Friday, August 19, 2022

Cerita Budi Cinta Ceplukan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Ukuran buah P ixocarpa berukuran besar dibandingkan dengan buah
ceplukan lain.

Mengidentifikasi 500-an ceplukan dari berbagai daerah di Indonesia.

Trubus — Dr. Budi Waluyo, S.P., M.P. mempunyai kebiasaan unik saat bertugas ke luar kota. Dosen pemuliaan tanaman di Universitas Brawijaya itu menyempatkan diri berburu ceplukan di sawah dan tegalan di daerah yang dikunjunginya. Ketika melihat tanaman ceplukan berbuah, seketika itu ia berhenti. Budi Waluyo mengambil satu diantara sekumpulan tumbuhan liar itu.

Perburuan ceplukan berawal dari 2010 setelah Budi menemukan keragaman buah. Ia menanam ceplukan dari Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya, keduanya di Provinsi Jawa Barat. Setelah besar, kedua tanaman itu memiliki karakter yang berbeda. Buah ceplukan dari Tasikmalaya cenderung lonjong, sedangkan tanaman dari Garut berbuah membulat. “Saya yakin Indonesia menyimpan keragaman ceplukan yang luar biasa,” ujarnya.

Sejak itu Budi tertantang meneliti ceplukan di tanah air. Budi Waluyo mengoleksi 500 aksesi ceplukan. “Saat ini sedang saya teliti keragaman karakternya agar tidak terjadi duplikasi. Harapannya muncul karakter khas dari ceplukan itu dan kami memiliki koleksi inti,” ujar Budi. Dari karakter itu pula ia berharap, pemanfaatan ceplukan akan terarah sesuai kebutuhan di antaranya sebagai buah segar atau konsumsi langsung, olahan, dan bahan obat.

Budi Waluyo (kiri) bersama mahasiswa bimbingannya Danniary Ismail Fahronny.

Enam spesies

Budi mengidentifikasi 500-an ceplukan dan terbagi menjadi enam spesies. Beberapa spesies itu adalah Physalis angulata, P. minima, dan P. Pubescens. Nama genus physalis bermakna kandung kemih. Ketiga jenis ceplukan itu banyak tumbuh di berbagai daerah di Indonesia seperti Tasikmalaya, Garut, (Provinsi Jawa Barat) Madura, Malang, Kediri, dan Pulau Bawean (Jawa Timur). Sementara tiga spesies lain adalah P. ixocarpa dari penjual daring, P. pruinosa (Belanda), dan P. peruviana (toko buah).

Menurut pengampu mata kuliah genetika tanaman itu keragaman ceplukan P. angulata amat tinggi. Dari segi rasa buah, variasinya mulai dari rasa manis, masam, hingga agak pahit. Sementara variasi warna buah saat matang mulai dari putih, hijau, kuning, jingga, dan dari warna-warna itu ada yang berbintik- bintik ungu. Bintik-bintik ungu itu pun ada yang tipis dan ada juga yang ungu pekat.

Manfaat

Ragam buah ceplukan dari Malang, Jawa Timur.

Tampilan batang ceplukan angulata ada yang tinggi dan merunduk. Warna batang tanaman ada yang hijau, ungu seperti kemerahan, ada yang berbulu dan ada yang tidak. Budi mengoleksi ceplukan P. angulata sekitar 300-an aksesi tanamannya. Soal ukuran buah, ceplukan Pixocarpa paling besar. “Ukuran buahnya hampir mirip tomat,” ujar Budi Waluyo. Sementara itu ceplukan P. pruinosa lebih unggul dari sisi aroma.

Aromanya kuat mirip aroma nanas, sehingga kerap disebut pineapple ground cerry. Masyarakat dapat memanfaatkan buahnya sebagai bahan baku selai. Adapun ceplukan P. peruviana unggul dari warna buah yang menarik yaitu jingga dengan rasa paduan masam manis. Buah spesies itu kerap mengisi toko-toko buah di tanah air dengan kemasan menarik. Menurut Budi hasil penelitian itu akan diarahkan untuk mengetahui potensi masing- masing ceplukan.

Ceplukan di lahan sawah kering, Pulau Bawean.

Ia mencontohkan ceplukan P. peruviana, P. angulata, dan P.ixocarpa lebih prospek sebagai buah segar. “Di luar negeri, P ixocarpa dimakan langsung atau dibuat salad,” kata doktor Pemuliaan Tanaman alumnus Universitas Padjadjaran itu. Adapun ceplukan sebagai bahan baku obat antara lain spesies P. angulata, P. peruviana, dan P. minima. “Ketiga spesies itu pernah diteliti sebagai antikanker dan antidiabetes melitus,” kata dosen kelahiran Tasikmalaya 25 Mei 1974 itu.

Budi Waluyo mengembangkan beragam olahan ceplukan seperti kismis, selai, dan keripik. Mahasiswa bimbingannya, Danniary Ismail Fahronny, membantu produksi peganan itu. Menurut pemasok buah di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, saat ini pasar ceplukan sebagai buah segar belum terbentuk. “Secara logika, kalau ceplukan digolongkan sebagai buah dan bisa dimakan segar tanpa proses dan rasanya enak sekalipun tetap perlu waktu lama untuk memperkenalkan kepada konsumen dan perlu usaha keras supaya bisa disukai konsumen. Biasanya sulit diterima kalau memang rasanya tidak enak,” ujarnya.

Tatang mengatakan, produsen perlu mengenalkan ceplukan lebih dahulu kepada konsumen tentang kelebihan-kelebihan buah anggota famili Solanaceae itu. Cara sederhana untuk menguji permintaan pasar terhadap suatu produk baru dengan mencobanya kepada diri sendiri. “Seberapa banyak kita bisa makan produk itu. Dari sana kita bisa mengukur permintaan pasar kita,” kata Tatang Halim. (Bondan Setyawan)

Previous articleMelon Anyar Incaran
Next articleElok Vireya Tiada Tara
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img