Wednesday, August 10, 2022

Chinchilla Ciamik dari Chili

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Chinchilla berwarna sapphire atau abu-abu standar pudar kebiruan. (Dok. Trubus)

Pehobi gandrung satwa berbulu paling halus.

Trubus — Tampang hewan itu seperti perpaduan kelinci, tupai, dan tikus. Ketika membelainya, kita merasakan kelembutan yang luar biasa. Itulah chincilla satwa dengan bulu paling lembut. Di antara hewan darat kepadatan rambut chincilla juga tertinggi, yakni 20.000 rambut per cm2. Pantas saja ahli zoologi asal Inggris Edward Turner Bennett pada 1829 memberi nama hewan itu chinchilla.

Sugita Yohanes Hermanto (kiri) dan rekannya Priya Satria Timur (kanan) mendatangkan chinchillachinchilla berkualitas kontes dari Kanada. (Dok. Trubus)

Nama itu pinjaman dari bahasa Quechua, bahasa penduduk tradisional di Pegunungan Andes, Peru. Nama chincilla berasal dari kata chin yang berarti diam, sinchi (kuat atau berani), dan lla (kecil). Nama latin si kecil yang kuat dan pendiam itu pun Chinchilla lanigera. Dalam bahasa Latin kata laniger bermakna wol. Bulu satwa anggota famili Chincillidae itu lazim untuk jas.

Punah

Kelebihan chinchilla sebagai satwa berbulu paling lembut justru mengancam jiwanya. Masyarakat banyak memburunya di alam liar untuk memperoleh bulunya. Habitat alami hewan pengerat itu di Chili di daerah pegunungan tandus, gersang, dan berbatu berketinggian 400 hingga 1.650 meter di atas permukaan laut. Itulah sebabnya chinchilla sempat dianggap punah pada 1950 akibat perburuan.

Chinchilla jenis standar dengan warna putih mosaic beige (atas) dan warna abu-abu standar (bawah). (Dok. Trubus)

Namun, pada 1978 chinchilla liar kembali ditemukan. Sejatinya Matthew Chapman dari Amerika Serikat berupaya mendomestikasi chinchilla pada 1923. Ia menangkap 12 chinchilla liar untuk mengembangbiakkannya menjadi hewan peliharaan yang bersih dan ramah. Kini beberapa pehobi di tanah air jatuh hati pada tampang chinchilla yang lucu. Chinchilla masuk ke Indonesia pada 2015.

Sugita Yohanes Hermanto dan Priya Satria Timur, misalnya, memelihara 6 chincihilla. “Chinchilla merupakan hewan eksotis yang merupakan kegemaran saya. Selain itu dari segi ekonomi, beternak chinchilla menguntungkan,” kata Satria. Para pehobi jatuh hati pada chinchilla juga karena hewan yang akrobatik dan mudah dilatih. “Awalnya chinchilla lebih susah didekati jika dibandingkan dengan kelinci. Namun, jika sudah berhasil terikat, chinchilla bisa sedekat sugar glider. Bahkan akan mengikuti kalau kita berjalan,” ujar Hermanto.

Bulu yang sengaja dilepaskan chinchilla ketika merasa takut, terancam, atau stres. (Dok. Trubus)

Satria yang acap mengajak bermain chinchilla mengatakan, “Jika sudah nyaman dengan kita, mereka bahkan bisa melompat ke arah kita.” Bobot tubuh chinchilla dewasa 500—800 gram per ekor. Adapun panjang tubuh mencapai 26 cm, tidak termasuk ekor. Menurut Hermanto chinchilla peliharaan dan berkualitas kontes berbeda ukuran tubuh, bentuk moncong, dan kondisi bulu.

“Chinchilla peliharaan berukuran lebih kecil, moncong lebih panjang seperti tikus, dan bulu lebih renggang. Ukuran chinchilla kontes lebih besar, moncong lebih membulat, dan bulu seperti karpet karena sangat rapat,” kata Hermanto. Keruan saja harga kedua jenis kategori chinchilla berbeda. Harga chinchilla peliharaan Rp6 juta—Rp8 juta, sedangkan chinchilla kontes Rp9 juta.

Warna bulu

Berguling-guling di atas abu vulkanik modifikasi adalah cara chinchilla untuk mandi. (Dok. Trubus)

Kerabat Chinchilla brevicaudata itu dikategorikan dalam tiga jenis berdasarkan karakter bulu. Chinchilla standar memiliki bulu mirip chinchilla liar. Chinchilla royal persian angora memiliki bulu sedikit lebih panjang ketimbang chinchilla standar khususnya di bagian antara kedua telinga sehingga terlihat seperti berjambul. Chinchilla locken memiliki bulu keriting di sekujur tubuh.

Warna bulu chinchilla asli disebut abu-abu standar. Ciri-ciri bulu itu berwarna abu-abu kebiruan atau keperakan di bagian atas tubuh, dan putih kekuningan di bagian bawah tubuh. Selain itu ada violet atau abu-abu standar pudar keunguan, sapphire (abu-abu standar pudar kebiruan), black velvet (warna abu-abu standar di bagian kepala sampai ujung ekor dan abu-abu muda di bagian sisi tubuh). Adapun varian warna lain adalah ebony (hitam), beige (krem), putih, dan mosaic (belang lebih dari satu warna).

Menurut pengamatan Hermanto dan Satria pehobi chinchilla di Indonesia menyukai warna-warna cerah seperti violet, mosaic, dan beige. “Kalau seperti ebony, black velvet, dan standar itu mungkin terlalu mirip warna tikus ya, sehingga kurang diminati,” tutur Satria. Apa pun warnanya bulu chinchilla tetap paling halus di antara satwa klangenan lain. Itu antara lain yang membuat para pehobi jatuh hati pada satwa klangenan baru. (Tamara Yunike)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img