Thursday, August 18, 2022

Ceruk Son dan Cung

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ude Taryana menanam bibit bawang merah dan memanennya pada hari ke-36 pascatanam. Lebih cepat separuh dari waktu panen normal.

 

Pekebun lain di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, memanen tanaman anggota Liliaceae itu pada umur 70 hari setelah tanam (hst). Membuang daunnya, lalu mengeringkan umbi selama 20 hari. Umbi kering itu yang dijual dengan harga Rp12.000 per kg.

Ude menuai, mempertahankan, dan menjual seluruh bagian tanaman, termasuk daun dan umbi yang belum terbentuk sempurna. Petani bawang berumur 43 tahun itu menanam Allium cepa di lahan seluas 3.500 m2 di daerah berketinggian 1.628 meter di atas permukaan laut (m dpl). Penanaman secara bertahap dibagi dalam lima kali penanaman, masing-masing 1 kuintal bibit di lahan 700 m2 setiap minggu. Dari setiap petak seluas 700 m2 Ude bisa memanen 1 ton cung-sebutan bawang merah panen muda-pada umur 36 hst.

Ude menjual cung ke pasar tradisional di Jakarta dan Bandung dengan harga Rp6.000 per kg. Dari perniagaan itu Ude menuai omzet Rp6-juta. Jika ia kembali menanam bibit dan memanen cung 36 hari berikutnya ia kembali menuai omzet Rp6-juta atau total Rp12-juta per 700 m2 per 72 hari. Jika Ude memanen umbi lapis itu sekali saja pada umur 75 hst, volume panen 600 kg dari luasan 700 m2. Dengan harga Rp12.000 per kg Ude memperoleh pendapatan Rp7,2-juta. Sudah omzet lebih kecil, lebih lama panen, Ude juga masih harus melakukan perlakuan pascapanen mengeringkan umbi sebelum bisa dijual. Pantas Ude lebih memilih memanen muda tanaman anggota famili Liliaceae itu.

Bawang muda

Bawang cung banyak dimanfaatkan dalam kuliner masyarakat Tionghoa. Dian, pemasok sayuran di Jakarta Barat, rutin mengirim masing-masing 5 kg cung dan 2 kg son ke 4 restoran yang menyajikan masakan khas Tionghoa di Jakarta. Yang disebut terakhir bawang putih panen muda. Menurut Zoilus Sitepu, manajer fresh product sebuah perusahaan retail di Jakarta, cung memiliki karakteristik konsumen tersendiri. “Konsumen terbanyak cung adalah etnis Tionghoa,” kata Zoilus yang menyediakan bawang cung di outletnya.

Joko Pinilih SP MS, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) di Lembang, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, menduga cung sama dengan green onion di Taiwan. Sebutan itu merujuk pada pembentukan umbi yang belum sempurna. Sayangnya, tidak ada yang tahu asal muasal penamaan cung.

“Penanaman cung bentuk diversifikasi budidaya bawang merah. Bisa saja dilakukan jika memang menguntungkan,” ujar Joko. Penelusuran Trubus, pekebun cung masih terhitung jari. Di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, juga terdapat penanaman bawang sayur, sebutan cung di Brebes. “Area penanaman tidak luas. Kurang lebih 1 hektar milik beberapa petani saja,” tutur Agusman Kastoyo, ketua Asosiasi Penangkaran Benih Bawang Merah Indonesia (APBMI).

Teknik menanam cung sama dengan menanam bawang merah, yang membedakan hanya umur panen. Sebelum tanam, Ude membalik tanah dengan cangkul lalu membenamkan 10 karung-setara 500 kg-pupuk kandang. Selanjutnya barulah ayah 2 anak itu menanam umbi bawang dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm. Pada lubang tanam ia menanam 1 umbi. Untuk lahan 700 m2, Ude membutuhkan 1 kuintal bibit bawang merah yang ia peroleh dari pekebun di sekitarnya. Setiap 1 kg bibit menghasilkan 10 kg cung.

Sepuluh hari pascatanam, ia menambahkan 50 kg Urea. Pemupukan hanya 2 kali-pada awal penanaman dan 10 hari pascatanam. Pada budidaya bawang merah biasa frekuensi pemupukan hingga  3 kali. Masa tanam singkat juga meniadakan penyiangan lantaran ukuran gulma masih bisa ditolerir. Itu sebabnya Ude menganggap budidaya cung menguntungkan. “Hemat biaya produksi dan mengurangi risiko gagal panen,” ujar pria kelahiran Ciwidey itu. Ude merogoh kocek Rp2-juta per 700 m2 luasan untuk biaya produksi bawang merah biasa. Pada budidaya cung, cukup Rp1,2-juta. Artinya ia memangkas 40% biaya produksi.

Son

Ude dan 8 orang rekan juga membudidayakan son di lahan 2.800 m2. Son sebutan untuk bawang putih panen muda yaitu pada umur 70 hari pascatanam. Di mancanegara disebut green garlic karena umbi belum terbentuk sempurna. Lazimnya pekebun memanen bawang putih pada 120 hst. Bibit son ditanam dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm. Jarak tanam lebih rapat karena hanya 1 siung yang ditanam. Selang 2,5 bulan, setiap siung menghasilkan sebatang son.

Untuk memenuhi permintaan pasar sebesar 1,2 kuintal son dan 1,4 kg cung per hari, Ude juga menerima pasokan dari daerah lain. Sebut saja Abdul Jafar Setiawan, petani di Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah, yang mengirim masing-masing 3 kuintal son dan 1 kuintal cung per 2 hari.

Namun, tidak semua petani mengikuti gempita son dan cung. Banyak petani di Ciwidey ragu menanam son dan cung karena tidak mengetahui pasarnya. Pasar menjadi penting supaya petani tidak merugi ketika memanen muda. “Saat benih mahal sedangkan harga cung murah, pekebun justru rugi,” kata Achmad Fauzan SP, kepala Seksi Budidaya Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan Provinsi Jawa Tengah.

Harga bibit Rp10.000 per kg. Jika dari setiap kg bibit bawang merah dihasilkan 10 kg cung dengan harga jual Rp6.000 per kg, petani hanya mendapat omzet Rp60.000 dalam 36 hari atau laba Rp50.000, belum termasuk ongkos pemupukan dan tenaga kerja. Oleh karena itu menurut Achmad, petani di Pamekasan hanya menuai son dan cung pada saat pertumbuhan tanaman kurang bagus, misalnya terserang penyakit. “Itu pun sangat jarang sekali yang panen muda,” tambah Achmad.

Faktor lain penyebab son dan cung tidak berkembang karena serapan pasar yang terbatas. “Hanya sedikit saja orang yang tahu tentang son dan cung. Pemanfaatannya pun lebih banyak pada etnis Tionghoa,” kata Ude. Ceruk pasar itulah yang dimanfaatkan Ude dengan baik. Bagi Ude dan teman-teman panen bawang muda justru berlimpah laba. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Bondan Setyawan)

Keterangan Foto :

  1. Bawang cung banyak digunakan dalam kuliner Tiongkok
  2. Son (kiri) dan cung waktu panen lebih cepat
  3. Abdul Jafar Setiawan pemasok bawang son dan cung
  4. Ude Taryana, budidaya bawang son dan cung hemat biaya produksi hingga 40%
  5. Luasan penanaman son dan cung masih terbatas
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img