya tinggi. Hasil uji coba di kolam Imza menunjukkan, pertumbuhan patin perkasa memang istimewa.

Ia menguji coba patin perkasa di empat kolam masing-masing seluas 200—300 m2. Sementara tingkat kepadatan 20 ekor per m2. Dalam usia empat bulan, ikan patin itu mencapai bobot 5 ons. Imza menguji coba hasil benih sendiri. “Ternyata ikan patin perkasa itu memang bagus,” ujar Imza. Pada umumnya jenis patin lain berbobot 3—4 ons pada umur empat bulan. Sementara untuk mencapai bobot 5 ons, patin lokal memerlukan waktu 5—6 bulan sejak tebar.

Hemat pakan

Peneliti di Balai Riset Pemuliaan Ikan, Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Ir. Evi Tahapari.

Penampilan ikan patin perkasa sepintas tak ada yang berbeda dengan jenis patin lainnya. Namun, jika dibandingkan dengan patin siam lokal tubuhnya 16,6—46,4% lebih berat. Patin perkasa hasil pemuliaan BRPI. “Kami beri nama ikan patin perkasa. Perkasa kepanjangannya patin super karya anak bangsa,” ujar peneliti ikan patin di BRPI, Ir. Evi Tahapari.

Menurut Evi patin perkasa merupakan hasil seleksi patin jenis siam yang sudah lama berkembang di Indonesia. Introduksi patin siam di Indonesia sejak 1972 dari Thailand dan berkembang pesat sejak 1990. Namun, pada 2010 perkembangan tidak terkontrol, sehingga ada penurunan mutu genetik yang mengakibatkan laju pertumbuhan ikan lambat. Hal itu yang melatarbelakangi pemuliaan patin untuk meningkatkan laju pertumbuhan.

Selain pertumbuhan cepat, patin perkasa juga hemat pakan. Oleh karena itu, jika dihitung dari segi harga pokok produksi, patin perkasa lebih hemat 4—17%. Penghematan itu terjadi pada efisiensi biaya pakan. Menurut Evi rasio konversi pakan (Feed Conversion Ratio, FCR) patin perkasa lebih unggul, yakni hanya 1,1—1,2. Artinya patin perkasa menghabiskan 1,2 kg pakan agar peternak memperoleh 1 kg patin.

Bandingkan dengan FCR patin siam lokal mencapai 1,3—1,4. Artinya peternak patin siam lokal membutuhkan pakan 2 ons lebih banyak untuk mendapatkan 1 kg daging. Pertumbuhan ikan dan rasio pakan itu stabil berdasarkan uji multilokasi di empat tempat yaitu Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, Kuningan dan Sukamandi—keduanya di Jawa Barat, serta Lampung.

Hasilnya pertumbuhan patin perkasa lebih cepat daripada patin siam lokal yang selama ini sudah beredar di masyarakat. “Peningkatan tertinggi di Tulungagung. Selisihnya bisa 46,4%,” ujar Evi Tahapari. Hasil uji laboratorium di dalam ruangan menunjukkan patin perkasa terbukti lebih tahan infeksi bakteri aeromonas dibandingkan dengan patin siam lokal. “Tingkat ketahanannya bisa sampai 85%,” ujar Evi.

Harap mafhum, penyakit aeromonas merupakan momok bagi para peternak patin di Indonesia. “Jika tak tertangani, serangannya bisa merugikan peternak hingga 100%,” ujar Evi. Keunggulan-keunggulan itu menarik perhatian para peternak seperti Imza Hermawan. Ia tergerak membuktikannya di kolam sendiri. Pertumbuhan ikan anggota famili Pangasiidae itu terbukti cepat dan hemat pakan.

Menyebar di sentra

Evi dan tim mulai menyeleksi patin perkasa pada 2010—2017. Bahan baku genetiknya berasal dari patin siam lokal koleksi BRPI. Periset alumnus Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya itu beserta tim yang mengumpulkan patin dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jambi, Sukabumi, dan Jakarta. Pemerintah merilis patin Pangasianodon hypophthalmus baru pada 12 Juli 2018.

Kini ikan patin perkasa mulai menyebar di peternak di berbagai sentra ikan konsumsi seperti Tulungagung, Palembang, Lampung, Bekasi, Bogor, dan Brebes. Evi Tahapari berharap, ikan patin perkasa tetap terkontrol pengembangannya di masyarakat.

Imza Hermawan memegang induk betina patin perkasa (Koleksi Imza Hermawan).

Ahli ikan dari Departemen Perikanan, Universitas Gadjah Mada, Dr. Ir. Ignatius Hardaningsih, M.Si., mengapresiasi munculnya patin perkasa. “Pertama kali selamat untuk peneliti yang menghasilkan varietas baru ikan patin perkasa. Hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan yaitu FCR pada budidaya patin perkasa,” ujarnya. Menurut Gandung—sapaan akrab Ignatius Hardaningsih— dengan keunggulan FCR, patin perkasa layak dikembangkan.

Menurut peneliti dari BRPI, Jadmiko Darmawan Widi Prasetiya, S.Pi, harga pokok produksi patin perkasa 4,45—17,92% lebih rendah daripada patin lokal. Itu menguntungkan peternak.

Selain itu, “Ikan patin perkasa memiliki daya tahan penyakit terhadap infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (tanpa antibiotik) 85,73% lebih tinggi ketimbang patin lokal dan tingkat toleransi lingkungan relatif tinggi,” tutur Jadmiko. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Permintaan Produk Organik Kian Meningkat

Trubus.id — Permintaan produk organik mengalami peningkatan. Peningkatan permintaan produk organik di Indonesia terjadi karena munculnya kesadaran menjaga kesehatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img